
Deru suara mobil berhenti di depan warung terdengar. Lisa yang melihat itu hanya melirik sekilas. Bersamaan dengan itu, Giri muncul. Dia baru pulang.
Giri yang melihat mobil itu tidak membuang pandangan kemana-mana. Ia hendak membimbing mobil itu untuk parkir di halaman sebelah yang sudah penuh. Setelah turun dari motornya, Giri melangkah mendekat ke mobil.
Tok! Tok!
Tangan Giri mengetuk kaca jendela dengan sopan. Perlahan kaca mobil turun. Dan itu menunjukkan pemilik mobil.
“Halo, Giri,” sapa orang dari dalam mobil. Ternyata itu seorang pria. Aksa tersenyum ramah.
“Oh, Om.”
“Aksa. Kamu bisa panggil aku hanya dengan nama saja atau Kak,” ujar Aksa meralat panggilan Giri untuknya.
“Ah, iya. Aku tahu. Kak Aksa parkir di sana ya? Biar jalan tidak tambah sempit,” kata Giri.
“Baiklah.” Aksa menjalankan mobilnya untuk parkir di area halaman samping. Meskipun dua mobil bisa berpapasan sekaligus di dalam gang ini, tapi mobil di harapkan parkir di halaman.
__ADS_1
Mendengar deru mobil masuk ke halaman, Bi sarah dan Lisa menoleh. Ibu yang keluar sebentar untuk membuang sampah ikut menoleh. Namun beliau masuk ke dalam warung kembali karena ada pembeli.
“Siapa?” tanya Bi Sarah masih mencoba mengamati siapa pembeli yang datang ini. Karena menurutnya, tidak ada pelanggan yang memakai mobil yang di pakai Aksa itu. Bi Sarah sedikit hapal dengan mobil pelanggan warung.
Tangan Lisa bergerak membuat minuman lagi. Namun pandangannya masih ke arah luar. Dimana mobil Aksa parkir.
“Masuk aja, Kak. Sepertinya kakakku lagi bantuin ibu di belakang. Aku panggilkan dulu,” kata Giri.
“Ya.” Aksa pun turun seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam mobilnya. Ternyata itu sebuah oleh-oleh. Agak besar hingga membuat orang yang keluar dari warung melihatnya.
“Perlu aku bantu, Kak?” tanya Giri urung jalan lebih dulu karena melihat Aksa membawa sesuatu.
“Eh, itu kan orang yang waktu itu. Bawa apa dia?!” seru Bi Sarah sedikit surprise. “Lis, Lis. Coba lihat deh!” Bi Sarah menowel tubuh keponakannya.
“Apa Bi?” tanya Lisa tanpa menoleh. Dia selesai membuat kopi pesanan. Lalu siap mengantar ke depan.
“Lis!” panggil Giri.
__ADS_1
“Hemm, apa?!” Lisa menengok sambil membawa nampan. Dia heran Giri bawa bingkisan. “Apaan itu, Gi?!” tanya Lisa seraya mendekat. Bi Sarah tetap memperhatikan sambil mengerjakan pekerjaannya.
“Ada tamu buat kamu.” Giri menunjuk ke arah Aksa di belakangnya dengan dagunya. Lisa mengikuti penunjuk dari Giri. Matanya melebar saat melihat itu Aksa. Karena terkejut, ia berbalik ke arah lain. Lisa mengabaikan Aksa.
Gadis itu memilih menyerahkan kopi pesanan daripada menerima kedatangan Aksa. Bi Sarah jadi menghampiri tamu mereka karena Lisa berlalu begitu saja.
“Nyari Lisa ya?” sapa Bi Sarah ramah. “Ini kan temannya Pak Namo yang garap proyek perumahan di selatan sana, kan?” Bi Sarah masih ingat. Karena Pak Namo pelanggan warung ini.
“Ya,” sahut Aksa sambil tersenyum ramah. Bi Sarah melihat Giri masuk ke dalam rumah sembari membawa bingkisan. Jadi beliau juga ikut melihat bingkisan yang ada di tangan Aksa dengan heran.
“Ini mau di bawa kemana?” tanya Bi Sarah.
“Ini buat Lisa dan keluarga,” jawab Aksa. Bi Sarah mendelik.
“Beneran?” tanya Bi Sarah tidak percaya.
“Iya. Ini buat kita,” timpal Giri yang muncul lagi keluar setelah meletakkan bingkisan tadi di dalam. Semua orang yang sedang makan di warung melihat ke arah Aksa. Dengan pakaian kerja mahal, tampang tampan dan kaya itu, dia menarik perhatian banyak orang.
__ADS_1
..._________...