Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 158 Bersama keluarga Candika


__ADS_3

"Jangan terlalu jelas memandangnya, aku bisa cemburu buta," tegur Liliana lirih pada Arka yang ketahuan tengah mencuri pandang pada Lisa. Ada ledekan juga di dalam kalimatnya. Ciri khas Liliana dalam menghadapi Arka, bicara langsung pada intinya.


Arka menoleh dan mendengus karena ketahuan sedang memperhatikan Lisa. Ia mengalihkan pandangan dari gadis kesayangannya itu.


"Meski aku baik, kalau kamu terus-terusan seperti itu, aku juga bisa jadi buas," canda Liliana seraya mendelik cantik.


"Terserah," kata Arka dingin seperti biasa. Liliana sudah paham itu. Dia tidak marah. Hanya menggelengkan kepala saja sambil tersenyum.


"Sebaiknya kamu ..."


Duk! Tanpa sengaja Lili kesandung kaki kursi yang di duduki Arka. Ini membuat tubuh gadis ini limbung.


"Hei!" Arka terkejut dan langsung menangkap tubuh Lili yang hampir saja jatuh karena terantuk kursi. "Jalan yang benar," geram Arka.


Lili yang berada dalam dekapan lengan Arka tersenyum. "Iya, maaaf."


Arka itu dingin, tapi peduli. Dia berharap pada secercah kebaikan cowok ini bisa membuat mereka bersatu dengan damai.


"Terima kasih," kata Liliana sambil senyum-senyum. Ini membuat Arka melepas dekapannya dengan cepat. "Dasar cowok dingin. Nggak bisa romantis dikit demi tujuan kita berdua tercapai?" tegur Lili pelan lalu menjauh dari Arka yang memilih duduk di ujung sendirian.


"Ah, mereka bermesraan," kata Allen yang tidak sengaja menemukan Arka dan Liliana.


"Suatu saat kamu juga begitu kalau punya kekasih," kata Yora. Allen ketawa. Lisa tersenyum. Dia ikut membantu mereka.


"Ah, Yora dan Lili sudah datang rupanya." Anggita muncul dari dalam rumah.


"Iya," sahut Liliana. Yora tersenyum. Tatapan Anggita tertambat pada Lisa. Gadis ini mengangguk sopan. Anggita menanggapi dengan anggukan juga. Kemudian dia mendekati gadis ini karena ingin tahu mantan kekasih Arka.


Aksa yang tahu Lisa di dekati waspada. Meskipun tengah ngobrol, dia memperhatikan dengan seksama.


"Ini ... kekasih Aksa?" sapa Anggita.


"Ya, saya Lisa. Salam kenal," sahut Lisa sopan.


Anggita terdiam sejenak tanpa bicara di depan gadis ini. Lisa mengerjapkan mata tidak mengerti kenapa perempuan paruh baya ini diam.


Apa yang dilakukan mama? Arka menggerutu melihat mamanya. Bahkan semuanya heran melihatnya. Aksa terpaksa mendekat karena suasana canggung itu.

__ADS_1


"Ah, semuanya sudah datang ya." Adi wangsa muncul di ruang makan. Itu membuyarkan lamunan Anggita. Lalu beliau menemukan Aksa yang mendekati seorang gadis. "Ini Lisa, gadismu Aksa?" tanya Adiwangsa ramah.


"Ya," sahut Aksa. Lisa mengulurkan tangan. Dia sudah tahu masing-masing orang di dalam keluarga ini. Dia tidak perlu menghapal lagi. Mereka pun bersalaman. "Selamat datang di keluarga Candika," sambut Adiwangsa saat berjabat tangan dengan Lisa.


Anggita langsung ikut bersalaman karena dia sudah di peringati suaminya untuk bersikap ramah pada calon yang di bawa Aksa.


"Walaupun pertama kali bertemu, om ini merasa sudah mengenal kamu," canda Adiwangsa.


Mungkin bukan candaan, tapi memang karena mereka sempat bertemu dalam bentukan orang lain. Yaitu saat Lisa menjadi Yora. Memori bawah sadar bekerja kali ini, hingga benak Adiwangsa merasa pernah bertemu sebelumnya.


Suasana akrab makin terasa kental saat Kakek muncul di meja makan. Lisa patut bersyukur semua bisa berjalan damai. Termasuk penyambutan dirinya sebagai anggota baru di dalam lingkaran calon-calon istri keluarga Candika.


****


Satu tahun kemudian. Tepatnya di bulan Mei.


Sejak tadi pagi hujan turun. Itu menambah hawa dingin di tubuh para siswa dan siswi yang mengerjakan soal ujian negara. Namun mungkin itu lebih baik daripada hawa panas yang menyengat. Setidaknya otak mereka tidak bertambah panas karena memikirkan soal-soal yang ada di dalam mereka.


Setelah mata pelajaran kedua selesai di kerjakan, bel berbunyi tanda berakhirnya ujian. Lisa beranjak dari kursi dan berjalan keluar. Ujian ini dia berpisah ruangan dengan Sera sesuai abjad.


"Gimana tadi?" tanya Sera.


"Ya, begitulah ..." Lisa garuk-garuk pelipisnya.


"Lisa sih, enggak masalah dapat nilai bagus atau enggak. Bukannya sebentar lagi jadi nyonya. Enggak lulus sekalipun enggak enggak apa-apa. Iya kan Lis?" celetuk Nero.


"Sialan," umpat Lisa sambil melirik tajam. Nero terkekeh. Mereka pun berjalan beriringan.


"Enggak nyangka kita sebentar lagi bakal lulus," kata Aris bernada sedih. Langsung semua merespon dengan menganggukkan kepala.


"Emang situ lulus?" ledek Nero.


"Kenapa? Kamu takut aku lulus dan kamu enggak ada teman untuk tinggal setahun lagi?" balas Aris.


"Eh, siapa yang mau tinggal setahun di sekolah ini? Aku juga mau lulus tahu." Nero tidak terima.


"Benar. Kita bentar lagi lulus dan sibuk dengan kegiatan masing-masing," kata Sera yang langsung di beri anggukan setuju oleh yang kain.

__ADS_1


"Kamu setelah lulus mau kemana Ser?" tanya Lisa.


"Kuliah," jawab Sera.


"Wahh ... anak paling pintar di antara kita berlima ini memang tujuannya pendidikan melulu," kata Nero takjub. "Sabo kamu tinggal dulu ya Ser?"


"Sialan. Kenapa Sera harus ninggalin aku, sableng?!" teriak Sabo tidak terima. Ia langsung mendorong bahu Nero.


"Hei ..." Sera memukul lengan Sabo. Cowok itu pun tidak meneruskan menyiksa Nero. "Sabo ikut kuliah juga bareng aku, kok." Sera kasih penjelasan.


"Eh, benar Bo?" tanya Nero. Aris dan Lisa juga ikut noleh.


Sabo mengangguk. "Ya. Aku akan terus mengawal Sera." Kalimat Sabo ini membuat Sera ketawa.


"Mau jadi apa kamu emangnya, sampai harus kuliah segala?" kata Aris menyebalkan. Sabo mendelik. Sera senyum. Lisa terkekeh sambil mukul lengan Aris.


"Aku mau jadi sarjana terus masuk kantor pemerintahan untuk jadi PNS. Soalnya aku mau menikah dengannya. Bapaknya Sera kan PNS. Jadi aku harus buat diriku ini punya hal penting yang bisa di buat untuk melamar dia," kata Sabo mengharukan. Sera menoleh pada Sabo dan tersenyum hangat.


"Gila. Impian kamu indah banget, Bo. Aku pikir kamu bakal jadi tukang pukul atau semacam itu," kata Nero takjub.


"Kampret!" umpat Sabo membuat semuanya tertawa.


"Si Arka mana yah? Kok enggak kelihatan." Nero menoleh ke kanan dan kiri. Setelah waktu berlalu, mereka bisa bersikap santai lagi saat membicarakan soal Arka di depan Lisa. Karena mereka tahu soal hubungan Lisa dan kakak tiri Arka semakin dekat, itu berarti keduanya sudah punya kehidupan baru sendiri-sendiri.


"Paling juga bareng Lili. Kita mah enggak boleh ganggu dia," kata Sabo. Mereka bertiga berjalan di belakang Lisa dan Sera yang ada di depan.


"Hebat ya Ser. Sabo jadi cowok keren," puji Lisa pelan.


"Kan si Aksa juga keren Lis," ujar Sera.


"Dia sih memang selalu keren," ujar Lisa.


"Kalau kamu, gimana kedepannya? Langsung menikah sama Aksa atau gimana?" tanya Sera.


..._______...


__ADS_1


__ADS_2