Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 125 Nikmati saja


__ADS_3

"Aku tidak ingin Yora berpikir kalau aku sudah merebut kamu darinya," tutur Lisa saat makanan sudah habis di lahap oleh mereka berdua.


 


Aksa menatap Lisa.


 


"Namun kenyataannya kamu memang sudah mencuri hati ku dari dia," kata Aksa cuek. Lisa yang tadinya menunduk, kini mendongak.


 


"Aku serius, Aksa." Lisa melebarkan matanya. Juga memberi tekanan pada kalimatnya.


 


"Iya. Aku mengerti." Aksa tersenyum dan membelai rambut Lisa. "Gimana kamu dan Arka?"


 


"Hah? Arka? Tumben tanya dia?" Lisa yang


 


"Aku ingin tahu." Aksa dengan bola mata menatap dalam. Walaupun singkat, kisah cinta mereka sangat berharga. Pasti Lisa dan Arka masih mengingat.


 


"Tidak. Tidak apa-apa." Lisa menundukkan pandangan.


 


"Kalian sudah bicara?"


 


"Kenapa sih?" Lisa jadi kesal sendiri saat di tanya soal Arka. Apalagi yang tanya adalah Aksa.


 


"Kalau kamu jadi kekasihku, kalian akan sering bertemu. Apa itu tidak masalah? Aku bisa mengabaikannya, tapi aku cemas dengan kamu."


 


"Kamu enggak yakin sama aku?" tanya Lisa. Aksa tersenyum. Lalu merapikan anak rambut yang jatuh ke pipi gadis ini.


 


"Sedikit. Namun yang pasti bukan soal takut kamu akan kembali pada dia. Karena aku yakin berada di atas Arka segalanya," ujar Aksa yakin. Lisa mendengus mendengar itu. Faktanya bilang iya. "Aku hanya cemas. Itu saja." Pandangan Aksa terlihat lembut dan dalam.


 


"Aku baik-baik saja. Yakin."


 

__ADS_1


"Baguslah."


 


"Soal kakek gimana?"


 


"Itu biar aku yang atasi. Namun, itu tidak mudah. Kamu perlu sabar menunggu."


 


"Aku tahu itu." Lisa tersenyum lembut. Dia sudah tahu di awal.


 


"Namun jangan menyerah Lisa. Jangan menyerah seperti kamu dan Arka. Sesulit apapun, tetaplah percaya padaku kalau aku bisa mengatasinya untukmu," seloroh Aksa segara meyakinkan.


 


Lisa diam. Dia menatap pria ini.


 


"Jangan bicara yang manis terus, Aksa ..."


 


"Kenapa? Itu bukan gombal. Itu memang yang akan aku lakukan untukmu," kata Aksa merasa perkataannya adalah kejujuran. Jadi dia tidak perlu menyembunyikannya.


 


 


Cium? Menolak atau ... Nikmati sajalah ...


 


Aksa menciumnya. Bukan hanya sebuah kecupan karena itu tidak sebentar. Kali ini Aksa benar-benar menciumnya. Lisa tidak lagi mendorong tubuh pria ini. Dia menerimanya.


 


Sial! Sepertinya aku tidak bisa tidur karena ini.


 


...***...


 


Malam hari. Rupanya Lisa terlalu yakin bahwa dia akan menikmati malam-malam indah dengan teringat ciuman dengan pria tampan ini. Namun ia lupa, bahwa interogasi keluarga belum usai sepenuhnya.


 


Lisa di tanya lagi perihal lamaran Aksa.

__ADS_1


 


"Jadi itu pacar mu?" tanya ibu.


 


"I-iya."


 


"Dia umur berapa? Apa enggak kejauhan?" tanya ibu lagi. Di mata ibu Aksa adalah gurunya.


 


"Emm ... " Lisa ragu mau menjawab.


 


"Bukannya kalau pacaran sama orang yang sudah dewasa itu malah bisa ngemong, Mbak?" tanya Bi Sarah. Beliau ikut ngobrol. Karena akhirnya beliau juga bertanggung jawab kemarin bantuin ini anak untuk bisa lolos.


 


"Menurut Sarah benar juga." Bapak mulai bicara. "Namun bapak hanya cemas, kalau pacaran sama orang kaya. Kamu tahu keluarga kita. Takutnya nanti malah bermasalah."


 


"Bapak doakan Lisa yang benar dong."


 


"Bapak ini hanya cemas. Kalau orangtua doa buat anak yang pasti itu benar semua. Bagus semua," ujar Bapak membela diri saat putrinya protes. Lisa mengangguk-angguk.


_____



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2