
Lisa panik.
"Noah, bisakah aku meminta bantuan?" tanya Lisa dengan senyum yang di buat ceria. Noah memutar tubuh, dan melihat Lisa. "Aku ingin kamu mencari Maya. Minta tolong ajak dia kemari. Ada yang perlu di benahi gaun pestanya."
"Ayo. Aku antar kamu ke Maya sekarang," kata pria ini. Noah malah ingin mengajak Lisa menyingkir dari situ. Lisa paham lelaki itu ingin membuat Yora tidak melihat perempuan itu mendekati Aksa, tapi bukan itu rencana Lisa.
"Oh, tidak. Aku tidak ingin meninggalkan Aksa di sini sendirian," ujar Lisa bohong.
Bwehhh! Tidak ingin meninggalkan lelaki ini sendirian? Sangat tidak masuk akal. Lisa mencebik dalam hati.
"Aku tidak ingin melewatkan setiap tamu yang datang. Karena ini adalah pesta pertunangan ku," ujar Lisa mencoba bersungguh-sungguh. Aksa tersenyum senang. Di memang sengaja ingin menunjukkan perempuan itu ke gadis SMA yang lancang ini.
Noah menatap Lisa dengan sedih. Dan Lisa justru jadi kasihan dengan lelaki baik ini. Karena raut wajah itu sebenarnya tidak di perlukan sekarang. Lisa tidak butuh di kasihani soal ini. Mulut Lisa hampir saja bersorak menyemangati lelaki itu bahwa ini hanya sandiwara.
"Tolong ..." pinta Lisa lembut. Noah menghela napas. Dia memilih mengalah dan menuruti permintaan tolong gadis di depannya.
Aksa tidak memperdulikan Noah dan Lisa. Dia hanya memfokuskan matanya memandang perempuan yang sekarang menatap ke arah dia juga. Lisa melirik dan geleng kepala-kepala.
Lelaki ini sangat ... sangat brengsek. Di sebelahnya ada tunangannya, tapi matanya justru menatap perempuan lain dengan nakal dan penuh cinta. Sangat menyilaukan dan bikin muak.
Lisa menggerak-gerakkan jari-jarinya seperti hendak menghajar. Hahaaa ... Lisa tidak bisa diam saja. Tangan, kaki, dan mulutnya ingin meluapkan kejengkelannya.
Gila! Bisa-bisa aku sendiri yang akan menghancurkan pesta perkenalan ini. Seluruh tubuhku bergetar ingin menghajar lelaki di sampingku ini. Tenang ... tenang ... Lisa bisa tenang kok. Ingat, uang ... uang ...
Secarik kertas bernilai ratusan ribu beribu-ribu helai menari-nari di sekitar kepalanya.
__ADS_1
Dan Lisa perlu mengacungkan jempol saat wanita itu benar-benar menghampiri Aksa dan dirinya.
Amazing, amazing. Dua orang ini sangat amazing.
"Selamat ya Aksa atas pertunangan kalian ini," katanya dengan sikap dan suara yang anggun dan bagus. Matanya menatap Aksa dan Lisa bergantian. Aksa tersenyum. Lisa juga perlu tersenyum. Dia tidak boleh menunjukkan raut wajah sedih ataupun marah. Mereka berdua pasti akan merasa menang kalau Lisa bersikap demikian.
Hilangkan keinginan menghajar mereka. Itu buat nanti. Sekarang tampil sekeren mungkin. Agar dua manusia kurang ajar ini tahu Yora itu keren.
"Terima kasih ... Dengan siapa aku berbicara?" tanya Lisa mengambil alih. Dia berusaha tetap sopan. Karena perempuan di depannya lebih mirip tante-tante daripada seorang wanita yang bersaing dengannya untuk memperebutkan Aksa.
Tidak aneh, karena Aksa juga sudah berumur 30. Walaupun sangat cantik, dia tetap tante yang berumur di atas dua puluh lima tahun bukan?
"Perkenalkan, aku Tiara. Aku sahabat Aksa," ucapnya sopan sambil mengulurkan tangan. Lisa mengangguk dan tersenyum sambil menyambut uluran tangan itu.
"Aku baru tahu Aksa punya sahabat yang sangat cantik, anggun dan punya suara yang bagus. Aku Yora," kata Lisa sambil menoleh sebentar ke arah Aksa. Hei ... kondisikan raut wajahmu wahai tuan CEO yang brengsek! Aksa tersenyum senang mendengar Lisa memuji.
Dari tempatnya, Nyonya Anne menatap cemas ke arah Lisa. Beliau mungkin tahu soal Tiara sebelumnya. Makanya saat wanita itu muncul, beliau terus saja memperhatikan gerak-geriknya.
"Mungkin Aksa tidak berani mengenalkan sahabatnya yang mampu membuat semua lelaki menginginkannya karena takut aku cemburu ... Benarkan, kak Aksa?" Lisa senyum manis sambil berpura-pura akrab. Apalagi dia langsung memeluk lengan pria ini.
Ekor mata Aksa menatap tajam seakan tidak senang. Lisa sengaja mengucapkannya dengan maksud mengejek. Mungkin Aksa menyadari itu, tapi Lisa tidak peduli.
"Ternyata Yora yang aku dengar tidak sama dengan Yora yang ada di hadapanku," ujar Tiara melirik lagi ke arah Aksa.
"Emmm ... Tidak mungkin tidak sama. Yora itu satu. Baik dalam cerita seseorang maupun yang ada di hadapan Anda," kata Lisa. Tiara pasti sudah dengar banyak tentang Yora dari mulut lelaki itu. Dan mungkin dia merasa Yora yang dilihatnya tidak sama dengan yang di ceritakan Aksa. Karena gadis yang ada di hadapannya adalah orang yang berbeda.
__ADS_1
Aku Lisa Anugerah, bukan Nayora Wijaya.
"Apa yang kak Aksa katakan?"
"Tidak banyak."
"Aku harap itu adalah hal baik. Aku yakin Kak Aksa begitu." Lisa tersenyum polos seraya mendongak ke arah Aksa.
Gadis ini ... Dia benar-benar mengesalkan.
Mata Tiara menatap gadis di depannya sedikit mengamati. Apalagi melihat tangan itu memeluk lengan Aksa. Itu sedikit membuatnya mengalihkan pandangan.
Bibir Lisa tersenyum lagi. Dia merasa Tiara sedang mencoba lebih berhati-hati. Dia tidak lagi bersikap angkuh seperti tadi. Mungkin dia berani muncul di pesta ini karena kabar yang di dengar soal Yora dari Aksa.
Noah muncul dengan Maya. Perempuan ini terkejut saat melihat Tiara juga ada di sana. Dia ingin mendekat ke Lisa tapi urung. Boal mata Noah melirik ke arah lengan Aksa. Dia terkejut melihat Yora memeluk lengan sepupunya.
"Halo, Noah," sapa Tiara.
"Ya," sahut Noah malas. "Yora, Maya sudah datang. Sebaiknya ke pinggir sebentar. Dan Aksa ... sebaiknya kamu juga mengantar Yora." Noah langsung membuat perintah dengan wajah dinginnya.
"Aku? Memangnya Yora kenapa?" tanya Aksa menyebalkan.
"Aku lelah. Bisa antar aku ke ruang istirahat?" tanya Lisa masih memeluk lengan pria ini dengan manja. Lisa sengaja karena Adiwangsa sejak tadi melihat ke arah mereka.
"Baiklah." Aksa tidak sungguh-sungguh. Ia terpaksa menyanggupi karena tatapan mata papa-nya. Meski Noah sakit melihat Yora dekat dengan Aksa, tapi ia tetap tidak terima jika Aksa mengabaikan gadis itu.
__ADS_1
______
TUNANGAN PALSU