
"Lisa, ada tamu." Maya muncul di dapur dengan wajah tegang.
"Bukannya ada nyonya Anne? Aku sedang makan." Lisa datang ke rumah ini tepat setelah pulang sekolah. Jadi dia masih memakai seragam.
"Iya. Nyonya Anne sudah menemani tamunya, tapi ... sepertinya kamu harus keluar." Maya berbicara secara misterius. Lisa belum bisa langsung bisa mengartikan. Tangannya juga masih terus saja menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Dia teman Yora. Teman masa kecil." Dulu mereka bertetangga. Nyonya ingin kamu menemuinya." Lisa terkejut. Dia langsung minum.
"Gawat. Jika dia teman masa kecil, bukannya dia paham siapa Yora? K-kalau aku menemuinya, dia akan tahu kalau aku bukan dia." Lisa cemas.
"Ya, tapi nyonya tidak ingin siapapun tahu soal keadaan Yora yang sedang koma."
"Jadi aku harus temui orang itu?" tanya Lisa sambil mencomot udang tepung.
"Ya. Dia pria tampan."
"Oh cowok."
"Ya. Aku yakin kamu akan bisa bicara dengannya tanpa harus tertekan seperti Aksa. Karena dia juga baik." Maya memberi kata kunci.
"Nama. Siapa namanya? Aku tidak mau luput soal itu, Maya. Aksa saja terheran-heran saat aku tanya namanya."
"Noah. Dia pria baik dan lembut." Maya menjelaskan.
"Noah?" tanya Lisa merasa tidak asing. Maya mengangguk.
"Ya. Ayo. Kamu harus segera ganti baju dan temui dia." Maya menarik tangan Lisa untuk menjauh dari piring makannya.
__ADS_1
***
Meski merasa aneh memakai bando di atas kepalanya, Lisa patuh karena itu terlihat manis. Seperti kebiasaan gadis itu. Yora.
Langkah Lisa sedikit berat. Jika ia bersikap tenang saat menghadapi Aksa, entah kenapa sekarang ia mendadak tidak tenang. Terlihat nyonya Anne tersenyum saat ia muncul. Namun Lisa malah belum bisa melihat tamu itu. Dari sudut ini ia belum bisa menemukan sosok pria bernama Noah.
"Sayangg ... Kak Noah berkunjung. Kamu bisa temani dia mengobrol." Suara nyonya Anne terdengar samar-samar. Lisa tidak bisa jelas apa yang di katakan nyonya Anne barusan. Bola matanya terpusat pada pria yang duduk di sofa itu.
Dia?!
Betapa terkejutnya Lisa saat tahu tamu itu adalah teman masa kecil Sera.
Pria itu. Pria tampan itu.
Suara berdebar di dada Lisa mulai mengganggu. Tidak pernah di duganya pria ini adalah teman Yora. Maka dari itu hatinya tidak tenang sejak tadi. Itu firasat bahwa ia akan bertemu dengan orang yang pernah bertemu dengan dirinya dalam mode Lisa. Noah teman masa kecil Sera.
"Lama tidak bertemu, Yora." Suara pria itu terdengar lembut. Lisa sudah pernah mendengarnya.
"Ya." Lisa mencoba tetap tenang.
"Gimana kabarmu? Kamu terlihat pucat." Terdengar rasa khawatir yang tidak bisa di sembunyikan.
"Aku baik. Kak ..." Dengan terburu-buru, Lisa menambahkan embel-embel sebutan Kak si belakangnya. Ia sempat lupa tadi.
"Selamat atas pertunanganmu, Yora."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Kamu pasti sangat bahagia." Lisa membaca sorot mata sedih di balik pertanyaan barusan. Sesuai yang di katakan Sera. Pria ini menyukai teman masa kecilnya, Yora.
Lisa hanya menipiskan bibir dan mengangguk. Dia tidak berani banyak bicara.
"Aku tidak menyangka tunangan Aksa adalah kamu," lanjut Noah. Bola mata Lisa membelalak saat mendengar nama itu.
Aksa? Pria ini juga mengenal Aksa?! Aksa yang itu?
"Kamu juga mengenal dia?" tanya Lisa yang kemudian menyesal sudah bertanya. Karena wajah Noah heran mendengar Lisa bertanya.
"Tentu saja. Kamu ... tidak ingat?" tanya Noah sedikit menyelidiki.
"Oh, ada sedikit memori yang hilang saat aku koma." Lisa kembali mengatakan kalimat saktinya. Noah mengangguk, tapi kemudian berwajah cemas.
"Tapi kamu ingat aku bukan?" Noah berharap dengan cemas.
"Ya. Kamu Noah bukan?" Lisa temu tidak bisa lupa nama yang sudah ia rekam sejak bertemu di mall itu. Noah tersenyum.
"Syukurlah kamu masih ingat aku." Noah menghela napas lega. Lisa mengerjap. "Aku harap kamu selalu sehat dan bahagia, Yora." Terlihat sorot mata tulus di sana. Lisa jadi mengerti bahwa pria inilah yang benar-benar untuk Yora.
_____
TUNANGAN PALSU
__ADS_1