Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 90 Menguping


__ADS_3

Untuk biaya, semuanya sudah dibayar lunas oleh nyonya Anne. Lisa hanya perlu menandatangani semuanya untuk laporan pihak rumah sakit. Ini tidak memerlukan waktu yang banyak.


 


"Ternyata perjanjian kamu dengan nyonya Anne, ada bagusnya juga," kata Aksa di lorong saat mereka menuju ke kamar bapak. Lisa tidak menjawab. "Aku jadi mengenalmu dan sebaliknya. Awal pertemuan yang aneh dan unik." Lisa membiarkan Aksa bicara sendiri.


 


Di depan jalan ini. Tidak jauh dari mereka, tampak Adiwangsa dan Anggita tengah berjalan ke arah mereka.


 


"Papa," kata Aksa yang melihat mereka lebih dulu. Berbeda dengan Aksa, Lisa melebarkan matanya terkejut. Gadis ini panik. Bertemu dengan orang-orang yang ada hubungannya dengan dirinya saat menjadi Yora palsu seringkali membuatnya ingin lari. Seperti itu sebuah trauma.


 


"Sembunyi," kata Lisa.


 


"Kenapa sembunyi?" tanya Aksa berwajah polos. Di sini Aksa heran dan bertanya-tanya.


 


"Aku Lisa, bukan Yora. Lagipula aku tidak siap bertemu keluargamu saat menjadi Lisa," terang Lisa. Gadis ini pun menarik tangan Aksa dengan paksa lalu berdiri di belokan.


 


Anggita menggigit jari setelah keluar dari kamar perawatan VVIP Presdir yang tak lain adalah mertuanya. Di dalam pembicaraan yang sedang di bahas tadi, kakek menegaskan bahwa selain keluarga Candika, tidak akan ada orang lain yang akan jadi penerus perusahaan. Dan itu bisa di pastikan hanya Aksa dan Allen yang benar-benar cucu keluarga Candika.


 


"Bagaimana ini, suamiku? Arka tidak bisa menjadi orang penting di perusahaan. Lalu bagaimana dengan putraku itu?" Anggita tampak terguncang.


 


"Itu kita pikirkan lain waktu. Sekarang ayo pulang," ajak Adi terguncang.


 


"Tapi suamiku, apa Arka harus berusaha sendiri tanpa bisa ikut dalam kemewahan seperti yang lain? Meski itu bukan darah daging mu sendiri, tapi kamu sudah berjanji dulu, akan membuat Arka juga seperti yang lainnya," kata Anggita masih saja memaksa.


 


"Ayahku tidak bisa di paksa soal perusahaan, Anggita. Kamu tahu aku juga kesulitan soal itu," ujar Adi Wangsa. "Tidak ada jalan lain selain perjodohan. Segera mungkin Arka bertunangan dengan putri perusahaan elektronik. Dan pastikan mereka akan menikah. Dengan begitu, Arka bisa jadi anggota keluarga Maharaya dan mendapatkan posisi yang tinggi."


 


Aksa melirik. Dia mencoba membaca ekspresi gadis ini. Lisa tertegun. Walaupun sadar kalau dia dan Arka itu terhalang dinding yang tinggi, sungguh menyesakkan saat mendengar itu sendiri. Ternyata posisi Arka memang sangat tidak menguntungkan. Sebagai anak tiri, tentu kakek Candika tidak sudi memberikan perusahaan pada cowok itu.


 


Sungguh mendebarkan tatkala Adiwangsa dan Anggita, yang di kira akan jalan lurus, justru belok ke belokan tempat Aska dan Lisa bersembunyi. Lisa sudah gelisah. Aksa sudah siap jika mereka bertemu dengan keluarganya. Justru bersembunyi tidak membuatnya senang.


.


Klek! Tidak sengaja pintu di belakang mereka terbuka sendiri.


 

__ADS_1


Lisa langsung masuk ke dalam. Dia menarik punggung Aksa. Ternyata di dalam sana ada seorang nenek yang sangat tua tengah terbaring di atas ranjang. Seorang kakek tertidur di sofa. Lisa menutup pintu dengan pelan. Bermaksud agar tidak membangunkan si pasien.


 


Namun usahanya gagal. Nenek itu terbangun. Kakek tua yang sedang tiduran di sofa juga menggeliat, tapi tidur lagi. Mata mereka berempat bersirobok. Saling pandang beberapa menit.


 


"Kalian siapa?" tanya nenek itu kebingungan. "Apakah kalian cucuku dan suaminya yang tinggal jauh?" lanjut si nenek menebak-nebak. Kelopak mata yang keriput itu berharap banyak kalau dugaannya benar. Lisa menoleh pada Aksa. Pria ini juga melihat ke arah Lisa, lalu tersenyum. Seperti mendapatkan ide. Lisa mengerjapkan matanya tidak mengerti.


 


"Ya," ujar Aksa tiba-tiba menarik bahu Lisa untuk mendekat padanya. Lisa menengok cepat ke arah bahunya. Lalu mendongak dan menggerakkan dagu untuk bertanya. "Sebaiknya kita berpura-pura saja bahwa kita cucunya dan membuat wanita ini bahagia," bisik Aksa yang langsung memaksa tubuh Lisa mendekat ke arah nenek tua itu. Masih dengan tangan Aksa memeluk bahu Lisa.


 


"Senangnya cucuku datang ..." Nenek itu begitu bahagia. Lisa jadi ikut tersenyum juga. Namun hanya sekitar sepuluh menit saja bicara, nenek itu mengantuk. Lisa menyelimuti tubuh si nenek. Lalu berpamitan pulang setelah Aksa memeriksa lorong.


 


Setelah menutup pintu, Lisa menghela napas berat.


 


"Kenapa?" tanya Aksa yang merasa helaan napas barusan penuh beban.


 


"Ternyata menjadi tua menakutkan. Melihat nenek tadi sakit dan sepertinya tidak ada yang menjenguk, harapan satu-satunya adalah di temani suaminya. Tidak bisa di bayangkan jika si suami enggak mau menemani. Betapa menyakitkan keadaan kita waktu itu."


 


 


"Kamu akan menemani istrimu? Cih. Cap playboy sudah melekat Om. Lemnya pakai lem yang paling nempel sedunia," ejek Lisa lalu berjalan lebih dulu. Aksa mengsejajari.


 


"Apa aku tetap terlihat seperti itu di matamu, bocah?" tanya Aksa.


 


"Apa? Jangan tanya yang aneh-aneh. Gara-gara ada papamu dan ide mu tadi, aku jadi tidak segera kembali ke kamar bapak," gerutu Lisa.


 


"Aku tidak akan punya ide itu kalau kamu tidak mengajakku bersembunyi," kata Aksa giliran menyalahkan. Namun di dalam hati dia tidak peduli di salahkan. Dia yang awalnya tidak suka bersembunyi, kini menikmatinya.


 


“Tidak mungkin aku tetap bersamamu saat ada keluargamu, Aksa." Lisa heran pria ini seperti biasa saja meskipun bersamanya saat ada keluarganya. "Jika mereka bertanya siapa aku, bagaimana?"


 


 "Tentu saja akan aku jawab. Dia Lisa," jawab Aksa enteng.


 


 "Itu benar juga sih, tapi ..."

__ADS_1


 


"Mungkin kamu adalah pengganti Yora, tapi kamu punya identitas sendiri. Meski nantinya akan ada yang melihat kemiripan kamu dengan dia, tapi tetap saja kalian itu tidak sama. Kamu Lisa. Lalu dia Yora," jelas Aksa.


 


"Kamu tahu. Yang paling aku takutkan adalah ... Yora tahu aku masih berada di sekitarmu. Karena apa. Aku mengerti kalau gadis itu begitu mencintai kamu hingga nyonya Anne mencari pengganti saat dia koma, agar pertunangan kalian tidak batal," ungkap Lisa.


 


"Bagaimana denganmu?" tanya Aksa dengan wajah tidak main-main.


 


"Aku? Apa?" tanya Lisa tidak paham. Pandangannya masih menatap lurus ke depan.


 


"Aku sudah tahu sejak awal kalau Yora sangat mencintai aku, meskipun aku tidak punya rasa apapun padanya. Lalu bagaimana dengan kamu? Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Aksa mengejutkan.


 


Jika sejak tadi mereka bicara sambil jalan, kini kaki Lisa berhenti melangkah. Lalu menoleh pada Aksa.


 


"Apa yang kamu tanyakan? Kamu sadar barusan bertanya apa padaku?" tanya Lisa mengingatkan lagi soal pertanyaan Aksa barusan.


 


"Ya. Aku tidak sedang minum bukan? Itu berarti aku sedang dalam keadaan sadar seratus persen." Aksa yakin pada kewarasannya.


 


"Bahas yang lain. Kenapa jadi bahas itu sih?" gerutu Lisa. Dia memilih mengalihkan pembicaraan. Lalu bergerak menjauh. Aksa melebarkan langkah kaki demi mencapai gadis ini. Namun Lisa justru mempercepat langkahnya.


 


"Lisa tunggu!" Aksa mempercepat langkahnya juga dan berhasil menangkap tangan Lisa.


 


"Aksa. Apaan sih? Lepaskan tanganku." Lisa kesal sambil berontak untuk melepaskan tangannya dari cekalan Aksa.


 


"Aku serius bertanya padamu."


 


"Aku enggak mau jawab. Pertanyaan macam apa itu." Lisa menggeram.


 


"Lepaskan tangan Lisa, Aksa!" sergah Arka yang muncul di lorong. Kedua orang ini menoleh secara bersamaan.


...___...


__ADS_1


__ADS_2