
Jantung Lisa makin berdetak kencang saat pintu kamar perawatan nyonya Anne ada di depan mata. Aksa yang berdiri dengan tubuhnya di belakang Lisa, mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Perlahan pintu itu terbuka separuh. Bahu Lisa tampak tegang saat Aksa membimbingnya masuk.
"Tenanglah ...," bisik Aksa. Lisa mencoba untuk menenangkan jantungnya. Pintu perlahan terbuka lebar. Tampak Yora dan Noah di samping nyonya Anne yang terbaring lemah.
"Oh, Lisa." Yora menoleh dan berdiri menyambutnya. Rasa tidak nyaman makin menyerang Lisa. "Kalian datang." Gadis itu tersenyum pada mereka berdua. Nyonya Anne yang membuka mata melihat ke arah keduanya. Namun entah mengapa Lisa merasa bola mata itu hanya tengah fokus ke arahnya.
"Saya dan Lisa datang, Tante." Aksa mengangguk sopan sambil terus membimbing Lisa menuju ranjang. Bibir nyonya Anne tersenyum lemah.
"Maaf aku langsung ke sini tanpa mengajak kalian." Noah yang ada di sisi ranjang yang lain bicara.
"Tidak masalah. Kita akan tetap datang meski kamu tidak mengajak," sahut Aksa. Noah mendengus dan tersenyum. "Bagaimana keadaan Anda, Nyonya?" tanya Aksa.
"Seperti yang kamu lihat. Keadaanku mulai membaik," jawab nyonya Anne masih dengan suara lemah dan lambat. Namun raut wajahnya terlihat sehat.
"Saya ikut senang mendengarnya." Aksa lega. Lisa masih tetap diam karena rasa tidak nyamannya. Aksa menepuk punggung gadis ini lembut sebagai tanda bahwa Lisa harus bicara.
"Ba ..."
"Kalian berkumpul di sini rupanya." Suara yang sarat dengan wibawa itu mengejutkan mereka. Mereka menoleh bersamaan. Ternyata itu kakek dan Pak Aknam. Lisa urung melanjutkan kata-katanya karena kedatangan kakek. Dia langsung membungkuk memberi hormat. Masih ada sisa rasa takut pada diri gadis ini. Tentu saja. Bukannya ia berbohong saat menjadi Yora di depan beliau?
Yora berdiri mempersilakan Kakek yang berjalan mendekat ke ranjang untuk melihat mamanya.
"Bagaimana keadaanmu, Anne?" tanya Kakek.
"Mulai membaik, Kakek ...," sahut nyonya Anne sambil tersenyum. Kepala kakek mengangguk-anggukkan kepala.
"Syukurlah. Jangan berpikiran macam-macam tentang apapun, Anne. Dengan begitu kesehatan kamu akan cepat pulih," nasehat kakek. "Sudah ada Noah yang akan menjaga putrimu. Jadi jangan khawatir."
Kepala Nyonya Anne mengangguk pelan. Sepertinya Yora belum mendapat informasi apapun kalau kakek menjodohkannya dengan Noah, hingga kedua orang itu terperanjat saat mendengar kakek mengatakannya. Juga ada rona tersipu di wajah mereka karena kalimat itu.
Jadi kakek setuju kalau Yora dan Noah, syukurlah ... batin Lisa.
Setelah mengatakan itu, kakek melirik pada Lisa. Aksa yang tahu, langsung mendekatkan tubuh Lisa padanya. Seakan ingin melindungi gadis ini dari kakeknya.
__ADS_1
Lisa yang terkejut langsung memelototi Aksa. Pria ini melepas tangannya. Kakek mendengus melihat itu.
"Baiklah, aku pergi. Jaga kesehatan Anne."
"Baik Kakek."
"Kakek ada keperluan lain di rumah sakit, jadi kakek akan pergi," pamit kakek.
"Kakek sakit?" tanya Aksa yang mendadak cemas. Noah pun merasakan hal yang sama.
"Bukan. Kakek bukan sakit," bantah kakek cepat. "Ini bukan soal kakek. Ini tentang pekerjaan."
"Syukurlah. Aku cemas kakek sakit lagi." Noah lega.
"Kamu tidak ingin kehilangan kakek karena kamu belum menikah?" kelakar Aksa. Noah menipiskan bibir.
"Tidak. Kakek tidak akan sakit lagi. Karena sudah ada pengganti vitamin di sini. Malaikat kakek. Kemungkinan kakek akan selalu sehat. Sudah kakek pergi. Ayo Aknam," ajak kakek. Pak Aknam mengangguk dan membuka pintu untuk beliau. Lalu mengikutinya dari belakang.
"Sepertinya kamu dan Yora yang menjadi penyemangat kakek. Wajah kalian yang mirip dengan nenek," jelas Aksa.
Noah tersenyum juga. "Ya. Kakek senang melihat itu," timpal Noah. Yora dan Lisa saling berpandangan.
"Sebelum itu, aku mau mengatakan sesuatu Tante," kata Aksa mengubah suasana tadi menjadi sedikit berat. Mereka semua melihat ke arah pria ini. "Maafkan atas semua yang telah terjadi. Maafkan aku yang sudah membuat Tante kecewa karena memutuskan ikatan pertunangan dengan Yora secara sepihak tanpa peduli dengan perasaannya," ungkap Aksa mengejutkan. Terutama Lisa. Gadis ini tidak menyangka Aksa akan melakukan itu.
Melihat ekspresi Noah dan Yora, mereka sama terkejutnya dengan Lisa.
"Semua yang terjadi tentang gagalnya ikatan pertunangan antara aku dan Yora, murni karena aku sendiri." Sepertinya Aksa ingin membangun opini bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan Lisa. Dia ingin gadis itu lepas dari rasa kecewa nyonya Anne.
"Kamu tidak ingin Tante marah pada Lisa ya?" kata nyonya Anne mengejutkan. Semua melihat ke arah perempuan yang terbaring lemah itu.
"Ya," sahut Aksa jujur. Lisa mengerjapkan mata melihat Aksa. Noah dan Yora pun tidak percaya Aksa akan jujur mengatakan semuanya.
"Karena kamu jadi berpaling padanya, Yora tersakiti." Nyonya Anne mengatakan itu dengan jujur pula.
__ADS_1
"Mama. Bukan seperti itu," kilah Yora mencoba membuat suasana di dalam ruang perawatan ini kembali tenang seperti tadi. Dia tidak ingin mama tersakiti lagi tentang hal itu. Yora menatap Aksa tajam. Dia tidak menyangka pria ini akan membuka perkara itu lagi.
"Tidak apa-apa, Yora." Aksa terima.
"Aksa. Kamu tidak dengar apa yang dikatakan kakek? Tante tidak boleh berpikir yang berat-berat," tegur Noah kesal. Aksa seperti tidak tahu diri.
Lisa pun mengepalkan tangan marah.
"Awalnya seperti itu, tapi melihat kalian semua terlihat bahagia satu sama lain, Tante merasa inilah yang terbaik," kata nyonya Anne yang langsung mampu meredakan amarah seluruh orang di dalam ruang ini.
"Mama ..." Yora memeluk mamanya. Mereka berpelukan sebentar.
"Maafkan atas semua hal yang sudah terjadi," tambah Aksa seraya membungkukkan badan. Lisa membeku. Begitu juga Noah dan Yora. Aksa tidak pernah sungguh-sungguh melakukan hal semacam ini demi wanita. Karena biasanya merekalah yang butuh Aksa.
"Ya. Mama tidak apa-apa, Yora. Melihat kamu yang lebih terlihat tenang dengan Noah berada di sampingmu, mama yakin kalau sepertinya kalian memang harus bersama."
Kata-kata nyonya Anne membuat Noah terharu. Apakah ini artinya dia direstui oleh mama Yora?
"Saya juga harus mengucapkan maaf, Nyonya. Saya ..."
"Tidak," potong Aksa cepat. "Semua kesalahan ini dariku. Jadi yang pantas meminta maaf adalah aku. Kamu jangan ikut-ikutan." Aksa tidak ingin Lisa melakukannya.
"Tapi ..."
"Sudah, sudah. Aku dan mama tidak menaruh dendam pada kamu, Lis. Karena itu tenanglah. Iya kan, Ma?" tanya Yora. Nyonya Anne tersenyum sependapat. Noah ikut tersenyum.
"Lihatlah. Mereka tidak pernah berpikiran buruk tentang mu yang sudah mencuri hatiku," kata Aksa masih sempat-sempatnya bercanda. Semuanya tertawa. Ini membuat Lisa melotot lagi. Namun berbeda dengan tadi. Kali ini dia bahagia. Sepertinya keadaan benar-benar damai.
"Terima kasih," ucap Lisa haru.
..._________...
__ADS_1