Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 86 Kemunculan Yora


__ADS_3

Sepulang sekolah, Orang suruhan nyonya Anne menjemput Lisa di depan sekolah. Lisa sudah mencari cara agar tidak terlihat anggota tim berandal. Dia bergegas keluar sendiri tanpa di temani siapapun.


 


Tidak ada pikiran apapun saat dia mendatangi rumah nyonya Anne, kecuali kemungkinan besar ia harus menemui Aksa.


 


"Oh, kamu sudah datang Lisa. Duduklah," pinta nyonya Anne.


 


"Saya harus menemui Aksa lagi, Nyonya?" tanya Lisa. Ini sudah menjadi tugasnya saat di panggil seperti ini. Pasti ada keadaan darurat.


 


"Tidak."


 


"Oh, tidak?" tanya Lisa terkejut. Nyonya Anne tersenyum.


 


"Ada yang ingin bertemu denganmu. Maya!" panggil nyonya Anne. Jantung Lisa berdetak kencang. Ada hal yang membuatnya gelisah. Maya muncul dengan seorang gadis.


 


"Dia ..."


 


"Dia putriku, Nayora," ungkap nyonya Anne mengejutkan.


 


...***...


 


Aksa sudah menunggu di kursi resto mahal yang sudah ia pesan. Malam ini dia sedang menunggu Lisa. Gadis itu setuju untuk bertemu di tempat ini. Padahal ia ingin menjemput langsung ke rumah Lisa, tapi sebelum ia sempat mengutarakan apa yang ada di dalam benaknya, gadis itu sudah menyetujui untuk bertemu di tempat perjanjian.


 


Kepala Aksa melongok, saat ada seorang gadis muncul di ambang pintu restoran. Sepertinya gaya berpakaian Lisa kembali seperti semula. Seperti saat pertama kali bertemu. Pasti gadis itu sedang dalam pengawasan keluarga Wijaya, jadi ia harus berdandan seperti Yora.


 


"Halo, Li ...." Kalimat Aksa menggantung. Bola mata pria ini mengerjap. Dia merasa gadis itu berbeda kali ini. Hingga bibirnya urung memanggil nama Lisa.


 


"Selamat malam," sapa gadis yang dia pikir adalah Lisa. Jantung Aksa berdetak kencang. Mendadak ia waspada.


 


"Kamu ... Yora?" tanya Aksa yang membuat gadis itu terkejut.


 


"I-iya. Kenapa kaget seperti itu? Bukannya kita sering bertemu?" tanya Yora heran. Aksa segera menyadari perbedaan Lisa dan Yora dalam sekejap.


 


"Ah, benar. Kita sering bertemu." Aska berusaha mengikuti permainan yang dilakukan. Dia sadar Lisa tidak berada di tempat ini sekarang. Lalu kemana? "Duduklah," pinta Aksa.


 


"Ya. Terima kasih," sahut gadis itu dengan senang hati. Aksa memperhatikan dengan seksama. Dia sangat yakin gadis di depannya adalah Nayora Wijaya yang asli.


 

__ADS_1


Ada apa? Dia sudah bangun dari koma? Bodoh. Karena kegirangan sudah merasa dekat dengan Lisa, aku luput mencari lebih rinci soal gadis ini.


 


"Kak Aksa terlihat muram. Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Yora bermaksud peduli. Tanpa dia tahu bahwa yang membuat pria ini muram adalah dirinya. Aksa tidak bisa langsung mengatakan bahwa gadis ini bukan Lisa. Itu bisa membahayakan gadis itu.


 


"Tidak. Tidak ada." Aksa tersenyum. Makanan yang di pesan Aksa pun datang. Ini membuat Yora terkejut. Rupanya Aksa memesan agak banyak. Karena dia tahu, Lisa sangat suka makan. Namun tidak di duga kalau sekarang yang menemuinya adalah Yora yang asli.


 


"Makanan ini enak," kata Yora sambil menunjukkan senyuman yang manis. Aksa berusaha tersenyum. Dia tidak bisa langsung bersikap lain. Sambil berpikir, Aksa memperhatikan gadis di depannya. "Tapi maaf, aku tidak bisa menghabiskannya. Aku mudah kenyang,” kata Yora dengan gaya anggunnya.


 


Kebalikan dari Lisa. Jika gadis itu mudah lapar, Yora justru mudah kenyang.


 


"Bagaimana kabarmu? Baik?" tanya Aksa berusaha menata raut wajahnya sedemikian rupa. Sejujurnya ia ingin cepat pergi dari sini. Namun ia harus bisa bersandiwara lebih baik lagi.


 


“Baik,” sahut Yora dengan wajah tersipu.


 


...***...


 


Karena khawatir, Aksa memilih ke rumah Lisa setelah makan malam dengan Yora. Memang agak malam. Namun pria ini nekat ke rumah Lisa karena sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.


 


"Lho, ngapain di sini?" tanya Giri yang sepertinya baru saja keluar. Cowok ini melihat Aksa di depan halaman rumah.


 


 


"Sepertinya ada, tapi aku tidak tahu. Dia tidur atau tidak," kata Giri. Aksa ragu. Karena itu artinya dia bisa saja mengganggu kenyamanan Lisa. "Aku panggilkan, deh kalau memang penting. Bisa duduk di teras dulu sambil nunggu Lisa keluar. Jangan masuk, ini sudah agak malam.


 


Kepala Aksa mengangguk. Dia tahu itu. Giri masuk ke dalam rumah. Agak lama Aksa menunggu, tapi masih belum ada tanda-tanda gadis itu muncul. Setelah resah dan gelisah menyerang Aksa. Bahkan sekelompok nyamuk pun menyerang tubuh Aksa bertubi-tubi, suara pintu di buka terdengar.


 


Aksa berdiri dan langsung melongok ke arah pintu. Dia tidak sabar. Muncul Lisa dengan rambut cepolan lucu, di kepalanya. Tanpa pikir panjang, Aksa langsung mendekat dan memeluk gadis itu.


 


"Lisa ..." lirih Aksa yang membuat Lisa sangat terkejut. Gadis itu sampai kehilangan kata-katanya. Bola mata bulatnya hanya mampu mengerjap melihat sikap Aksa.


 


Setelah puas memeluk tubuh Lisa, Aksa melepas pelukannya.


 


"Kami tidak apa-apa, Lisa?" tanya Aksa menunjukkan kecemasannya yang sangat kental.


 


"Ya. Memangnya kenapa?" tanya Lisa dengan santainya. Aksa tidak menjawab. Pria ini justru memeluk Lisa lagi. "Hei ... apa yang kamu lakukan Aksa? Jangan terus menerus memelukku. Kita bisa kena grebek orang kampung jika kamu terus-terusan seperti ini. Lepaskan aku," pinta Lisa yang sudah lepas dari rasa terkejut.


 


Lisa berusaha mendorong tubuh pria ini. Aksa pun melepas pelukannya. Lalu menarik tangan Lisa untuk duduk di teras. Di dekat tembok warung. Agak tersembunyi dari jalan.

__ADS_1


 


"Aku sangat cemas saat tahu Yora muncul, Lisa," ungkap Aksa. Lisa sih sudah menyadari itu sejak tadi, tapi tetap saja dia bingung kenapa pria ini sangat cemas.


 


"Jadi kamu sudah tahu?"


 


"Tentu saja. Aku tahu, karena aku bertemu dengannya malam ini,” kata Aksa yang merasa pertanyaan itu meremehkan daya perasanya.


 


Dia langsung mengenaliku dan Yora dengan cepat.


 


“Nomor kamu di pegang Yora?" tanya Aksa. Karena nomor yang biasa dia hubungi ternyata tersambung dengan ponsel Nayora asli.


 


"Ya. Aku memberikan semua padanya karena nyonya Anne menginginkan semua hal yang ada hubungannya denganmu di berikan pada Yora," terang Lisa.


 


"Kalian lepas kontrak?"


 


"Ya. Kontrakku berakhir. Semua otomatis seperti itu jika Yora bangun dari koma. Dan gadis itu sudah sehat. Jadi aku kembali pada posisiku."


 


"Kamu aman, kan?"


 


"Tentu. Selama kamu tidak mengatakan bahwa kamu mengenal aku," kata Lisa. Aksa diam.


 


"Jadi kamu ingin aku tidak mengenalmu?"


 


"Seharusnya begitu, Aksa. Jika kita bertemu bersamaan, itu akan mempersulit keadaan. Lagipula kenapa kamu harus menemuiku? Yora sudah sembuh."


 


Aksa menghela napas.


 


"Jangan berpura-pura tidak tahu kalau aku tidak tertarik dengan Yora, Lisa. Sejak awal kamu tahu itu," kata Aksa kesal Lisa seakan mendorong dirinya dengan gadis itu.


 


"Aku tahu. Namun kamu bisa mengubahnya," gurau Lisa membuat Aksa menipiskan bibir. Lisa tergelak.


 


"Jadi aku akan tetap menemuimu walaupun Yora sudah bangun dari koma. Aku tidak peduli," kata Aksa seperti sudah berjanji pada dirinya sendiri.


 


"Kenapa memaksa? Terserah padamu juga sih, tapi aku akan lebih sering bersama Arka kan," jelas Lisa membuat Aksa teringat lagi kalau gadis ini sudah punya kekasih. Ya. Tentu saja kemunculan Yora asli akan membuat banyak peluang mereka berdua lebih banyak.


...______


__ADS_1


...


__ADS_2