
"A-apa yang kamu katakan?" Lisa jadi gugup. Itu adalah rahasia dari segala rahasia. Itu tidak boleh diketahui siapapun dari keluarga Candika.
"Tidak perlu mengelak. Arka sudah mengakuinya," kata Aksa saat melihat wajah panik gadis ini. Dia heran Lisa terkejut seperti itu. Padahal Arka dengan berani mengakuinya tadi malam.
Ini kedua kalinya Lisa perlu melebarkan mata. Kenapa Arka membongkarnya sendiri?
"Aku tidak tahu kamu seberani itu, Lisa," desis Aksa.
Lisa yang tadinya sibuk dengan terkejutnya soal tadi, kini mendongak.
"Berani apa?" tanya Lisa masih dalam keadaan kalang kabut.
"Meskipun palsu, kamu tetap tunanganku. Jangan bersikap sembarangan di dalam rumah ini. Apalagi mencium Arka seperti itu," lanjut Aksa.
Blush! Wajah Lisa langsung memerah. Manik mata bulat itu mengerjap berulang-ulang. Teguran ini membuatnya malu setengah mati.
"K-kamu melihatnya? Kamu melihat semua?" tanya Lisa panik seraya berdiri. Telunjuknya menunjuk Aksa dengan terkejut.
"Ya," sahut Aksa santai.
"Oh, tidaaak." Lisa mengusap wajahnya berulang-ulang. Aksa menyaksikan reaksi itu dengan tenang. Gadis itu memperlihatkan mimik wajah yang berubah-ubah. Aksa mendengus geli melihat itu. Ini pertama kalinya ia melihat gadis ini panik.
__ADS_1
"Kenapa panik? Itu hanya sebuah kecupan. Bukan ciuman sebenarnya," ejek Aksa enteng.
"Apa yang kamu katakan? Panik? Tentu saja aku panik saat ada orang lain yang tahu soal itu. Aku tidak terbiasa dengan itu, tahu. Aku berbeda denganmu yang selalu melakukannya dengan banyak wanita. Aku belum pernah melakukannya. Itu pertama kalinya," omel Lisa tidak terima.
"O ... jadi ini pertama kalinya? Arka hebat juga, bisa membuatmu melakukannya." Aksa berdecak kagum.
"Aku mohon diamlah," sergah Lisa melebarkan telapaknya. Aksa hendak membalas perkataan gadis ini, tapi urung karena sepertinya Lisa terguncang.
Belum selesai rasa malu yang tadi, sekarang ia harus malu lagi. Wajahnya merah lagi. Ia membongkar sendiri bahwa ini kecupan pertama.
"Jangan membesar-besarkan masalah. Itu hanya sebuah kecupan kecil, jadi ..." Aksa kembali mengatakan itu.
"Terserah soal hubungan kalian, tapi jangan sampai kamu menghancurkan perjodohan ini sendiri," pesan Aksa.
"Tidak mungkin." Lisa melepas tangannya dari kedua telinganya. Lalu merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena malu setengah mati. Duduk dengan baik, dan mulai bicara lagi, "Lagipula, semua ini karena kakek menyukaiku, kan?" tanya Lisa sedikit menyombongkan diri. Aksa mendengus.
“Menyukai Yora, bukan kamu,” ralat Aksa.
“Wajahku mirip. Jadi kakek pasti juga menyukaiku,” bela Lisa. Aksa menipiskan bibir.
__ADS_1
"Memang seperti itu, tapi jika tahu keluarga Wijaya melakukan pergantian pengganti seperti ini, apa kamu pikir kakek mau melanjutkannya?" tanya Aksa sambil melipat tangannya.
Lisa menekuk bibirnya. Ia mengangguk.
"Kamu benar. Sudah. Sebaiknya kita cepat keluar dan turun. Mama kamu pasti mencari-cari." Lisa beranjak dari sofa menuju pintu. Namun Aksa tetap duduk di tempatnya.
"Ini hari libur. Aku tidak harus turun." Aksa enggan. Lisa mendelik. Dia kembali dan menarik tangan Aksa. Ini sempat mengejutkan pria ini.
Tidak ada yang pernah menariknya secara serampangan seperti ini. Semua wanita menyentuhnya dengan lembut dan penuh pengagungan. Sementara sekarang, bocah ini menariknya paksa tanpa rasa peduli.
"Kamu menarik tanganku?" tegur Aksa mengerutkan kening. Dia terheran-heran.
"Kenapa bertanya? Sudah jelas kan? Ayo keluar Om Aksa ...," kata Lisa masih mencoba menarik tangan Aksa. Pria ini tetap membuat tubuhnya tidak berpindah dari tempatnya duduk.
"Om? Kamu memanggilku Om?" tanya Aksa menggeram.
Lisa melepaskan tangan Aksa.
"Jangan membesar-besarkan masalah kecil," kata Lisa membalas kata-kata Aksa tadi. Dahi Aksa mengerut mendengar itu.
"Kamu sengaja membalas perkataan ku," desis Aksa. Lisa mengedikkan bahu.
__ADS_1
_____