Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 37 Bertamu


__ADS_3


Porsche melaju pelan sore ini di halaman rumah keluarga Wijaya. Setelah bicara dengan Noah, Aksa bertandang ke rumah Yora. Ada nasehat dari kakek untuk lebih dekat dengan keluarga Wijaya. Namun ia datang bukan hanya karena ada nasehat dari kakek. Dia punya keperluan sendiri.


"Nyonya, ada tuan Aksa di depan." Maya memberitahu dengan panik pada nyonya Anne.


"Aksa? Kemana Lisa? Kemana anak itu?" Nyonya Anne langsung kebingungan mencari pemeran pengganti itu. "Kamu belum meneleponnya?" tanya perempuan ini berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Saya belum menghubungi karena panik Nyonya."


"Cepat kamu hubungi dia. Aku akan mencoba bicara dengan Aksa." Maya mengangguk. Nyonya berjalan ke ruang tamu untuk menemui Aksa. Meskipun hatinya senang Aksa mengunjungi rumahnya, tapi beliau juga tidak tenang karena Lisa yang menjadi pengganti putrinya tidak ada di sini.


"Oh, Aksa." Nyonya Anne tersenyum menyambut kedatangan calon menantu.


"Tante sehat?" tanya Aksa.


"Iya ... Tante sehat."


Manik mata Aksa beredar ke penjuru rumah. Ia sedang mencari Yora.


"Bisa bertemu dengan Yora?" tanya Aksa membuat nyonya Anne kebingungan.


"Emm Aksa ... dia sedang keluar." Bola mata nyonya Anne melihat ke arah lain. Itu pertanda beliau gugup karena berbohong.


"Sayang sekali, Tante. Padahal aku sedang ingin bertemu dan berbincang dengannya," kata Aksa lagi seraya tersenyum dan memasang wajah kecewa.


Nyonya Anne mengerjapkan mata merasa ada celah untuk putri palsunya lebih dekat dengan pria yang akan menjadi pewaris keluarga Candika setelah Adiwangsa.


Ini pertama kalinya Aksa berkunjung sendiri. Bahkan mengatakan ingin bertemu dengan putrinya. Dimana itu sangat langka karena biasanya Aksa memilih tetap bersenang-senang dengan para wanitanya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu." Maya muncul seraya mengangguk sopan pada Aksa. Pria itu tersenyum menanggapinya. "Nyonya ... ada telepon."


"Katakan aku masih ada tamu." Nyonya Anne tentu tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada Aksa jika memilih menerima telepon itu. Ia menolak. Aksa memperhatikan.


"Ini telepon sangat penting, Nyonya." Maya memberitahu beliau untuk menerimanya.


"Tapi aku sedang bicara dengan menantuku, Maya." Nyonya Anne sedikit geram. Maya melebarkan mata seperti sedang ingin mengatakan sesuatu. Aksa menyentuh dagunya seraya mengamati. Nyonya Anne awalnya menyipitkan mata jengkel, tapi kemudian dia paham akan sesuatu. "Oh, ya ... Aku ingat. Itu telepon penting, Maya." Kepala wanita ini mengangguk lega majikannya paham kode darinya. "Sebentar ya Aksa." Nyonya Anne pamit menerima telepon.


"Ya. Silakan."


Dengan terburu-buru nyonya Anne berjalan ke belakang di ikuti oleh Maya di belakangnya.


***


Lisa duduk di salah satu usaha milik Nyonya Anne. Cafe Strawberry. Ini sudah menjelang petang. Karena permintaan nyonya Anne, Lisa segera melesat ke cafe ini.


"Lisa, dimana kamu?" tanya Nyonya Anne di telepon.


"Aksa ingin bertemu. Temui dia di cafe Strawberry. Aku bilang kamu sedang melihat-lihat keadaan cafe."


Lisa sebenarnya ingin menolak. Karena ia sedang bersama Arka. Cowok itu latihan basket karena sebentar lagi ada event lomba.


Dia teringat saat Arka bertanya,


"Aksa? Kamu akan menemui dia?" tanya cowok itu saat dirinya berpamitan.


"Ya. Nyonya Anne ingin aku menemuinya." Lisa menggaruk tengkuknya merasa tidak enak.


"Jadi kamu akan sering hilang tiba-tiba seperti ini?"

__ADS_1


"Aku bukan menghilang," ralat Lisa. Arka tersenyum tipis.


"Aku tidak bisa mengantarmu."


"Tidak perlu. Biar aku naik ojek saja. Latihan yang baik, ya. Supaya jadi winner. Semangat!" Lisa dengan kaku memberi semangat. Kemudian melesat pergi. Arka hanya bisa melihat punggung itu dari kejauhan.


Lisa tidak sabar. Ia keluar cafe dan berdiri di depan dinding kaca dengan kesal. Melirik ke arah arloji di tangannya dan berdecak. Ponselnya berdering. Itu Giri. Tumben banget itu bocah bisa online tanpa jasa hotspotnya.


"Apa?"


"Hei, kemana aja? Anak-anak bilang kamu sudah pulang. Kenapa belum nongol di rumah?" Kentara sekali giri dongkol.


"Aku ada perlu."


"Lebih perlu mana, sama warung di rumah?"


"Apaan sih?"


"Bik Sarah nyuruh beliin ini itu yang aku enggak ngerti. Pulang deh sekarang. Bukannya nanti enggak ada jadwal nungguin bapak? Mending sekarang beliin kebutuhannya bi Sarah." Giri ngomel.


"Enggak bisa, Gi."


"Enggak bisa gimana? Kamu enggak kasihan sama bapak yang ada di rumah sakit?!" Giri makin ngomel.


"Kok jadi bawa bapak segala. Kirim via chat yang mau di beli, aku mau belikan semuanya setelah urusan selesai." Lisa mematikan ponselnya. "Kenapa jadi bilang enggak kasihan sama bapak segala. Emangnya selama ini yang bikin kesel bapak siapa? Ya kamu itu Giri." Lisa gantian ngomel ke ponselnya.


"Aku baru tahu kamu suka ngomel seperti itu," tegur seseorang. Lisa terkesiap. Dia sedikit hapal dengan suara itu. Aksa.


_____

__ADS_1


TUNANGAN PALSU


__ADS_2