
Kakek sangat ingin Aksa menikah dengan Yora. Tentu saja. Pria paruh baya itu punya kuasa penuh akan tata cara di keluarga Candika.
"Aku akan melihat jadwalku dulu. Takutnya ada rekan bisnis yang penting. Aku juga perlu mencari hari baik untuk mengunjungi nenek," ujar Aksa.
"Ya. Kamu bisa atur sendiri agar pekerjaan tidak terganggu. Tolong ajari Arka dengan pengalaman kamu menjadi orang penting di perusahaan Candika."
"Baik Kakek," ujar Aksa. Setelah perbincangan usai, kakek berniat pergi.
"Kamu bisa tinggal di sini terlebih dahulu. Tidak perlu mengikuti aku pulang. Aku akan pulang dengan orang-orang ku," kata Kakek. Meskipun terlihat seperti kakek sudah memulai menerima cucu tirinya, tapi kata-kata kakek masih terdengar kaku jika di bandingkan bicara dengan cucu kandungnya.
"Iya Kakek." Arka menundukkan kepala patuh.
"Kakek pulang dulu Aksa," pamit kakek.
"Iya Kek." Aksa tersenyum. "Aku akan mengantar Kakek ke pintu," kata Aksa seraya mengikuti langkah kakek yang masih lemah. Arka mengikuti langkah kakak tirinya untuk mengantar Kakek.
Kakak beradik tanpa hubungan darah ini mengakhiri pertemuan dengan kakek dengan membungkuk.
__ADS_1
"Aku heran Kakek membuka pintu keluarga Candika untukmu," kata Aksa. Sudah menjadi rahasia publik bahwa kakek sangat tidak menyukai istri baru putranya. Bahkan kakek tidak membuka hati pada perempuan yang kini menjadi nyonya di rumah keluarga Candika.
“Aku tidak tahu. Mungkin hanya berbelas kasihan karena aku juga sedang ingin berontak pada mama ku?” Arka mengatakan itu karena dia mengerti. Aksa tahu soal mamanya yang memaksa dirinya menikah demi mendapatkan sebuah pengakuan sebagai bagian keluarga Candika meskipun sebenarnya tidak ada hubungan darah sama sekali.
Sementara itu di balik sofa.
Meski tahu kakek sudah pergi, Lisa tidak segera muncul. Gadis ini masih duduk bersandar sofa karena ada Arka. Dia sedang kebingungan sendiri dengan situasi dirinya saat ini. Ada apa dengannya? Kenapa terus saja terikat dengan lingkungan dua orang ini?
"Sepertinya dia kelelahan bersembunyi," kata Arka di sela gerombolan kakek berjalan menuju pintu lift. Arka yang berdiri sejajar menoleh.
Arka tahu ada Lisa di sini.
"Maaf," kata Aksa seraya menurunkan tubuh untuk lebih dekat dengan Lisa yang duduk di lantai. "Kakek sudah pulang. Kamu bisa berdiri dan duduk di sofa."
Lisa mengangguk. Aksa mengikuti gerakan Lisa yang mulai beranjak dari lantai. Aksa mencoba merapikan rambut Lisa yang sedikit berantakan karena bersembunyi. Saat selesai merapikan diri, Lisa mendongak. Pandangannya bersirobok lagi dengan Arka yang masih berdiri di dekat pintu.
"Duduklah dulu di sofa. Kamu pasti lelah karena kedatangan kakek," pinta Aksa.
__ADS_1
"Tidak, aku ..."
"Duduk saja itu bukan hal sulit, Lisa," desak Aksa memotong kalimat gadis ini. Dia menarik lengan Lisa dan memaksa tubuh itu duduk di atas sofa.
"Aku tidak sangka seorang Aksa bisa panik dan kebingungan karena seorang bocah. Kamu termakan dengan perkataan mu sendiri. Akhirnya kamu kini benar-benar terjerumus dalam lingkaran seorang bocah," lirih Arka seakan mencemoohnya.
"Aku terima hukuman karena kesombonganku waktu itu Arka." Aksa tersenyum tipis menerima cemoohan adik tirinya. Dia tidak peduli sekarang soal dirinya yang tergila-gila dengan gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah itu.
Lisa menunduk. Dia benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Brak! Pintu terbuka tiba-tiba. Semua menoleh ke arah yang sama serempak.
"Selamat siang ... Kata Kakek Kak Aksa masih ada di ruangannya." Itu suara seorang gadis.
Pemain dalam kisah yang rumit ini sudah lengkap. Yora muncul dengan tas makanan di tangannya.
"Ada Arka." Yora mengangguk memberi salam pada calon adik iparnya. "Kak Aksa, aku ... Oh, k-kamu?" seru Yora terkejut. Arka tidak menanggapi salam Yora. Kepalanya langsung menoleh pada Lisa di sofa. Aksa juga demikian. Melihat yang muncul adalah Yora, kedua mata pria ini mencemaskan keberadaan Lisa.
__ADS_1
..._________...