Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab.84 Kita pernah bertemu


__ADS_3

Aksa beruntung mendapatkan Yora? Itu sangat bohong. Pria ini membual. Lisa menipiskan bibir. Kala itu, dia melihat Liliana tengah melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Ada apa?


 


Arka memandang Lisa dari tempat duduknya, saat Aksa mengajak gadis itu menjauh dari meja makan. Makan malam sudah usai. Namun Arka enggan pergi karena itu berarti dia harus mengajak Liliana. Seperti yang di sarankan mama padanya.


 


“Aku rasa aku pernah bertemu gadis itu sebelum ke rumah ini. Apa aku salah?” gumam Liliana dengan gelas di tangannya. Dia menoleh pada Arka. Ternyata kalimat terakhir untuk dirinya.


 


“Aku tidak tahu,” jawab Arka tidak suka.


 


“Jadi ... sepertinya aku salah lihat,” kata Liliana. Arka tidak mengindahkan. Dia memilih minum segelas air dan berdiri.


 


“Acara makan malam sudah selesai. Kamu bisa pulang setelah ini,” usir Arka. Dia berani melakukan itu karena tidak ada mamanya di sana. Arka sengaja tidak pergi dari meja makan hanya untuk menenangkan diri. Namun ternyata gadis ini juga tetap di kursinya. Liliana tertawa.


 


“Sayangnya aku masih ingin di tempat ini,” kata Liliana menyebalkan. Arka berdiri. Liliana mengekor di belakangnya. “Sepertinya kamu lupa ya, kita pernah bertemu.” Liliana membuka rahasia.


 


“Aku tidak pernah bertemu denganmu,” sahut Arka enggan di ikuti gadis ini.


 


“Mungkin karena manik matamu tidak pernah melihat ke arahku. Seperti di meja makan tadi. Kamu selalu melihat ke arahnya. Gadis itu. Tunangan Kak Aksa,” tukas Liliana membuat Arka menoleh cepat ke arahnya. Melihat reaksi ini Liliana senang. “Aku sudah menduga reaksi mu seperti itu.”

__ADS_1


 


“Apa yang kamu bicarakan?” desis Arka.


 


“Aku sedang membicarakan gadis itu, Yora.” Meski ada senyum di bibirnya, Liliana serius mengatakannya. Arka menatap gadis di depannya. “Bukankah dia yang sedang bersama kamu di outlet itu?” tanya Liliana ingat. Namun Arka tidak ingat sama sekali. “Abaikan. Percuma aku mengingatkan. Aku hanya sebutir debu yang lewat. Hei, apa kita juga harus ke sana?” Liliana menunjuk ke arah Aksa dan Lisa yang berada di taman. Arka terdiam melihat mereka berdua.


 


“Tidak,” jawab Arka langsung pergi meninggalkan Liliana sendiri.


 


“Hei! Tunggu aku, Arka!” teriak Liliana.


 


 


“Sebenarnya kamu tahu kan, kalau Arka sebentar lagi punya tunangan?” tanya Lisa dengan masih tetap melihat ke arah Arka yang menjauh. Aksa diam tidak menjawab. “Hei, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” Sekarang Lisa menoleh pada Aksa yang sedang membuka melempari kolam dengan makanan ikan.


 


“Apa?” tanya Aksa santai.


 


“Saat kamu datang ke rumahku, kamu tahu Arka sedang bersama gadis itu, kan?” tanya Lisa lagi memastikan.


 


“Menurutmu?” Aksa justru bertanya.

__ADS_1


 


“Seharusnya kamu bilang padaku kalau dia sedang bersama gadis itu,” kata Lisa menyayangkan sikap Aksa yang bungkam. Dia kesal.


 


“Setelah itu apa?”


 


“Apa? Jelas saja aku ... Aku akan menegurnya.” Lisa mendadak kebingungan.


 


“Lalu?” lanjut Aksa tenang. Lisa mengerutkan dahi mendapat pertanyaan ini.


 


“Kenapa kamu justru ingin memojokkan aku? Sekarang di depanku ada dia, yang menjadi kekasihku. Namun bukannya bersamaku, dia justru dengan cewek lain. Bahkan mereka sebentar lagi akan bertunangan. Apa menurutmu ini tidak aneh?” tanya Lisa dengan wajah merasa tidak tepat.


 


“Bukankah tidak hanya Arka saja yang aneh, bahkan keberadaanmu di sini denganku juga aneh, Lisa ...” Aksa berusaha mengingatkan. “Kamu, yang jadi kekasih Arka, kenapa justru muncul denganku? Aku bukan sengaja memojokkanmu.” Aksa langsung mengklarifikasi kalimatnya barusan saat wajah Lisa ingin mendebat kalimatnya.


 


“Aku bisa menganggap itu sebuah candaan. Aku tahu.” Lisa langsung menetralkan pikiran ruwetnya. Ia harus sadar diri. Dia bukan siapa-siapa di antara mereka jika bukan karena nama Yora di belakangnya. Dia hanya remahan roti kering yang sudah kadaluwarsa 3 hari yang lalu.


___


 


__ADS_1


__ADS_2