Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 130 Ternyata aku jatuh cinta pada bocah


__ADS_3

Setelah perbincangan serius, Bapak dan Ibu mempersilakan Aksa dan Lisa berbincang berdua saja.


 


"Kamu lega?" tanya Aksa pada Lisa yang menghela napas panjang di sampingnya barusan. Gadis yang duduk di samping Aksa menoleh.


 


"Mungkin. Setidaknya keluargaku enggak perlu bertanya-tanya lagi soal lamaran kamu."


 


"Aku harap kamu siap segalanya, Lisa. Karena mungkin ini hanya awal. Dinding besar tenaga menunggu di depan. Keluargaku," kata Aksa. Perkara horor yang satu lagi adalah keluarga Candika.


 


"Aku tahu," sahut Lisa pelan. "Ini serius ya?" tanya Lisa bangkit dari duduknya. Dia tidak lagi bersandar pada kursi.


 


"Kenapa? Baru sadar kalau aku serius?" tanya Aksa sambil mencubit hidung gadis ini. Lisa meringis.


 


"Hhh ... " Lisa menghela napas sambil kembali bersandar.


 


"Kamu lelah?"


 


"Sedikit."


 


"Padahal aku ingin mengajakmu keluar."


 


"Kemana?" tanya Lisa menoleh cepat.


 


"Melihat pemandangan kota."


 


"Dimana itu?"


 


"Mau keluar?" tawar Aksa karena gadis ini tertarik. Lisa mulai terprovokasi untuk ikut. "Jangan memaksa kalau memang butuh istirahat." Aksa tiba-tiba menasehati.


 

__ADS_1


"Tanggung banget. Sudah mengompori soal mengajakku melihat pemandangan kota, sekarang malah ingin aku mundur," gerutu Lisa. Aksa tergelak.


 


"Ngambek?" tebak Aksa.


 


"Enggak ngambek, tapi kesal. Sebal," sungut gadis ini.


 


"Iya sudah. Ayo keluar. Pamit Bapak ibu dulu." Aksa mengacak rambut Lisa. Gadis itu pun beranjak dari kursi dan berjalan ke belakang sambil merapikan rambutnya.


 


...***...


 


Karena memang lelah, Lisa bahkan tertidur di dalam mobil. Padahal mobil sudah sampai di bukit. Aksa tidak tega untuk membangunkan. Dia sedikit bersalah sudah memaksa  Ia melepas jaket tebal yang di pakainya dan menutupi tubuh Lisa. Kemudian ia hanya menatap ke arah gadis ini. Lalu ia tersenyum melihatnya.


 


"Ternyata aku jatuh cinta pada bocah juga. Padahal aku sangat membenci gadis semacam dia. Ribet, bawel dan tidak mengerti kode-kode pria dewasa. Namun nyatanya ... dia menggemaskan."


 


Lisa menggeliat. Aksa mengerjap. Tangan Aksa segera menahan jaket yang menyelimuti tubuh Lisa. Karena jaket itu hampir saja melorot. Dia menunggu gadis ini benar-benar membuka mata.


 


 


"Aku ketiduran," kata Lisa menyadari.


 


"Ya. Tidur lagi saja."


 


"Kenapa harus kesini kalau memang mau tidur ...," kata Lisa berusaha bangun. Kepalanya melihat ke luar jendela. "Kita sudah sampai?" tanya dia takjub. Tangannya memegang handle pintu mobil dan keluar. Jaket yang ia pakai di biarkan begitu saja di atas kursi mobil. Aksa menghela napas. Ia meraih jaket itu dan ikut keluar.


 


Aksa sudah berada di dekat Lisa. Pria ini menutupi tubuh Lisa dengan jaket miliknya. "Pakailah. Anginnya kencang karena ini daerah yang tinggi."


 


"Terima kasih." Lisa tersenyum sambil memegangi jaket milik Aksa. "Wahhh ... ini daerah mana ya? Kok aku enggak paham."


 


"Cendrawasih," sebut Aksa.

__ADS_1


 


"Benarkah? Mungkin karena belum pernah ke sini malam jadi enggak tahu bisa melihat lampu-lampu kota dari sini. Ini bagus!" seru Lisa gembira. "Kok tahu ada spot pemandangan seperti ini?"


 


"Proyek ini milik keluarga ku," kata Aksa menunjukkan proyek perumahan yang ada di depan mereka.


 


"Aahh, pasti begitu ya ... Kenapa aku tanya." Lisa merasa sia-sia. Dia pernah tahu soal perusahaan milik keluarga Aksa merambah dunia apa saja.


 


Tiba-tiba lengan Aksa memeluk tubuh Lisa dari belakang. Sedikit terkejut karena ini pertama kalinya pria ini berani melakukannya.


 


"Kenapa tiba-tiba memeluk?" tanya Lisa sambil menatap ke samping dengan gugup. Wajah pria itu sangat dekat dengannya. Lisa menahan napas sejenak. Tangannya bergerak  ingin menutupi bibir. Karena ia takut pria yang terobsesi dengan bibir ini mendadak menciumnya.


 


"Aku memang ingin mencium kamu, tapi tidak. Aku harus tahan. Jadi diamlah. Aku ingin memelukmu," bisik Aksa tahu apa yang akan di lakukan Lisa.


 


Dia tahu.


 


"Kamu tahu aku ingin kabur?" tanya Lisa.


 


"Tentu saja. Tubuh mu terus berontak. Aku tahu kamu mau apa," imbuh Aksa. Lisa mencibir. Ia pun diam. Membiarkan Aksa makin lekat memeluknya yang terbungkus jaket milik pria ini.


...______...


 



 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2