
Sekilas napas Lisa tercekat, karena pria itu tiba-tiba mendekat.
"Aku ingin ke lantai atas lebih dulu." Aksa mengambil keputusan. Lisa mengangguk saja. Karena pria ini memang punya hak untuk menjadi prioritas. Lisa menggeser tubuhnya. Membiarkan Aksa memonopoli tombol lift. Dia tidak peduli dengan itu.
Tidak ada pembicaraan apapun. Aksa diam. Sementara Lisa merapal kalimat, agar segera keluar dari lift dan kembali ke tempat kerja.
Pintu lift terbuka. Dari lorong yang terlihat dari dalam kubus lift, Lisa kenal dengan lantai itu. Ini lorong menuju ruangan Aksa. Tubuh pria ini mulai berjalan keluar, tanpa disadari Lisa ... tubuhnya juga ikut keluar. Rupanya tangannya di tarik oleh Aksa untuk ikut keluar dari lift.
"Hei, Aksa. Lepaskan tanganku," kata Lisa. Namun Aksa hanya diam. "Hei, kamu dengar enggak sih? Aku masih dalam jam kerja. Jadi aku tidak bisa seenaknya memakai waktu bekerjaku." Lisa panik karena Aksa terus memegang tangannya dan membawanya masuk ke lorong perusahaan.
Tepat di depan pintu ruangannya. Aksa berhenti. Lalu dia melepaskan tangan Lisa.
"Kenapa sih?!" seru Lisa kesal lagi.
"Aku sudah datang mencarimu berkali-kali, tapi yang muncul hanya Giri atau keluargamu. Bahkan temanmu juga menyembunyikan mu."
"Memangnya kenapa mencariku? Urusan kita sudah selesai. Bukankah Yor ..." Kalimat Lisa terhenti di jalan. Tiba-tiba Aksa menutup mulutnya dengan tangan. Bola mata Lisa mengedip bingung.
"Ada banyak orang disini. Kamu tidak bisa sembarangan mengatakan soal Yora," kata Aksa pelan. "Sebaiknya kita masuk saja." Aksa ternyata punya rencana mengajak gadis ini masuk ke dalam ruangannya. Aksa langsung menutup pintu dengan rapat.
"Kamu menipuku," sungut Lisa.
"Aku harus melakukannya karena jika tidak, kamu akan menghilang lagi. Jadi aku tidak bisa menemui mu." Terang-terangan Aksa mengatakan bahwa dia menipu Lisa dan ingin gadis ini masuk ke dalam ruangannya.
"Ini jam kerja. Aku bisa mendapat penilaian buruk di mata pemilik tempatku bekerja jika tidak pulang. Biarkan aku pulang," rengek Lisa.
"Berikan nomor telepon tempat kamu bekerja. Aku akan membayar mereka atas waktumu di sini bersamaku."
"Jangan melakukan hal-hal yang tidak waras, Aksa." Lisa yang awalnya merengek, kini jadi garang karena Aksa mengatakan hal yang aneh.
"Aku hanya butuh bicara."
Lisa diam.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi mirip bocah sekarang?" tanya Lisa melipat tangannya. Aksa menghela napas. "Padahal di sini aku yang masih bocah."
"Oh, ya? Mungkin agar kita bisa berinteraksi dengan baik. Jadi itu bagus untukku. Agar kita bisa mengerti pikiran kita sebagai sesama bocah." Kalimat Aksa sedikit membingungkan.
"Jangan main-main," kata Lisa. Dia memilih berjalan ke pintu untuk langsung pergi ke luar. Brak! Namun tangan Aksa yang panjang segera menutup pintu dari belakang. Lisa berjingkat karena terkejut. Untung saja masih ada helm di kepalanya. Kalau tidak, Lisa akan merasa terkekang dengan kedekatan tubuh mereka sekarang.
"Jadi kamu memilih pergi meskipun aku sengaja mengajak mu kesini?" tanya Aksa dengan tangannya tetap menempel di pintu yang sudah tertutup.
"Aku sedang berkerja, Aksa," sahut Lisa seraya berusaha berkelit dari kungkungan lengan pria ini.
"Bukan karena ingin menghindari ku?"
"Kenapa aku harus menghindari mu? Aku hanya tidak ingin kita mengenal lagi. Bukan menghindar. Beda," ralat Lisa.
"Mungkin karena aku menanyakan perasaanmu padaku secara tiba-tiba," kata Aksa kembali mengingatkan gadis ini pada pertanyaan Aksa yang dia rasa sangat aneh.
Brak! Pintu terbuka tiba-tiba. Lisa dan Aksa menoleh ke arah pintu.
"Aksa, aku pikir aku ... " Noah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Itu membuat keduanya terkejut. "Oh, ada orang. Hei, apa itu kamu ... Lisa?" tanya Noah yang menyadari wajah Lisa di balik helm.
"Kenapa bisa ada di sini?" tanya Noah seraya mengerjapkan mata. Lalu tersenyum nakal sambil melirik ke arah Aksa. "Sepertinya aku mengganggu, ya?"
"T-tidak. Kak Noah tidak mengganggu. Justru menyelamatkan aku. Terima kasih." Lisa membungkukkan badan lalu segera melesat keluar. Aksa membiarkan sambil menoleh sekilas. Lisa kabur lagi.
"Wah, wah ... Aku benar-benar tidak menyangka. Sedang apa dia? Mendatangimu atau apa?" tanya Noah takjub.
"Aku yang membawanya masuk. Tidak mungkin dia sengaja menemuiku," kata Aksa setelah menghela napas. Lalu jalan memutar menuju kursi kerjanya. Sementara Noah duduk di sofa. Tepat di depan meja kerja Aksa. "Kenapa kembali? Seingat ku, kamu makan siang bukan?" tanya Aksa sedikit dongkol.
"Aku kembali karena aku pikir lebih baik makan di kantin perusahaan saja denganmu. Namun aku tidak menyangka kalau ternyata aku merusak rencana mu." Noah tampak menggoda Aksa. Pria itu hanya mendengus.
...***...
Lisa menghela napas lega di area parkir. Ia berulang kali menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Gila. Kenapa jadi aneh tadi. Bisa-bisanya dia seperti itu," omel Lisa. Saat itu Arka muncul di sana. Tidak sendiri. Dia sedang bersama Liliana. Lisa menundukkan pandangan. Tidak ingin mata mereka bersirobok.
Arka melihat Lisa. Tidak sengaja ia melihat gadis ini di sana. Karena Arka terus saja melihat ke arah lain, Liliana ikut melihat ke arah yang sama.
"Oh, itu Lisa?" tanya Lili yang akhirnya tahu bahwa ada mantan Arka di sana. Arka langsung membuang muka.
"Kita segera masuk saja. Bukannya kamu bilang mama memintaku ke sini?" Arka ingin segera membuat Liliana pergi dari sana.
"Ada Lisa. Kamu tidak ingin menyapa?" tanya Liliana membuat Arka menatapnya lurus.
"Kamu tahu kan kita putus karena kamu, tapi kenapa kamu justru ingin aku menyapanya? Padahal saat ini aku sedang bersamamu, dan kamu juga menginginkan aku putus dengannya." Arka dongkol.
Liliana tersenyum.
"Agar kamu terbiasa menyapanya meski kamu denganku. Karena kita akan sering bareng seperti sekarang." Bola mata Liliana terlihat serius meski cara bicaranya santai.
Arka diam sejenak. Kemudian menggeram kesal sambil melangkah meninggalkan Liliana. Sesaat sebelum masuk ke dalam gedung perusahaan, terdengar suara keributan di luar.
Arka ikut menoleh karena suara teriakan seseorang.Ternyata gadis itu jatuh dari sepeda. Arka langsung berlari ke arah gadis itu.
Tidak begitu fatal. Hanya saja bikin membuat Lisa lecet di sikunya. Namun ia bisa langsung menarik tubuhnya untuk berdiri tegak.
"Sudah bisa berdiri?" tanya perempuan yang tadi membantunya. Kepala Lisa mengangguk. "Kalau begitu hati-hati."
"Iya. Terima kasih." Lisa membungkuk pada seorang pria yang juga membantu membangunkan motornya yang sempat ambruk.
"Lisa! Kamu enggak apa-apa?" tanya Arka yang datang dengan cemas. Lisa yang duduk dengan di temani orang yang melihatnya terjatuh dari sepeda, terkejut dengan kemunculan cowok ini. Lalu dia mencoba tidak menoleh. Melihat Lisa sudah bisa berdiri, yang lain pun bubar. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Arka mengulangi pertanyaannya.
"Enggak. Enggak apa-apa. Tadi hanya ke selip. Jatuhnya enggak seberapa." Lisa menunjuk jalanan tempat ia jatuh tadi. Ia gugup, tapi berusaha tampak biasa saja. Lisa melihat Liliana yang muncul di belakang Arka.
"Enggak luka parah?" tanya Liliana sambil melihat ke tubuh gadis ini.
"Enggak. Hanya lecet sedikit. Terima kasih. Aku pergi." Lisa segera menyalakan motornya dan segera berlalu dari tempat itu. Arka menatap gadis itu hingga lenyap dari pandangan.
__ADS_1
..._____...