
Lisa terpaksa menyetujui tawaran yang di ajukan Nyonya Anne beberapa waktu yang lalu. Ini sebagai jaminan dan juga pertukaran uang untuk biaya rumah sakit yang tidak mungkin sedikit. Apalagi bapak masih harus di opname.
"Maukah kamu menjadi puteriku?"
Tawaran Nyonya Anne beberapa hari yang lalu ternyata tidak sesederhana itu. Walaupun menggiurkan tapi tidak mudah. Lisa tidak hanya sekedar menjadi nona muda kaya raya yang hidup berlimpah harta. Ada misi yang harus di jalankan. Yaitu menjalani hidup sebagai putrinya.
"Bukankah Anda sudah mempunyai seorang puteri seperti yang anda ceritakan tadi? Kenapa perlu mengambil seorang puteri lagi ..." Nyonya itu meneguk minumannya.
"Karena saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa," jawab nyonya Anne. Lisa coba mencerna. Pasti bukan mati atau semacamnya. "Yora sudah terbaring koma selama hampir setengah tahun," lanjut nyonya Anne.
Matanya mulai berkaca-kaca. Kali ini hampir menangis. Lisa menipiskan bibir memahami keadaan. Nyonya ini pasti sangat sedih.
"Bukankah lebih baik Anda mendatangkan dokter hebat atau semacamnya untuk menyembuhkannya. Bukan mencari orang lain untuk menjadi putri anda." Kalimat Lisa sedikit kasar. Namun dia tidak bermaksud seperti itu. Dan kalimatnya benar. Nyonya itu menyeruput minumannya. Dia tidak marah mendengar perkataan Lisa.
"Dokter terbaik sudah menjalankan tugasnya dengan baik, tapi masih saja tidak bisa. Dan aku punya suatu hal yang memaksaku harus memberimu tawaran menjadi putriku." Suasana berubah. Nyonya mulai berbicara dengan nada yang serius. Terlihat dari kilat matanya.
"Aku harus mencari pengganti Yora dengan segera. Aku tidak mau kesempatan ini menghilang dariku. Terlihat tidak menyenangkan bagi orang lain, tapi ini sangat penting bagiku." Sorot mata Nyonya itu menatap Lisa dengan sungguh-sungguh. Menandakan bahwa ini bukan main-main.
Perjanjian inilah yang membuat Lisa bisa sampai di sini. Di rumah nyonya Anne sebagai Nayora Wijaya, putrinya. Lisa harus menghadapi keluarga Candika sebagai tunangan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Namaku Aksa," ucap seorang pria dari keluarga Candika. Sangat wajar jika Lisa bertanya tentang nama pria yang akan jadi tunangannya. Dia harus tahu siapa dia.
"Oh, Aksa." Lisa menanggapi pria itu dengan datar. Aksa memicingkan mata melihat ke arah Lisa. Ada sikap berbeda yang ditunjukkan gadis ini padanya.
"Hai, Kak." Muncul seorang gadis yang tadi datang bersama keluarga Candika. Dia tersenyum dengan riang. Lisa membalas senyumannya. Lalu dia berdiri di samping Lisa dan memeluk lengannya. Suasana menjadi canggung. Karena Lisa tidak tahu menahu soal gadis ini.
Siapa dia?
Diperlakukan seperti itu mata Lisa mengerjap bingung. Otak Lisa berpikir keras. Apa yang harus di bicarakan agar suasana tidak canggung seperti ini? Karena Aksa sepertinya membiarkan gadis itu muncul tanpa menanyakan sesuatu. Lisa kebingungan.
__ADS_1
"Kakak sudah sehat?" tanya gadis yang menurut perkiraan Lisa berumur tidak jauh darinya. Mungkin kelas satu SMA.
"Ya. Aku sehat," sahut Lisa singkat.
Manik mata Lisa melihat ke arah Aksa, berusaha menggali informasi dari sana.
Aksa yang menyeruput minumannya lagi, terhenti dan menatap gadis itu dari balik gelasnya. Namun dia hanya diam, tidak paham dengan tatapan Lisa yang aneh.
Akhirnya Lisa menghela napas putus asa. Lelaki bernama Aksa itu tidak memberinya petunjuk apapun. Tangan Lisa mengepal. Sementara gadis itu masih memeluk lengan Lisa dengan manja.
"Kakak tidak memelukku seperti ini lagi?" tanyanya manja.
"Eh? biasanya begitu ya?" Lisa malah bingung. Jadi dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga. Akhirnya Lisa ikut memeluk gadis itu.
"Bukankah biasanya kakak takut sama Kak Aksa?" bisiknya pelan sambil sesekali melihat ke arah Aksa. Mendengar itu sesaat Lisa terhenyak kaget dan melihat ke arah Aksa.
Jadi Yora takut kepadamu ya ... Mungkin karena dia selalu menekuk wajahnya seperti itu.
Nice, Real! Terima kasih sudah menerjemahkan kekacauan dari cara bicaraku.
Gadis itu mengangguk paham sambil meneliti Lisa dari atas sampai bawah.
Gadis kurang ajar nih melihat ku seperti itu, tapi terserahlah ...
"Kakak juga tidak ingat soal kak Aksa?" tanya dia terburu-buru dan antusias. Seakan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Lisa menipiskan bibir. Dahinya juga berkerut berpikir.
"Tidak. Aku masih ingat dengannya."
"Yah ..." Gadis itu berdecak. Seakan kecewa ternyata puteri keluarga Wijaya ini masih ingat soal pertunangannya dengan keluarga Candika. Ternyata dia masih ingat perjodohan konyol yang idenya tercetus dari kakek.
"Sepertinya kamu kecewa melihatku masih ingat dengan dia," kata Lisa menunjuk Aksa, dengan dagunya. Lisa tidak suka gaya gadis belagu di depannya itu. Gadis itu menoleh dengan mata membulat terkejut. Lalu tersenyum ramah kemudian.
__ADS_1
"Kelihatan, ya ..." ucapnya sambil tergelak geli tanpa menyembunyikan isi hatinya. Gadis itu benar-benar memberitahu bahwa dia sedang kecewa kalau makhluk di depannya ini masih ingat dengan pertunangan yang di buat oleh kakeknya. Pertunangan paksa antara Nayora Wijaya dan Aksa Candika.
Aksa melirik ke arah Lisa, memeriksa raut wajahnya. Lisa tidak bereaksi apa-apa. Dia tidak sakit hati. Dia bukan Nayora. Tidak perlu sakit hati karena mereka kecewa dengan kemunculannya sebagai Yora setelah lama koma. Lisa hanya berpikir bagaimana kalau Yora dan Nyonya Anne tahu semua ini.
"Ahh ... aku pergi dulu ya, kak" pamitnya manja ke Aksa. Dan Aksa hanya mengangguk. Sepertinya dia adik Aksa.
"Aku pergi ya, kakak Yora ..." pamitnya dengan nada seperti meledek. Lisa hanya tersenyum tipis. Bagaimana bisa wajah cantik itu memainkan peran antagonis?
"Silahkan ..." ujar Lisa mempersilahkan dengan santai. Aksa melirik lagi. Dia terusik dengan semua interaksi gadis di depannya. Dia menjadi lebih tenang, santai dan dingin.
Aksa menyeruput minuman. Memperhatikan dari balik gelasnya lagi.
Kepergian gadis itu membuat suasana sunyi diantara mereka berdua. Rupanya karena mereka berdua sedang sama-sama memikirkan sesuatu.
Gadis itu tampak aneh. Apa hanya karena lama tidak bertemu. Ataukah dia sudah belajar dengan kejadian-kejadian yang dulu? Secepat itukah? Bukankah dia koma dalam waktu yang agak lama. Aksa memperhatikan Lisa sekali lagi.
Aksa tersenyum tipis. Menggelengkan kepala. Sungguh pemikiran konyol kalau beranggapan gadis ini seperti menjadi orang lain. Aksa membuang jauh pemikirannya.
Lisa juga sedang berpikir tentang hal lain yang sangat gawat darurat.
Kapan acaranya makan nih. Aku sangat lapar. Apakah aku harus terus menerus menemaninya sambil minum? Aku butuh nasi. Aku lemas dan tak berdaya kalau tidak makan. Pukulan ku juga akan sangat lemah kalau tidak makan.
"Kau sakit hati dengan perkataan Allen barusan?" tanya Aksa yang melihat Lisa pucat. Allen? Pasti gadis itu.
"Tidak. Bukan itu. Aku lapar," ujar Lisa. Aksa memandang gadis itu tidak percaya.
Lapar?
____
TUNANGAN PALSU
__ADS_1