
Di samping rumah sebelum insiden tendangan maut.
Giri muncul di belakang untuk bantuin. Dia sudah ganti seragamnya dengan kaos.
"Gi, sini deh." Bi Sarah melambai pada keponakannya. Giri patuh saja di suruh mendekat.
"Ada apa, Bi?" tanya Giri.
"Kayaknya bibi pernah ketemu sama pria tampan tadi," bisik Bi Sarah seraya melongok ke depan. Bermaksud menunjuk tamu yang sekarang ada di dalam rumah.
"Siapa? Aksa?" tanya Giri memastikan.
"Oh, nama pria itu Aksa? Mirip namanya pacar Lisa ya ... Eh, sekarang Lisa enggak pacaran sama anak itu lagi yah?" Bi Sarah yang sejak tadi memperhatikan Aksa, ingat sesuatu. Bahkan beliau jadi ingat sama Arka juga. Karena waktu Lisa sakit, cowok itu besuk dengan trio sableng. Jadi Bi Sarah sedikit ingat.
"Ya. Lisa putus sama Arka."
"Kenapa?"
"Karena om tampan ini sepertinya." Giri menjelaskan. Jempolnya menunjuk ke arah ruang tamu.
"Kalau tampan sih, sama. Kedua-duanya memang ganteng. Cuman yang lebih dewasa emang lebih hot," kata Bi Sarah terkekeh. Giri menipiskan bibir melihat bibinya. Perempuan ini segera menghentikan kekehannya. "Bi Sarah yakin kok, pria ini bukan Pak Guru. Karena Bi Sarah pernah tahu."
"Kayaknya dia orang kaya. Bi Sarah tahu darimana?"
"Dia pernah beli makanan di warung." Bi Sarah mulai ingat.
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang, dia orang kaya. Masa di makan di warung sini ... Ya enggak mungkin," sangkal Giri.
"Mungkin. Mungkin banget, Gi. Pak Polisi yang pagi-pagi itu juga sering ke sini kan ... Trus ..."
"Jadi pria tampan ini siapa?" potong Giri dengan cepat. Kalau tidak bibinya akan bicara panjang lebar.
"Dia orang yang bersama Pak Namo. Orang yang punya proyek perumahan di selatan itu." Bi Sarah menjelaskan. "Kan enggak mungkin dia Pak Guru, Gi."
Giri tersenyum.
"Baru nyadar ya? Aku sih sudah tahu dia bukan guru-nya Lisa." Giri merasa menang.
"Jadi benar ya, dia bukan guru-nya Lisa?" Bi Sarah memastikan.
"Ya. Dia sepertinya anak pengusaha. Seperti itu lah," ujar Giri menjelaskan.
"Ya," sahut Giri mengaku akhirnya.
"Aduh ini anak." Mendengar itu Bapak kembali ke ruang tamu buat tanya.
...***...
"Maaf, saya ingin tanya. Sebenarnya Bapak ini bukan guru-nya Lisa, ya?" tanya Bapak polos. Lisa melirik ke bapak lalu ke Aksa. Meski pria itu sempat terkejut karena jatuh dari kursi karena serangan darinya, dia tetap tersenyum ke orangtuanya.
Aksa melirik ke Lisa. Gadis ini menggerakkan bola matanya memberi kode Aksa untuk tetap bersandiwara sebagai gurunya. Aksa mengerti.
__ADS_1
"Ya. Benar. Saya memang bukan guru-nya Lisa," kata Aksa mengaku. Lisa membulatkan mata. Dia pikir pria ini paham kalau mereka sepakat untuk tetap pada_Aksa adalah guru sekolahnya. Lisa menatap pria ini tajam. Aska tahu itu.
"Lalu?" tanya Bapak masih bersikeras ingin tahu. Namanya juga orang tua. Pasti rasa cemasnya besar.
"Saya ke sini memang berniat untuk melamar Lisa. Saya ini kekasihnya putri Bapak," ujar Aksa dengan tenang. Ini membuat Lisa berdiri tanpa sadar. Bapak pun terperangah kaget.
“Lisa?” Bapak terheran-heran. Pria paruh baya ini melihat ke arah putrinya tidak percaya.
..._____...
__ADS_1