
Noah mengungkapkan lagi perasaannya dengan jelas dan lugas. “Aku mencintaimu."
"B-benarkah?" tanya Yora ragu dan gugup.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja. Aku ini sudah lama mencintaimu, Yora."
Yora terdiam. "Bolehkah, aku menerima cinta Kak Noah dengan perasaanku yang masih tersisa sedikit untuk Kak Aksa?" ungkap Yora jujur. Noah tahu itu. Namun dia menganggukkan kepala tanda setuju. Dia siap tentang ini. "Kak Noah sungguh baik," kata Yora tanpa sadar meneteskan air mata. Noah meraih bahu Yora dan merapatkan pada tubuhnya. Ia memeluk gadis ini.
...***...
Beberapa hari setelah acara makan malam itu.
Kakek menaikkan kacamata bacanya. Malam ini beliau sedang membaca di perpustakaan di dalam rumah.
Tok! Tok!
Kakek menoleh pada pintu yang di ketuk. Kemudian muncul tubuh tinggi cucunya, Aksa.
"Kakek mencariku?" tanya pria ini dengan senyuman di bibirnya.
"Ya Aksa. Ayo masuk." Kakek menyuruh cucunya masuk. Aksa baru saja pulang karena ia masih kencan dengan gadis kesayangannya. Kakinya berjalan mendekat ke kursi kakek. Aksa hanya melihat-lihat saja tanpa mencoba membaca.
"Ada apa Kakek mencari ku?" tanya Aksa langsung saat sudah meletakkan pantatnya di atas sofa.
"Tidak ada hal penting. Hanya ingin mendengar bagaimana hubunganmu dengan Yora," kata kakek membetulkan letak kaca mata. Beliau masih memegang buku yang di baca saat bertanya pada cucunya.
"Baik. Hubungan kita baik."
"Sebentar lagi kakek akan menikahkan kalian berdua."
"Apa? Menikah?" tanya Aksa sangat terkejut. Ini di luar perkiraannya.
"Ya. Tujuan dari perjodohan ini adalah menikah. Jadi menunggu apalagi, Aksa? Kakek akan segera menikahkan kalian."
"Tunggu Kakek. Bukannya Yora masih sekolah? Lagipula aku ..."
"Apa kamu masih dengan perempuan itu. Desainer yang di bicarakan orang-orang?" potong Kakek masih tidak menoleh pada Aksa. Beliau masih menekuni buku yang di pegang. Namun aura di sekitar mulai berat. Itu artinya Kakek sedang menahan amarah.
"Tentu tidak Kakek."
"Lalu dengan siapa lagi sekarang?" Kali ini beliau menatap cucunya. Aksa diam.
__ADS_1
"Jika aku memilih dengan wanita lain, apa kakek mengijinkan?" tanya Aksa berani. Kali ini kakek yang diam. Lalu kakek menoleh pada pria ini.
"Jadi kamu ingin menolak perjodohan yang kakek siapkan untukmu, hah?!" tegur Kakek marah.
"Sejak awal aku sudah menunjukkan pada Kakek, kalau aku tidak ingin di jodohkan. Bahkan kakek tahu kalau aku bersama Tiara. Namun kakek bersikeras untuk menjodohkan," kata Aksa mulai gusar.
"Jadi kamu lebih memilih dengan desainer yang kurang sopan itu, daripada dengan gadis lugu seperti putri keluarga Wijaya?!" tanya Kakek marah.
"Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan Tiara, Kakek. Tidak!"
“Lalu apa, bocah nakal?!” Kakek tidak bisa di bantah. Aksa diam sejenak. "Apa hebatnya putri keluarga Wijaya? Bukannya dia hanya berwajah mirip dengan nenek? Kalau hanya itu, aku juga bisa membawa seorang gadis yang mirip dengan nenek," kata Aksa seperti sebuah janji.
"Apa yang kamu katakan? Kamu ingin mengganti Yora dengan gadis lain?" desis kakek mengernyitkan keningnya yang sudah keriput.
"Ya," sahut Aksa tegas.
"Apa yang sedang terjadi padamu? Memberontak? Membangkang?"
"Aku hanya ingin memperjuangkan cinta," sahut Aksa segera membuat kakek diam.
"Kamu yang seperti itu tahu apa soal cinta. Pergi ke sana kemari berganti wanita. Kamu pikir kakek tidak tahu?!" kata Kakek marah.
"Kakek memberikan perjodohan ini karena ingin kamu berubah. Ingin menghentikan mu! Kakek tidak ingin seperti papamu yang membuat mama kamu tersakiti. Kakek ini tidak mau hal yang seperti itu terulang lagi," kata Kakek dengan emosi memuncak.
"Kalau ingin aku berubah bukan begini caranya. Karena itu makin membuatku ingin ke satu wanita ke wanita yang lain. Aku ini tidak mencintai Yora, Kakek," ungkap Aksa.
...***...
Lisa tidak pernah berpikir bahwa ia akan di hadapkan pada pertemuan seperti ini. Saat pulang sekolah. Seorang berpakaian hitam dan rapi mendekatinya.
“Nona Lisa?” tanya pria dengan jas rapi itu.
“Ya. Ada apa?” tanya Lisa waspada.
“Tuan Candika ingin bicara.”
“Candika?” Lisa hapal sekali dengan nama itu. Itu nama keluarga Aksa. Bola matanya melihat ke arah mobil yang terparkir di dekat mereka.
“Benar. Silakan ikut kami karena Presdir ada di dalam mobil.”
Lisa diam karena ragu. Dia bisa terus saja berjalan tanpa peduli pada panggilan kakek. Namun itu akan terlihat tidak sopan.
__ADS_1
Pintu mobil terbuka setelah Pak Aknam membuka pintunya. Sepertinya kakek Candika memilih keluar daripada berada di dalam mobil. Lisa menelan salivanya sendiri. Tubuh kakek yang mulai sedikit membungkuk dan ditopang oleh tongkat itu tetap membuatnya tegang.
Dugaannya benar. Kakek sedang melihat ke arahnya. Presdir itu tengah memindainya. Lisa perlu menelan salivanya sekali lagi. Tanpa suara, sorot mata kakek yang tajam mampu membuatnya tidak bisa bergerak.
Di temani Pak Aknam si sampingnya, beliau menghampiri Lisa. Gadis ini mencengkeram kuat tali tas ranselnya. Berusaha bersikap biasa saja tapi tetap tidak bisa. Ia tegang, terdesak dan takut. Ia sadar betul kalau kakek tua ini bukan lawan sembarangan.
“Selamat siang,” sapa kakek Candika sambil tersenyum ramah.
“S-selamat siang,” sahut Lisa gugup.
“Kita berjumpa lagi,” ujar kakek menyebut pertemuan mereka pertama kali di rumah sakit.
“Iya,” sahut Lisa masih di liputi rasa tegang yang tidak kunjung menghilang.
“Kakek ingin bicara dengan Lisa, apa bisa?” tanya kakek sambil tersenyum. Lisa tahu ini pasti soal Aksa. Karena tidak ada hal apapun yang bisa di kaitkan dengan dirinya kecuali soal Aksa. Dengan Tuan Candika menyebut namanya, ia sudah paham kalau kakek pasti sudah mencari informasi tentangnya tanpa sepengetahuan Aksa. Lisa yakin itu.
“Ya. Kakek bisa bicara.”
...***...
Lisa terdiam di kursinya. Dia menunggu di hakimi oleh orang kaya pemilik perusahaan Candika.
“Karena kamu tidak menolak, kakek yakin kamu tahu apa yang akan kakek bicarakan,” ujar Kakek. Setelah menyelesaikan makan, beliau langsung bicara hal serius. “Jadi kamu adalah kekasih Aksa?”
Lisa menelan salivanya berkali-kali. “Ya.” Akhirnya keluar jawaban dari bibir gadis ini.
“Kamu tahu siapa Aksa? Dia cucu kakek yang waktu itu ingin kakek kenalkan padamu. Entah takdir atau bukan, kalian bertemu. Lalu sekarang jadi sepasang kekasih. Padahal aku belum berhasil mengenalkan kalian berdua."
Lisa perlu lega karena kakek tidak tahu soal penyamarannya. Namun apakah itu benar?
“Kakek pernah bilang wajah kamu mirip dengan wajah nenek Aksa yang sudah meninggal lebih dulu. Kakek tidak berbohong soal itu.”
Lisa membenarkan itu karena dia sudah tahu sebelum hari ini tiba. Namun ia harus bungkam.
“Kamu memang mirip. Namun kakek belum bilang padamu, kalau ada lagi seorang gadis yang mirip dengan nenek. Itu berarti wajahnya juga mirip denganmu."
Lisa masih bungkam.
“Kakek masih belum tahu kenapa kalian bisa bertemu. Namun perlu kamu tahu bahwa ... Aksa sudah di jodohkan dengan gadis lain. Ya, dia mirip dengan istriku. Namun harus di tekankan, Ini bukan lagi soal mirip dengan istriku. Soal itu mungkin hanya tambahan. Yora yang harus menjadi pengantin Aksalah yang terpenting.”
..._______...
__ADS_1