
Lisa sudah mandi dan makan. Ia tahu ibu akan mengajaknya bicara setelah ini. Dan dia yakin itu adalah soal Aksa. Meski sejak tadi menonton tv, Lisa tahu ibu menunggunya. Setelah menghela napas, gadis ini kemudian ikut duduk bergabung dengan ibu di depan tv.
"Sudah selesai makannya?" tanya ibu.
"Ya."
"Ibu mau bicara. Dengarkan ibu.
Lisa mengangguk.
"Ibu tahu kamu itu sudah besar. Kurang satu tahun lagi lulus sekolah. Mungkin sudah bisa ambil keputusan besar." Beliau menjeda kalimatnya. "Ibu tidak masalah kamu memilih pria dari golongan manapun. Yang penting adalah bertanggung jawab penuh pada kamu. Apa Aksa ini begitu? Mungkin soal keuangan dia sudah bisa di andalkan karena sepertinya dia punya pekerjaan penting. Namun soal keluarga, mereka orang kaya. Kamu tahu sendiri perbedaan mencolok dari itu. Apa keluarganya bisa menerima kamu apa adanya?"
"Kakek meminta aku menjauh dari Aksa?" tanya Lisa yang sudah berpikiran pasti kakek pelakunya.
"Tidak. Ibu kurang paham kedatangan kakek Aksa. Karena sepertinya beliau tidak mengerti tentang lamaran yang di katakan Aksa. Bagi ibu sebuah lamaran itu sudah sangat serius, tapi ... apakah itu semua sudah diketahui semua keluarganya? Ibu ragu kalau Aksa sudah mengenalkan kamu pada keluarganya."
Lisa menelan ludah. Dia memang belum di kenalkan dengan benar di depan keluarga Aksa, karena masalah penyamaran waktu itu. Itu termasuk masalah pelik. Meskipun sekarang sudah mulai jelas.
"Kenapa ibu tidak pernah menyuruhmu mencari pria kaya dan sebagainya itu, karena ibu takut mereka hanya baik di depan saja. Kita orang miskin Nak. Harus tahu diri."
Ibu pasti takut sekali.
"Mungkin banyak ibu gembira saat berada di posisi seperti ibu sekarang. Putrinya di dekati pria tampan dan kaya. Bahkan dilamar. Namun ibu sebaliknya. Ibu sangat cemas. Takut kamu kenapa-kenapa."
Lisa diam. Dia mengerti kecemasan ibu. Itu yang ia rasakan saat bersama Arka. Namun ia kembali menjadi bodoh saat bersama Aksa. Kata-kata dan janji manis Aksa memperdayainya.
**
Ini bukan hari Minggu, tapi tanggal merah. Jadi kantor libur.
Aksa langsung melesat ke rumah Lisa. Ia sengaja datang pagi karena ingin segera bertemu dengan gadis ini. Setelah kemarin tidak bisa kemana-mana karena urusan pekerjaan, Aksa bertekad untuk bertemu Lisa.
Hari libur seperti ini rupanya warung ibu juga tutup. Halaman paving pun lengang. Aska melihat ke kanan dan kiri. Tidak ada siapapun. Hanya jemuran berkibar yang ada karena angin pagi ini bertiup sepoi-sepoi.
Sejak kemarin, nomor kontak Lisa tidak bisa di hubungi. Entah ada apa dengan gadis itu. Aksa menyesal tidak punya nomor Giri, adik Lisa.
"Aksa," sapa perempuan dibelakangnya. Aksa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Bibi." Ternyata itu Bi sarah.
"Tumben pagi datang ke sini? Kalau orang yang enggak tahu, pasti mengira kamu memang orang sini. Ayo masuk," ajak Bi Sarah. "Tapi di dalam enggak ada orang."
"Lisa kemana, Bi?" Aksa kecewa.
"Entahlah. Sejak tadi dia sudah keluar."
Aksa melihat ke sekitar. Hhh ... dia menghela napas. Karena sudah terlanjur datang ke rumah ini, ia harus melakukan sesuatu.
"Aku bawakan belanjaannya ya, Bi," kata Aksa melihat Bi Sarah turun dari becak. Semua belanjaan masih ada di atas dudukan becak.
"Enggak usah. Kamu kan enggak pernah bawa barang-barang begini di rumah."
"Iya, tapi kalau melihat bibi gadis yang aku sukai sedang membawa barang berat, aku harus membantunya bukan?" tanya Aksa setengah bercanda.
Bi Sarah tertawa. "Hahaha ... Benar, benar. Harus begitu." Bi Sarah setuju juga pada akhirnya.
Aksa pun bersusah payah mengangkut belanjaan yang basah dan lengket itu. Karena ada ayam potong dan ikan laut mentah. Dia memang pernah tahu ikan laut dan ayam, tapi dalam keadaan hidup. Meksipun sudah mati, itu sudah melalui proses dalam memasak. Bukan bahan mentah seperti ini.
"Aku tahu, Bi. Aku datang untuk bertanya pada Lisa."
"Tanya ke Lisa? Tanya Apa?" Bi Sarah heran. "Sudah semua, Pak Anis! Terima kasih ..." Bi Sarah bicara pada tukang becak langganannya.
"Kakek bilang, ibu tidak menginginkan pernikahan. Apa itu benar?"
"Tidak menginginkan pernikahan?" tanya Bi Sarah lebih heran.
"Ya. Ada apa dengan Lisa? Mengapa saat aku sudah berniat ke jenjang serius, ibu tidak setuju?" Aksa mengatakannya dengan rasa tidak percaya.
"Tidak ada. Lisa baik-baik saja. Dan ibu Lisa ... setahuku juga tidak menolak kamu yang mendekati putrinya." Bi Sarah tahu benar soal itu.
"Lalu kenapa kakek bilang kalau keluarga Lisa tidak menginginkan pernikahan?" Karena alasan ini, Aksa melesat langsung ke rumah Lisa.
"Benarkah?" Bi Sarah mengerjapkan mata bingung. "Setahu bibi sih kakek kamu enggak bahas soal menikah. Mungkin pas mas tanya itu mungkin. Anu ... Itu bapaknya Lisa. Memang dia sempat tanya soal kamu yang melamar itu. Bapak Lisa pikir kakek datang karena ingin persoalan lamaran itu lebih serius. Ternyata bukan."
"Apa karena itu, ibu marah dan tidak setuju aku dan Lisa?" tanya Aksa panik.
__ADS_1
"Enggak, enggak. Sepertinya bukan. Ibu hanya cemas karena kalian itu jauh berbeda."
"Apanya yang berbeda?"
"Setiap orangtua itu punya kecemasan masing-masing Aksa. Termasuk tentang perbedaan status keluarga. Maklumlah dengan hal itu. Ini pertama kalinya Lisa di dekati oleh pria tampan dan sempurna seperti mu," ujar Bi Sarah seraya terkekeh. Aksa akhirnya tersenyum juga. Bi Sarah membuat suasana jadi ringan lagi. Namun di dalam hati ia masih cemas.
"Tidak Bi. Aku tidak sempurna. Hanya kelihatannya saja seperti itu. Sebenarnya aku jauh dari kata sempurna," kata Aksa yang tahu bahwa dia adalah pria yang buruk.
"Mana ada memang orang yang sempurna. Ayo di minum tehnya," ujar Bi Sarah yang sudah membuatkan pria ini teh hangat. Aksa menyeruput teh itu. "Lebih baik perkenalan Lisa pada semua keluargamu dulu. Yakinkan mereka. Baru setelah itu, mungkin kamu bisa meyakinkan ibu Lisa. Bibi rasa ibu Lisa hanya cemas."
"Jadi tidak ada yang tahu Lisa kemana?" tanya Aksa yang masih ingin tahu kemana gadis itu pergi.
"Benar. Bibi enggak tahu kemana itu anak."
"Handphonenya juga enggak bisa di hubungi." Aksa berkeluh kesah.
"Eh, kamu enggak tahu ya. Hp Lisa rusak," kata bibi.
Pantas saja aku tidak bisa menghubunginya.
**
Aksa pulang ke rumah dengan hasil nihil. Ia langsung meletakkan pantatnya di atas sofa . Lalu menyandarkan kepala dan memejamkan mata, guna menghempas lelah dan kecewa karena tidak bisa menemukan gadis itu.
Jika ponsel gadis itu rusak, apalagi yang harus dia lakukan?
"Oh, ya. Lisa suka main basket. Aku harus mencarinya di lapangan basket tempat dia suka main." Aksa beranjak dari sofa. Di ruang tamu, ia bertemu Noah.
"Aksa, kamu di sini?" tanya Noah heran.
"Ya."
"Aku pikir kamu pergi dengan kakek. Karena aku lihat Lisa dengan kakek tadi," kata Noah.
...______...
__ADS_1