
Yora naik ke lantai atas. Ia melihat ke kanan dan kiri. Saat itu kakinya berdiri di depan pintu ruangan Noah. Yora diam seraya memandang pintu itu. Rasa ragu kembali melingkupinya. Lalu ia melongok ke pintu ruangan Aksa. Lalu menggelengkan kepala.
"Tidak, tidak. Hhh ... Apa benar begini?" tanya Yora lagi gamang. Ia celingukan ke kanan dan kiri lagi. Apa dia takut Aksa muncul. "Oke. Enggak apa-apa." Yora mulai yakin dengan keputusannya.
"Yora," kata sebuah suara membuat tangannya yang akan mengetuk pintu, mengambang. Lalu dia menoleh ke asal suara. Itu Noah.
"Oh, Kak Noah." Ternyata Noah tidak ada di dalam.
"Kamu di sini? Sejak kapan?" tanya Noah seraya mendekat. Noah memegang pegangan pintu dan membukanya.
Bola mata gadis ini melirik ke samping karena bingung. "Eee ... Barusan."
"Mau masuk dulu?" tawar Noah. Ia tidak berharap banyak. Hanya basa-basi. Di luar dugaan, kepala Yora mengangguk. Ini membuat pria ini melebarkan mata. "Oh, kamu mau ke ruanganku. Masuklah." Suara Noah terdengar begitu gembira. Yora mengikuti Noah dari belakang.
"Ayo silakan duduk. Aksa ada di ruangannya." Noah memberi tahu.
"Aku ... Aku bukan mencari Kak Aksa."
__ADS_1
"Oh, ya? Lalu ada urusan apa? Apa kamu ada janji dengan kakek?" tanya Noah lebih penasaran. Karena ia sudah terbiasa saat gadis ini mencari Aksa. Namun sekarang Yora bukan sedang mencari sepupunya itu. "Apa ... pernikahan kalian makin dekat?" tanya Noah berusaha terlihat tenang. Padahal ia langsung panik.
"B-bukan. Aku masih sekolah. Mungkin tidak secepat itu," kata Yora pelan.
"Itu benar. Kalian tidak harus segera menikah meski sudah bertunangan. Kalian harus mencari kesenangan dulu sebelum menikah. Kamu kan gadis remaja." Noah sok-sokan memberi nasehat. Padahal ada niat terselubung untuk memberi pengaruh pada Yora untuk tidak cepat menikah. Dia masih belum sanggup untuk melihat mereka berdua menikah.
"Pulang sekolah kamu pasti lapar, Aksa juga belum makan siang. Kalian mungkin ada waktu untuk makan siang." Noah memberi ide yang akhirnya ia sesali sendiri. Karena jika itu terjadi, ia akan melihat mereka berduaan.
"Aku ke sini untuk mencari Kak Noah," ucap Yora membuat Noah yang tadinya memunggungi Yora membalikkan badan dengan terkejut.
"I-iya," sahut Yora sambil menunduk. Wajahnya agak memerah. Noah mengerjap tidak percaya. Yora sengaja datang ke perusahaan ini untuk mencari dirinya?
Noah memperhatikan Yora dengan seksama. Kemudian ia menghela napas pelan. Berjalan mendekati tempat duduk gadis itu dan tersenyum.
"Kamu pasti ingin bercerita soal Aksa. Oke. Aku akan mendengarkan." Noah siap jadi pendengar.
"A-aku bukan ingin cerita soal Kak Aksa. Aku ingin ngobrol dengan Kak Noah. Ngobrol tentang hal lain. B-bukan soal Kak Aksa. " Yora menyangkal kalimat Noah. Pria ini mengerjap.
__ADS_1
"Kamu tidak bercanda?" tanya Noah tidak percaya. Kepala Yora mengangguk pelan. Bibir Noah tersenyum. "Aku boleh tersenyum?" tanya Noah. Yora mengangguk. "Aku boleh tertawa?" Bola mata Yora mengerjap tidak mengerti. Namun ia mengangguk kemudian.
Noah tertawa. Ia bahagia. Yora yang melihat tingkah Noah bagai anak kecil pun tergelak pada akhirnya. Rasa canggung tadi perlahan lenyap.
"Noah, kamu di dalam?" Pintu terbuka bersamaan dengan kemunculan Aksa di ambang pintu. "Oh, tamu?" tanya Aksa yang tidak bisa langsung tahu karena ia hanya melihat punggung seorang gadis.
... ________...
__ADS_1