Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 85 Posisi kita sama


__ADS_3

"Maaf jika membuatmu sedih, tapi aku mengatakan hal yang benar." Aksa melihat gadis ini berwajah muram. Sejenak Lisa terdiam.


 


"Jika Arka masih bisa bersikap sabar saat aku denganmu, apa aku bisa sekuat Arka saat dia bersama tunangannya?" gumam Lisa. Aksa menatap Lisa yang menggigit ujung jarinya gelisah.


 


...***...


 


Arka langsung memberi klarifikasi saat mereka bertemu dengan Lisa di sekolah.


 


"Aku bisa jelaskan tentang tadi malam, Lisa," ujar Arka saat mereka bertemu di lorong sekolah. "Itu bukan inginku. Aku sudah menolak. Namun mama terus saja mendesak. Aku tidak peduli soal tunangan dan semacam itu.”


 


Sera melirik ke Lisa yang diam saja. Sesungguhnya Sera tidak mengerti apa sebenarnya terjadi pada mereka berdua.


 


"Aku mengerti Arka. Jadi tidak perlu menjelaskan apa-apa," kata Lisa setelah diam sejenak. Ia mencoba mengerti.


 


"Tidak. Kamu pasti marah. Aku tahu itu." Arka tidak percaya begitu saja. Sera menggeser tubuhnya, lalu akhirnya menjauh dari sisi Lisa. Dia tidak sepantasnya berada di antara mereka yang sedang membicarakan hal penting. Dia tahu diri.


 


"Aku tidak mungkin marah, Arka. Kenapa? Kamu tahu sendiri posisi aku. Aku juga sama denganmu. Meski bersandiwara, aku juga tengah bersama Aksa," ujar Lisa menjelaskan.


 


"Jadi kamu tidak marah? Katakan dengan jujur, Lisa," tanya Arka menegaskan sekali lagi. Cowok ini mendesak. Lisa menipiskan bibir dan menghela napas.


 


"Jika kamu ingin mendapat jawaban jujur, oke. Aku akan katakan Arka. Tidak mungkin aku tidak marah. Aku marah. Sangat." Raut wajah Lisa sekarang adalah ekspresi marah yang jujur. "Namun, aku yakin kamu juga seringkali marah dengan sandiwara konyol aku dan Aksa. Kamu masih tetap menerima ku. Jadi aku akan coba melakukan seperti yang kamu lakukan. Aku berusaha mengerti. Sudah?" tanya Lisa sambil berdecak kesal.


 


"Ya. Terima kasih." Arka lega. Ia mengusap kepala Lisa dengan gemas.


 


Jangan berterima kasih. Karena yang harus berterima kasih adalah aku. Dengan kamu menjelaskan ini semua padaku, itu artinya kamu peduli padaku. Kamu memilih aku untuk jadi cewek kamu. Tapi ...


 


Lisa tersenyum senang. Sera yang melihat itu mendengus lucu melihat tingkah Lisa yang sok imut.


 


"Kita kencan nanti malam, Lis. Jadi tunggu aku ya?" ujar Arka di sela-sela dia yang sedang berjalan menjauh. Kepala Lisa mengangguk.


 


"Kalian ada masalah apa?" tanya Sera yang mendekat.


 


"Dia di jodohkan," kata Lisa. Dia mengaku.


 


"Di jodohkan? Seperti kamu dan Aksa?"

__ADS_1


 


"Aku dan dia itu palsu. Bukan benar-benar di jodohkan. Aku hanya pengganti," jelas Lisa. "Kalau Arka memang benar-benar di jodohkan dengan putri pengusaha yang lain."


 


"Lalu kamu?"


 


"Aku mencoba tenang, walau sebenarnya aku sadar, kalau aku tidak punya kesempatan masuk dalam keluarga kaya seperti mereka. Ya ... ternyata Arka yang misterius itu adalah anak orang kaya. Aku yang awalnya merasa biasa-biasa saja dengan hal itu, sekarang sedikit merasa bodoh. Ternyata di dalam kehidupan orang kaya, ada yang namanya perjodohan yang wajib di lakukan. Aku yang kecil ini sepertinya tidak tahu diri."


 


"Arka tapi tetap sayang sama kamu, kan?" Sera berusaha cari penyemangat untuk gadis ini. Lisa melebarkan senyum. Itu bukan sebuah jawaban.


 


...***...


 


Sudah sejak tadi Aksa menelepon Lisa. Namun gadis itu tidak segera mengangkat ponselnya. Akhirnya Aksa tidak meneruskan usahanya menelepon gadis itu. Dia pikir, Lisa sudah tidur atau sibuk membantu keluarganya di dapur. Karena ia dengar dari Allen, Arka sedang ada kencan.


 


Awalnya ia pikir Arka kencan dengan gadis yang di jodohkan dengannya. Namun ia terkejut saat melihat gadis itu muncul di halaman rumah saat Aksa hendak keluar.


 


"Aku pikir kamu sedang ada kencan dengan Arka."


 


"Aku? Itu mustahil. Arka menolak ku mentah-mentah, Kak. Jadi tidak mungkin dia mengajakku kencan, kecuali dia punya maksud tertentu," ujar Liliana jujur. Dia menertawakan tebakan Aksa.


 


 


"Oh, iya. Lebih baik kamu masuk saja ke dalam dan ngobrol dengan mama. Mungkin jika mama tahu kamu datang, Arka akan muncul dengan tergesa-gesa," kata Aksa seperti sedang merencanakan sesuatu.


 


"Wow. Itu ajaib."


 


"Aku pergi."


 


"Apa kak Aksa tahu, kalau Arka seringkali melihat ke arah tunangan Kak Aksa?" tanya Liliana mengejutkan. Aksa yang hendak langsung masuk ke dalam mobilnya, urung. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap gadis itu.


 


"Apa maksudmu?" tanya Aksa.


 


"Arka selalu melihat ke arah Kak Yora saat di meja makan waktu itu," ungkap Liliana dengan tenang.


 


"Mereka memang saling kenal," ujar Aksa.


 


"Apa hanya aku, yang pernah melihat kak Yora di tempat lain selain menjadi tunangan Kak Aksa?" tanya Liliana yang mengisyaratkan sesuatu. Aksa diam sambil melihat gadis ini. "Melihat reaksi Kak Aksa yang biasa saja, sepertinya kakak tahu kalau Kak Yora dan Arka sempat ada sesuatu." Liliana mengambil kesimpulan ini, karena ia pernah bertamu dengan Lisa dan Arka di mall itu.

__ADS_1


 


"Aku tidak tahu." Aksa mulai paham bahwa gadis ini pernah menjumpai Lisa dan Arka berdua. Dimana Lisa menjadi dirinya sendiri.


"Aku ada perlu. Jadi tidak bisa bicara panjang lagi denganmu," potong Aksa. Dia ingin segera pergi dan mencari kemana gadis itu sekarang.


 


Saat tangannya membuka pintu mobil, tiba-tiba ia berhenti. Ada hal janggal yang sedang terjadi sekarang ini.


 


"Tunggu. Kenapa aku ingin tahu kemana Lisa sekarang? Bukankah itu sangat-sangat tidak punya pekerjaan?" gumam Aksa merasa dirinya seperti orang bodoh.


 


...***...


 


Di saat Lisa sudah terbiasa dan bahkan bisa dengan santai menjadi Yora, Nyonya Anne sedang melakukan sesuatu di rumah sakit di luar negeri. Beliau tengah menunggu putrinya siuman.


 


Ya. Setelah berulang kali mencari rumah sakit yang mampu menyembuhkan putrinya, akhirnya nyonya Anne bisa melihat putrinya siuman. Sekarang ia tengah duduk di samping ranjang putrinya.


 


"Kamu sudah siuman, sayang?" tanya nyonya Anne setelah melihat putrinya membuka mata.


 


"Mama," kata Yora berkaca-kaca.


 


"Kamu masih ingat dengan mama ...," kata Nyonya Anne terharu. Seringkali saat seseorang bangun dari koma yang lama adalah mengalami perubahan. Bisa jadi hilang ingatan atau hal lain. Semua kekhawatiran nyonya Anne sirna. Kenyataannya Yora masih bisa mengingat dirinya.


 


Mereka berdua pun berpelukan.


 


"Akhirnya kamu bisa bangun, sayang ...," kata Nyonya Anne merasa sangat bahagia. Kepala gadis itu mengangguk dengan bercucuran air mata.


 


“Mama, bagaimana pertunanganku dengan Aksa?” tanya Yora.


 


Dia masih mengingat anak itu. Sungguh cinta yang kuat.


 


“Tenang sayang ... Kamu akan menjadi tunangan Aksa dengan sendirinya.”


 


“Kenapa bisa?” tanya Yora heran. Meskipun dia masih lemah, tapi terlihat sorot mata yang hidup di sana.


 


“Mama sudah membuat rencana terbaik untukmu. Setelah tubuhmu lebih baik, kamu akan pulang dan bertemu pria yang kamu cintai itu,” kata nyonya Anne mengelus kepala putrinya.


____


__ADS_1


__ADS_2