
“Hei, kamu bilang kita berteman. Kenapa kamu bicara seperti itu?” desis Lisa protes. Ia jadi geregetan dengan Arka. Cowok ini tergelak. “Cih,” decak Lisa kesal karena dikerjai cowok ini.
Ternyata gelak tawa Arka mengusik meja sebelah. Itu meja trio sableng dan Sera.
“Baru kali ini lihat Arka ketawa lepas. Maksudnya setelah mereka putus,” ralat Aris.
“Iya. Mereka seperti mau balikan lagi,” ujar Nero malah bikin gosip. Sabo hanya melihat tanpa berkomentar karena Sera sudah melirik ke arahnya. Jadi tidak ikut-ikutan.
Namun bukan hanya mereka saja yang melihat keakraban Lisa dan Arka. Di luar pintu kantin, ada seseorang yang sedang melihat ke arah mereka. Dia Liliana. Sepertinya gadis ini melihat Arka yang sedang tertawa barusan.
...***...
Siang ini pulang sekolah. Liliana berjalan menyejajarkan dengan langkah Arka di depannya.
“Langsung pulang? Enggak bareng anak-anak?” tanya Lili. Arka melirik. Lalu melihat ke depan lagi.
“Ya. Kakek sudah kembali rumah. Beliau sudah sehat. Aku tidak boleh sembarangan kesana kemari. Mama akan kena marah,” kata Arka. Liliana mengangguk-anggukkan kepala.
“Apa kakek marah juga kalau kamu keluar denganku?” tanya Lili menyentuh dagunya.
__ADS_1
“Aku tidak ingin keluar denganmu. Jadi jangan membuat onar,” ujar Arka memberi peringatan.
“Tidak perlu keluar dari rumah. Aku bisa seharian di rumah kamu hanya untuk bicara denganmu.” Lili menunjuk lengan Arka. Cowok ini tidak peduli. “Jadi ... Kalian mulai berbaikan? Kamu dan Lisa.”
Bola mata cowok ini melirik. Lili sedang menatap lurus ke depan.
“Kita tidak pernah ada masalah serius. Jadi kita bukan sedang berbaikan,” kata Arka juga ikut melihat ke depan.
“Aku sedikit ... Aku melihat kalian berdua di kantin tadi.” Lili menoleh dan berwajah ceria. Arka melihat bola mata itu.
“Kenapa tidak mendekat?”
“Datangin saja. Lisa justru merasa nyaman saat kamu mendekat karena sejak tadi dia mengoceh takut kamu marah,” kata Arka. Mereka sudah tiba di tempat parkir. “Bukannya biasanya juga kamu mendekat tanpa peduli?”
"Iya juga." Liliana tertawa garing.
“Mau ikut?” tawar Arka.
“Kamu bilang, enggak mau kemana-mana dan langsung pulang ...,” protes Liliana.
__ADS_1
“Aku antar kamu sebentar. Lalu pulang ke rumah.”
“Benarkah? Wahh ... Ini hari apa?” tanya Liliana tiba-tiba.
“Hari ... Rabu.” Arka menyebut nama hari dengan heran.
“Salah. Ini hari keberuntunganku.” Liliana puas dan bangga mengatakan itu. Arka mendengus pelan melihat Liliana bersemangat lagi.
...***...
Masih dengan berseragam, Lisa melayani pembeli yang datang. Ia tidak kerja karena ada jatah kerja malam nanti. Siang ini warung ibu ramai. Bapak yang mulai bisa beraktifitas tampak duduk di sofa ruang tamu. Namun tidak boleh kerja berat.
“Es teh 4, es jeruk 3, dan jeruk anget 2,” kata ibu. Bi Sarah yang ada di lorong mengangguk. Lalu beliau menyebutkan pesanan pada Lisa. Soalnya beliau sedang memasak untuk pesanan nanti malam.
Dengan gerakan luwes dan cepat, Lisa menyiapkan minuman itu. Giri belum muncul. Anak itu mungkin sedang bermain di luar sana. Sedikit menghindari rutinitas warung yang seringkali ramai tidak terkira rupanya.
Setelah selesai membuat minuman yang di pesan tadi, Lisa membawanya minuman itu ke depan. Tidak semua. Karena ia tidak sanggup membawanya sekaligus. Jadi ia harus berulang kali ke depan ke belakang untuk membawakan minuman yang di pesan. Cukup melelahkan, tapi Lisa senang.
...___________...
__ADS_1