
"Huh, menyebalkan." Lisa menghempaskan punggungnya di badan kursi yang nyaman. Aksa memang tidak jadi peduli dengan ponselnya. Ia melirik ke samping.
"Kalian bertengkar?" tanya Aksa. Lisa tahu siapa maksud pria ini.
"Tentu saja. Gara-gara siapa itu, tapi Arka kemudian mencoba mengerti." Lisa menatap taman depan rumah ini seraya menerawang. Dia ingat Arka.
"Itu hebat. Bocah itu sangat hebat. Aku salut. Karena kalau aku, pasti tidak akan membiarkan pria yang mendekati kekasihku bisa hidup tenang," kata Aksa dengan raut wajah di buat dingin.
Lisa menengok ke samping sambil menipiskan bibir mencemooh.
"Raut wajahmu menunjukkan kalau kamu tidak percaya," tunjuk Aksa menemukan raut wajah mencibirnya.
"Untuk kamu yang punya kekasih nggak cuma satu, mana bisa melakukan itu," ejek Lisa.
"Darimana kamu tahu aku punya banyak wanita? Kamu baru tahu aku sejak jadi Yora palsu kan?" kata Aksa. Dia mendekatkan tubuhnya ke Lisa saat mengatakan kalimat terakhir dengan berbisik. Ini membuat Lisa menjauh karena kaget.
"Pokoknya aku tahu," kata Lisa yakin. Dia enggan membongkar bahwa dia pernah bertemu Aksa saat dia dengan wanita lainnya.
"Kamu mencurigakan. Jangan-jangan kamu sengaja mengajukan diri menjadi pengganti untuk mendekatiku," kata Aksa seraya menyentuh dagunya. Menatap Lisa dengan menyelidik.
"Tidak mungkin. Jika tahu pria yang jadi tunangan Yora sepertimu, aku memilih mundur," balas Lisa. Aksa tergelak. "Pulangkan aku sekarang. Aku kangen ibu sama bapak."
__ADS_1
Aksa boleh bersikap seenaknya sendiri, tapi saat bicara soal ibu, ia juga bisa bersikap lembut. Pria ini mengantarkan Lisa pulang setelah itu.
**
"Kemana semalam? Kenapa nyonya itu yang ngijinin kamu pergi?" tanya Giri saat Lisa muncul di rumah.
"Aku bantuin nyonya itu karena menolong bapak," bisik Lisa.
Keluarga Lisa sempat tahu soal nyonya Anne, tapi hanya sekedar seorang nyonya yang baik hatinya. Untuk perjanjian-perjanjian itu, tentu hanya Lisa saja yang tahu.
"Oh, ya?" Terus kenapa pulangnya sama bambang tamvan itu?" Alis Giri bergerak ke arah Aksa yang duduk di ruang tamu. Lisa mengangkat bahu.
Dia benar-benar tidak paham kenapa pria itu malah turun dan masuk ke rumahnya. Dan karena hari libur warung ikut libur, rumah sepi. Yang ada hanya Giri. Bi Sarah sama ibu ke rumah sakit.
"Kamu sedang melakukan sesuatu ya?" selidik Giri.
"Apa sih?"
"Terserah kamu mau melakukan apa, tapi jangan yang berbahaya. Bukan hanya kamu yang celaka, semuanya akan kena juga. Termasuk aku," kata Giri yang merasa ada sesuatu.
"Udah tuwir, nih ... Sok bijak. Sok kasih nasehat," ejek Lisa. Sekaligus protes.
"Bukan sok bijak. Buktinya, saat aku bilang Arka suka kamu, eh ternyata beneran. Trus kamunya mau. Huh," cibir Giri. "Itu berarti feelingku tepat. Lagipula yang tua kan kamu, bukan aku."
__ADS_1
"Kalau aku lebih tua, seharusnya kamu lebih sopan." Lisa yang sudah menyelesaikan membuat minuman mendelik.
"Enggak. Soalnya kamu sering mirip bocah."
"Kaya' Aksa, nih ..." Lisa tidak suka.
Sekilas Lisa ingat soal Aksa yang seringkali menyebutnya bocah. Jadi tanpa sadar bibirnya menyebut nama itu. Sedikit keras, hingga Aksa yang ada di ruang tamu mendengarnya. Ia menengok ke asal suara. Lalu mengerjapkan mata.
Setelah mendelik ke Giri, Lisa memilih segera membawakan minuman ke Aksa.
"Kalian membicarakan aku?" tanya Aksa langsung.
"Kamu menguping?" Lisa protes. Sedikit terkejut juga.
"Tidak menguping pun aku bisa mendengarnya. Kalian berdua bicara terlalu keras dan tanpa menyembunyikan sesuatu," kata Aksa. Lisa menipiskan bibir menoleh ke arah belakang. "Dia Giri?" tanya pria ini ingin tahu.
"Tidak perlu ingin tahu," pangkas Lisa. "Kamu turun dari mobil dan duduk di sini saja, sudah cukup membuatku waspada. Jadi jangan tanya-tanya hal lain."
Aksa tergelak ringan.
"Walau kamu membentengi keluargamu seperti itu pun kalau aku mau, aku bisa mendapatkan informasi semuanya. Karena aku sudah tahu siapa kamu," tunjuk Aksa dengan tersenyum menyeringai.
Lisa berdecih.
______
__ADS_1