
Lagi. Arka menemukan gadis ini muncul bersama dua orang saudaranya. Padahal dia sudah senang saat melihat Lisa sendirian. Ternyata ada Aksa disana. Dia harus menelan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya demi menyelamatkan Lisa.
"Hai," balas Arka menyapa Allen. Ia tersenyum saat adik sambungnya itu mendekat.
"Karena waktu itu kakak sudah menang, kali ini juga harus menang ya. Biar dapat piala jadi nomor satu. Mama pasti bangga," kata Allen memberi semangat.
"Ya. Aku memang harus menang," kata Arka seraya tersenyum. Lalu ia melihat ke Aksa yang berada di dekat Lisa. "Aku heran ada Kak Aksa di sini." Bukan kebiasaan Aksa berada di sekitar Allen. Dia tahu itu.
"Aku hanya mendapat tugas menjaga Allen dari papa," kata Aksa. Memang alasan itu benar adanya. Manik matanya melirik ke arah Lisa dan mendapatkan ide. "Juga menjaga tunanganku tentunya," kata Aksa seraya menarik lengan Lisa pelan untuk mendekat padanya.
Lisa terkejut. Dia tidak nyaman dengan itu. Namun mau menolak, ia takut hubungannya dengan Arka terbongkar. Arka melihat itu dengan menipiskan bibir. Tentu dia tidak suka.
Bagi Aksa, Lisa memang tetap adalah tunangannya. Karena menurutnya tidak ada orang lain yang tahu bahwa gadis ini adalah palsu. Tentu alasan yang ia lontarkan barusan adalah tepat menurutnya.
Namun, bagi Arka yang sebenarnya tahu siapa Lisa, ini adalah hal menyebalkan baginya.
Lisa mengerjapkan mata.
Aksa mengalihkan pandangan pada Allen. Dia tidak ingin melihat Lisa dan Aksa bersama. Memilih mengajak ngobrol Allen, daripada berbicara dengan mereka. Lisa sedikit terabaikan. Aksa melepas tangan Lisa.
Aksa yang melihat Arka mengabaikannya, mendengus. Dia sadar hubungan mereka tidak dekat. Tidak sengaja ia melihat Lisa melihat ke Arka. Manik matanya mengerjap. Ia sampai menoleh ke Arka dan Lisa bergantian.
"Ada yang ingin kamu katakan pada Arka?" tanya Aksa pada Lisa tiba-tiba.
"Ya?" Lisa terkejut. Mendengar namanya di sebut, Arka menoleh.
"Aku lihat kamu melihat ke Arka. Ada yang ingin kamu katakan pada adikku?" tanya Aksa lagi. Allen mendapat telepon lagi. Ia segera menjauh dari Arka tanpa permisi.
"Itu ..." Lisa kebingungan. Dia memang ingin bicara dengan Arka, tapi bukan di sini. Bukan sebagai Yora.
"Arka!" Sabo muncul. "Sebentar lagi kamu main. Anak-anak heboh nyariin kamu." Sabo muncul di sana. Lisa mendelik dan langsung menunduk. Aksa melihat itu.
"Ya," sahut Arka.
Awalnya Sabo hanya melihat ke Arka, tapi bola mata Sabo menemukan Lisa di sana.
"Lisa?" tegur Sabo. Lisa sudah mencoba tidak mempedulikan, tapi Sabo ngotot untuk menyapa. "Hei. Kenapa mengabaikan aku?" tegur Sabo makin keras.
__ADS_1
Sudaaahhh ... Jangan nyapa aku dulu sekarang. Lisa berharap.
Arka yang tahu Aksa memperhatikan Sabo dan Lisa, segera menarik bahu temannya.
"Sebaiknya kamu juga ikut aku ke sana. Bukannya Sera ada di sana nungguin kamu?" ajak Arka yang berusaha mengalihkan perhatian Sabo.
"Iya benar. Hei, Sa! Sera nyariin kamu di sana!" teriak Sabo memaksa. Padahal Arka sudah menyeret tubuhnya untuk pergi menjauh. Lisa meringis dan menggerutu di dalam hati.
"Hei. Kamu kenal dengan mereka?" tanya Aksa lirih. Dia tahu ada Allen yang masih menerima telepon di sana.
Belum selesai berdebar karena harus menghindari Sabo, kini Aksa menambahkan pertanyaan baru yang membuat Lisa kalang kabut.
"Tidak," sahut Lisa singkat.
"Tidak? Jelas sekali bocah itu memanggil namamu," desis Aksa.
Lisa tidak menjawab. Lantas dia memilih segera mendekat ke Allen yang sepertinya sudah selesai berbincang di telepon.
"Tadi itu kan temannya, Kak Arka ya?" tanya Allen yang pernah bertemu dengan Sabo di ruang pemain.
"Ada apa? Sepertinya dia memanggil seseorang tadi." Meski berbincang dengan orang lain, dia sempat mendengar sekilas Sabo memanggil Lisa. Hanya saja karena fokusnya terpecah sama suara di ponsel.
"Entahlah. Karena sudah bertemu Arka, lebih baik kita kembali ke tribun," ajak Lisa.
"Oh, ya. Kak Arka sudah mau main ya?" tanya Allen. Lisa mengangguk. Allen segera menggandeng lengan Lisa dan berjalan lebih dulu di depan Aksa.
**
Sepulang dari nonton, Allen merengek. Meminta Lisa menginap di rumah mereka. Lisa sudah mengatakan ada hal penting yang membuatnya wajib pulang. Aksa tidak berkomentar.
"Lebih baik menginap saja, Yora. Mama kamu juga sudah mengijinkan kok." Mama Anggita memberi dukungan pada putrinya untuk memaksa Lisa tinggal. Bahkan sudah meminta ijin pada nyonya Anne. Itu berarti dia harus mau.
Sial.
"Baiklah, Tante." Lisa harus setuju. Begitu peraturannya. Aksa yang memperhatikan gadis itu di ruang tengah, mendekat.
Mama meninggalkan Lisa dan Aksa di ruang tengah. Lisa melirik. Aksa tengah memperhatikannya dengan diam.
__ADS_1
“Aku mau ke kamar Allen. Aku mau tidur,” kata Lisa yang ingin kabur dari sana. Namun Aksa mencegah dengan merentangkan satu lengannya. Lisa langsung menghentikan langkahnya.
“Siapa bilang aku memperbolehkan kamu pergi?” Aksa menahan gadis ini. “Duduk. Aku masih butuh penjelasan banyak darimu.”
“Aku sudah bilang aku tidak tahu soal Yora,” bisik Lisa.
“Bukan. Aku tidak tanya soal dia. Aku ingin tahu soal teman-teman Aksa tadi.” Lisa menelan ludah. “Duduk. Aku sudah berbaik hati padamu. Jangan membuatku marah.”
“Oke.” Lisa akhirnya patuh. Dia duduk di sofa. Lalu menekuk jari-jarinya.
“Aku yakin teman Aksa tadi memanggilmu. Jadi katakan. Kenapa bisa mereka bisa mengenalmu?” tanya Aksa penuh selidik.
“Kamu pasti salah dengar,” dalih Lisa.
“Jawab dengan jujur.”
“Aku sudah berkata jujur.” Lisa berusaha menutupi tentang mereka. Karena jika Aksa tahu soal Sabo, itu akan merembet ke Arka. Lisa tidak mau itu ketahuan.
Terdengar suara langkah dari pintu depan. Ini membuat mereka berhenti berdebat dan menoleh.
“Kalian? Kenapa dia masih ada di sini?” tanya Arka yang muncul dengan kaos tim yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya terkejut barusan. Lisa tidak menduga akan bertemu Arka malam ini.
“Dia akan menginap di sini,” sahut Aksa mewakili Lisa yang diam saja. Sahutan Aksa sepertinya makin membuatnya terkejut. Bola mata itu melihat ke Lisa. Lantas membuang muka setelahnya. Berlalu pergi tanpa pamit yang membuat Lisa mengerjap seraya menatap punggung cowok itu.
“Kakak.” Allen muncul.
Syukurlah. Akhirnya Lisa bisa lepas dari Aksa. Ia segera mendekat ke gadis itu. Allen mengajak Lisa ke kamarnya untuk berbincang.
**
Lisa menuju ke dapur sendirian. Meskipun dia masih belum terbiasa berada di rumah ini, tapi dia tidak harus meminta Allen menemaninya saat dia haus. Dia terpaksa berjalan sendirian ke dapur. Sedikit meraba-raba karena hanya lampu pojok yang menyala.
Tangannya mencoba mencari gelas.
“Ini,” kata seseorang tiba-tiba memberikan gelas pada Lisa.
_______
__ADS_1