Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 87 Kerja Sama


__ADS_3

Di kantor keesokan harinya.


 


Aksa menemui Noah di ruangannya. Dia ingin memberitahu pria ini soal gadis yang dicintainya. Soal Yora yang sudah bangun dari koma.


 


"Halo, Noah," sapa Aksa. Noah mendongak.


 


"Setelah kamu tidak pernah menghubungiku karena sibuk dengan gadismu, kini kenapa muncul lagi di sini?" sindir Noah. Aksa mendengus. Itu sindiran yang lucu menurutnya.


 


"Aku punya kabar baik untukmu," kata Aksa langsung saat sampai di dalam ruangan sepupunya. Dia duduk di sofa.


 


"Soal apa? Kamu sudah menyatakan perasaanmu pada Lisa?" tebak Noah asal. Ini membuat Aksa mendengus lagi.


 


"Apa yang kamu katakan?"


 


"Jangan berkilah. Kamu mulai tergila-gila dengan bocah itu," tuding Noah. Aksa terkekeh pada akhirnya.


 


"Jangan menyela saja. Aku akan bicarakan soal Yora," pungkas Aksa setelah menghapus wajah senang di wajahnya.


 


"Yora? Ada apa dengan dia?" tanya Noah antusias. "Bukannya Lisa adalah Yora? Jika kamu mau bicara soal Yora, bukan berarti kamu mau bicara soal Lisa?"


 


"Ternyata kamu juga tidak bergerak mencari keterangan soal keberadaan Yora rupanya," cibir Aksa. Noah menghela napas. "Yora sudah bangun dari koma. Bahkan dia sudah sembuh."


 


"Apa? Benarkah?" Noah terkejut bukan main. "Jadi sekarang kamu tidak lagi kencan dengan Lisa, tapi Yora asli?" Noah berusaha memperjelas. Aksa mengangguk. "Oh, syukurlah."


 


"Kenapa bahagia? Yora akan tetap jadi tunanganku, Noah. Jika gadis itu tetap memaksa seperti itu, aku akan benar-benar akan menikah dengan Yora karena persetujuan kakek." Aksa membicarakan inti dari kalimatnya.


 


"Jangan salah. Aku tetap tidak suka jika kalian tetap bertunangan, tapi aku senang dan lega karena dia sudah bangun dari koma. Itu artinya dia sehat," sergah Noah. Aksa menghela napas panjang. "Kamu yang terdengar justru tidak bahagia," kata Noah yang menemukan jejak kemuraman di sana.


 


"Tentu saja. Ini akan makin sulit seperti di awal. Dimana yang aku hadapi adalah orang yang tidak membuatku tertarik sama sekali." Aksa mengeluh.


 


"Kamu bisa melakukannya seperti di awal kamu di jodohkan. Sejak awal kamu melakukannya meskipun tidak setuju dan tidak mencintai Yora, bukan?" kata Noah benar. Karena sejak awal menjalani perjodohan ini, Aksa tahu bagaimana keadaan hatinya. Namun dia mampu menjalaninya dengan baik. Kenapa sekarang merasa berat?


 


"Ada yang harus aku lakukan. Jadi aku tidak punya banyak waktu bermain-main dengan Yora," kata Aksa tidak membuka alasan apa itu. Namun Noah tidak perlu berpikir banyak. Itu pasti soal Lisa.


 


...***...


 


Di pusat perbelanjaan di jalanan dekat mal keluaran Candika siang ini.


 


Arka pulang sekolah dengan Lisa. Kencan sepulang sekolah memang paling menyenangkan. Apalagi Lisa terbebas dari soal tugas itu. Tugas konyol menjadi Yora. Dia bebas kemana saja tanpa takut Aksa memaksanya datang menemuinya.


 

__ADS_1


"Ada hal yang membahagiakan?" tanya Arka yang masih belum tahu kalau Lisa terbebas dari sandiwara itu. Lisa memang belum memberitahu.


 


"Tugasku sudah selesai," kata Lisa.


 


"Tugas? Pekerjaan dari sekolah?" tebak Arka. Lisa menggeleng.


 


"Bukan, tapi tugas menjadi Yora."


 


"Aku tidak paham," kata Arka sambil mengerutkan kening.


 


"Tugasku menjadi tunangan Aksa sudah selesai. Nayora asli sudah bangun dari koma. Aku bisa bebas menjadi diriku sendiri. Kontrakku dengan nyonya Anne putus."


 


"Benarkah?" tanya Arka surprise. Kepala Lisa mengangguk. Arka langsung mengacak-ngacak rambut gadis ini dengan gemas. Lisa tertawa senang. Namun di dalam hati Arka, dia sempat berpikir juga soal saudara tirinya itu.


 


Lalu bagaimana dengan Aksa? Apakah nantinya dia akan benar-benar menikah dengan Yora?


 


Saat itu, Liliana tengah melintas dengan mobil keluarganya. Merasa melihat Arka, dia ingin memastikan.


 


"Pak, berhenti dulu," pinta Liliana pada sopir. Ia mencoba memperhatikan cowok itu. Bola matanya menyipit. Ia kembali di perlihatkan soal Arka dan gadis itu. "Apakah itu bukan Yora? Mereka mirip. Sepertinya Tante Anggita tidak tahu bahwa Arka punya kekasih."


 


...***...


 


 


"Liliana?" tanya Aksa terkejut, saat seorang bawahannya memberi tahu bahwa ada yang mencarinya. Dan yang mengejutkannya saat bawahannya menyebut nama itu.


 


"Siapa?" tanya Noah.


 


"Tunangan Arka."


 


"Tunangan Arka? Bukannya Arka sama Lisa?" tanya Noah heran. Dia belum mendengar soal perjodohan itu rupanya.


 


"Tidak ada yang bisa memilih pasangan sendiri dalam keluarga Candika, Noah. Mungkin sebentar lagi giliran kamu," kata Aksa. Noah berdecak pelan. Ia juga tidak setuju soal perjodohan yang memusingkan itu. "Aku pergi menemui gadis itu dulu."


 


"Sepertinya di sekitar mu kini lebih banyak seorang gadis daripada perempuan dewasa," ledek Noah. Aksa mendengus pelan sambil berlalu keluar ruangan.


 


Aksa melihat Liliana di lorong.


 


"Sepertinya kamu baru pulang sekolah. Ada apa mencariku?" tanya Aksa tanpa basa-basi. Liliana menoleh dan tersenyum. Gadis ini masih berseragam.


 


"Selamat siang, Kak Aksa. Aku hanya ingin berbincang."

__ADS_1


 


"Tidak mungkin kamu berniat hanya berbincang denganku. Pasti ada hal penting lainnya. Apakah soal Arka?" tanya Aksa yang menduga gadis ini muncul bukan tanpa alasan.


 


"Ya. Aku ingin bicara soal Arka."


 


Aksa melirik ke arah gadis ini sebentar.


 


"Sudah aku duga. Masuklah." Aksa mempersilakan gadis ini masuk. Liliana pun duduk di sofa. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"


 


"Soal gadis yang bersama Arka. Aku yakin Kak Aksa tahu. Gadis yang aku pikir mirip dengan tunangan kak Aksa."


 


Itu pasti Lisa.


 


"Ada apa dengan gadis itu? Aku rasa kamu sudah tahu soal dia karena kamu tidak akan diam saja saat melihat Arka dengan gadis lain."


 


"Belum. Aku ingin tahu dari Kak Aksa. Apa benar itu kekasih Arka?"


 


"Sepertinya itu bisa kamu tanyakan sendiri ke Arka,” jawab Aksa.


 


"Tidak bisa. Arka pasti mengelak,” kata Liliana. Namun menurut Aksa, bocah itu tidak akan mengelak. Dia akan dengan tegas mengatakan bahwa Lisa adalah gadis spesial. Jika Arka memikirkan lagi soal mamanya, tentu ia menyangkal.


 


"Lalu, apa yang kamu harapkan dariku?" tanya Aksa sambil menopang dagu dengan tangannya. "Sepertinya kamu salah tempat jika bicara soal itu denganku."


 


"Aku ingin gadis itu menjauh dari Arka. Mungkin bisa langsung berguna jika aku bicara langsung pada papa mamaku atau tante Anggita, tapi aku ingin berusaha sendiri dulu,” tegas Liliana. Gadis ini sangat berterus terang.


 


"Lalu, kenapa datang padaku?" tanya Aksa menyepelekan.


 


Liliana tertawa pelan. "Sebenarnya aku tidak tahu, tapi aku yakin niatku ini akan membawa keberuntungan untuk Kak Aksa," kata Liliana yang yakin Aksa dekat dengan kekasih Arka.


 


"Sepertinya kamu pikir bisa membodohi aku. Jangan banyak berharap." Aksa menjauhkan tubuhnya dari meja dan bersandar pada kursi kerjanya.


 


"Tidak. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tentu aku tidak berani seperti itu, Kak Aksa. Aku hanya ingin bertanya siapa gadis yang tengah dekat dengan Arka sekarang," kata Liliana. Aksa diam. Dia yakin itu ide menarik. Jika Liliana bisa membuat mereka berpisah, itu berarti dia punya kesempatan.


 


Ternyata Aksa memilih memberitahu siapa Lisa.


 


“Namun perlu kamu tahu Liliana. Kamu boleh membuat mereka berpisah karena kamu menginginkan Arka, tapi ingat ... Jangan melukai gadis itu. Aku tidak akan segan-segan melakukan sesuatu jika kamu melakukannya,” desis Aksa. Liliana tersenyum.


 


“Aku tahu Kak Aksa pasti akan membantuku. Terima kasih.” Liliana senang. Namun Aksa jadi gelisah.


...____...


__ADS_1


__ADS_2