
Sialan. Aku masih bisa merasakannya, gumam Lisa pelan seraya menyentuh bibirnya. Ingatan soal ciuman pria itu kembali memenuhi pikirannya. Wajah Lisa memerah tanpa sadar.
Jadi begini rasanya ciuman? Bikin orang gila saja karena ingat terus. Lisa menggelengkan kepalanya. Dasar si Aksa, kenapa terobsesi dengan bibir sih!
Lisa berulangkali mengubah ekspresi. Ini sempat membuat orang yang melewatinya terheran-heran.
"Pagi," sapa Sera yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya. Lisa menoleh ke samping dengan cepat karena terkejut. “Hei, ada apa denganmu? Wajahmu merah. Kamu sakit?” tanya Sera cemas seraya memegang kening Lisa. Gadis ini menjauh karena ulah tangan itu.
“E-enggak. Aku enggak apa-apa.” Lisa gugup karena terkejut di tanya seperti itu. Jadi bisa di simpulkan bahwa dia memang sedang malu karena ingat perkara ciuman itu.
“Kening kamu enggak panas, tapi kenapa wajahmu merah? Ini mencurigakan. “Bahkan kamu gugup saat aku bertanya. Berarti kamu tahu penyebab asli wajah kamu merah. Apa yang kamu pikirkan barusan?” serang Sera.
“Ih, apa sih. Kebiasaan nih suka main detektif-detektifan,” kilah Lisa ingin Sera segera berpikir untuk berhenti membahas soal wajahnya yang memerah karena malu.
Sera bukannya diam malah memperhatikan Lisa secara seksama. Melihat ini Lisa makin panik. Bahkan dia tanpa ada sadar berusaha menutupi bibirnya. Padahal Sera sepertinya bukan sedang memperhatikan bibirnya.
“Kalian ciuman?” tebak Sera membuat Lisa histeris.
“Hah?!” Lisa segera menutup bibirnya dengan kedua tangan.
“Eh, kamu beneran ciuman sama Aksa?!” Sera yang menebak dengan asal ikut histeris. Dia juga tidak menduga. Lisa mendelik karena sekarang ia malah ketahuan karena tingkahnya sendiri.
...***...
__ADS_1
“Apa bengkak?” tanya Lisa khawatir. Sera mencoba memperhatikan. Kemudian memeriksa.
“Enggak tuh. Kenapa? Kepikiran terus ya?” goda Sera. Lisa meringis.
“Seperti bibirku terasa menebal saja. Kayak bibir Aksa masih ...” Blush! Lisa malu lagi.
“Woowww ... “ Sera heboh lihat Lisa kebingungan. “Apa segitu indahnya sampai enggak bisa untuk enggak mikirin?” tanya Sera sambil memainkan ekspresinya.
“Aku enggak tahu. Ini kan yang pertama. Jadi ini ... Pengalaman pertama yang aneh dan fenomenal buatku.”
Sera tertawa.
Kalimat ini membuat Lisa langsung tersenyum sendu.
“Sialan. Dia memang ahli. Dia kan playboy.” Lisa tersenyum menertawai kenyataan itu.
“Eh, kenapa aku merusak suasana bahagia kamu ... Maaf, Lis.” Sera jadi merasa bersalah.
Plak! Lisa menepuk lengan Sera.
“Enggak apa-apa. Seperti yang kamu bilang, sudah tahu dia playboy aku tetap suka. Gila ya?” Lisa terkekeh. Sera ikut tersenyum. Mereka tidak tahu kalau Arka ada di belakang mereka. Sejak tadi ia melihat ke Lisa dan sempat mendengar akhir kalimat. Lalu ia tersenyum tipis. Mengangguk paham situasi yang ada di antara Lisa dan kakak tirinya.
__ADS_1
Akhirnya apa yang aku harapkan terjadi. Terus bahagia Lisa, karena dengan begitu ... Tidak sia-sia aku melepas kamu.
...***...
Pulang sekolah.
Yora mengambil napas. Kemudian menghempas napas itu perlahan. Ia tengah berdiri di depan gedung perusahaan milik keluarga Candika. Ia bersama Maya tadi. Namun ia suruh pulang.
"Apa enggak apa-apa aku seperti ini?" gumam Yora. Ia melihat ke dalam gedung perusahaan.
"Bukankah Anda Nona Yora, Tunangan Tuan Aksa?" tegur satpam yang hapal dengan wajahnya.
"Ah! I-iya." Yora terkejut sampai ia berjingkat tadi.
"Maaf sudah mengagetkan Anda." Satpam itu merasa bersalah.
"I-iya. Tidak apa-apa."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak Pak. Terima kasih," kata Yora. Satpam itu mengerti. Dia mempersilakan Yora naik ke lantai atas menemui Aksa. Yora hanya mengangguk saja.
...____...
__ADS_1