Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab.94 Menemukan Lisa


__ADS_3

Berita putusnya Lisa dan Arka sempat bikin lainnya canggung untuk mengajak Arka. Apalagi Lili kerap muncul bersamanya. Namun Lisa sudah memberi pengertian kalau mereka boleh mengajak Arka saat semuanya lagi nongkrong.


 


"Anak-anak tetap enggak nyaman buat ngajak Arka karena kalian putus, Sa," kata Sabo memberi tahu.


 


"Kenapa enggak nyaman? Yang putus kan aku.” Lisa menipiskan bibir melihat ulah teman-temannya. “Itu enggak masalah, kok. Aku dan Arka enggak apa-apa," sahut Lisa.


 


“Nero bilang kasihan kamu-nya kalau kita maksa ngajak Arka dan kamu bareng,” imbuh Sabo.


 


“Nero lebay ah,” sungut Lisa. Namun sebenarnya dia mengerti itu bocah sangat care sama dirinya. “Kalau sikap mereka ke Arka menjauh, aku yang enggak enak, Bo.”


 


“Iya juga.” Sabo setuju.


 


"Lis, sepertinya itu si pria tampan deh," kata Sera sambil menunjuk pria dengan setelan jas di depan sekolah. Agak jauh. Tampilannya yang mencolok membuat semua mata memandang ke arahnya. Jadi Sera yang masih berdiri agak jauh saja kelihatan. Sabo dan Lisa menoleh ke arah yang di tunjuk gadis ini.


 


Pria itu tidak patah semangat rupanya. Dia datang ke sekolah Lisa. Menunggu gadis itu pulang di depan sekolah.


 


Sial.


 


"Kamu putus karena dia, Sa?" tanya Sabo membuat Sera menyodok perutnya. Sabo meringis. Lisa mengabaikan pertanyaan Sabo.


 


"Tolong kalian jalan lebih dulu keluar. Saat dia tanya aku, katakan aku sudah pulang," pinta Lisa tiba-tiba. Sabo dan Sera heran.


 


"Kamu mau kemana, Sa?" tanya Sera.


 


"Aku ada perlu." Lisa kembali masuk ke dalam gedung sekolah. Sabo dan Sera tidak mengerti. Namun mereka tetap jalan ke depan. Seperti dugaan Lisa, pria itu menghentikan langkah Sera dan Sabo.


 


"Lisa tidak bersama kalian?" tanya Aksa. Sabo dan Sera menggeleng hampir bersamaan.


 


"Dia sudah pulang," kata Sera.


 


"Ya. Bel bunyi, dia langsung lari pulang," imbuh Sabo yang bermaksud memberi tambahan info, tapi Sera melirik tajam. Karena itu terkesan bohong, walaupun sebenarnya memang sedang berbohong.


 


Aksa mengangguk.


 


"Ada perlu? Nanti aku beritahu Lisa," kata Sera dengan ramah.


 


"Tidak perlu. Terima kasih."


 

__ADS_1


...***...


 


Persiapan pesta perusahaan di adakan hari ini. Karena besok sudah hari ‘H’nya.


 


"Jadi Yora juga di undang?" tanya Noah yang berdiri di samping Aksa yang memperhatikan ke sekitar. Tidak ada jawaban apapun dari pria ini. Itu membuat Noah menoleh ke samping. Tatapan mata itu tidak terfokus pada apa yang ada di depan. Bola mata Aksa sedang menerawang jauh. "Hei," tegur Noah.


 


Sesaat pria ini tersentak kaget. Lalu menengok ke samping.


 


"Kamu mengajakku bicara?" tanya Aksa tersadar. Noah mengangguk. "Oh, maaf. Apa yang kamu tanyakan?"


 


Noah mengamati Aksa.


 


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sepertinya kamu bukan fokus ke persiapan acara di depan sana. Ada pikiran lain yang membuatmu melamun," tanya Noah. Sebagai saudara dan juga sahabat yang dekat, dia ingin Aksa berbagi. Pun ini tidak biasanya.


 


"Oh, tidak. Tidak ada."


 


"Jika orang menjawab tidak ada, biasanya justru ada."


 


"Hei ... kenapa mendesak ku?" Aksa tidak setuju.


 


"Ini tidak seperti biasanya," jelas Noah. "Kamu tidak pernah tidak fokus seperti sekarang. Jarang sekali kamu seperti ini."


 


 


"Lelah badan atau lelah hati?" tebak Noah yang sebenarnya sudah agak mengerti. Aksa menoleh dengan tatapan malas. Noah tersenyum. "Rupanya memang masalah hati, ya?" Noah terkekeh. Ini sangat menghiburnya. Si playboy ini sungguh gelisah karena hatinya sedang tidak tenang. Mode yang tidak pernah di alami oleh Aksa.


 


Aksa hanya mendengus pelan. Berkali-kali ia ke rumah gadis itu, tapi nyatanya hanya Giri atau bibinya yang muncul. Gadis itu tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Sekalipun. Setelah putus dari Arka waktu itu, Lisa seperti benar-benar menghilang.


 


Persiapan ulang tahun perusahaan belum selesai. Namun ini sudah waktunya makan siang. Noah berniat keluar. Sebenarnya Aksa tidak perlu melihat prosesnya. Bahkan tahun-tahun kemarin, pria ini tidak muncul saat semua sedang mempersiapkan. Mungkin saat hampir selesai, Aksa muncul setelah di telepon Noah.


 


"Sebentar lagi kita makan siang bareng?" tanya Noah.


 


"Aku tidak ingin keluar. Karena aku ingin ada disini, masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan," tolak Aksa.


 


"Oh, oke. Baiklah kalau begitu."


 


...***...


 


Waktu sudah mulai menjelang sore. Sekitar jam 2 lebih. Aksa berjalan menuju pintu lift. Saat itu ada seseorang di depan Lift sedang menunggu pintu lift di buka. Sepertinya itu pegawai pengantar makanan. Karena ia membawa tas kresek berisi kotak makan dari styrofoam. Juga ... helm yang masih menempel di kepalanya.

__ADS_1


 


Ternyata orang-orang suka membeli makanan dengan sistem delivery order, batin Aksa saat melihat itu.


 


Awalnya Aksa merasa biasa saja, tapi saat orang ini berulang kali menggerakkan kakinya dengan gelisah. Bola mata Aksa melirik. Jujur, ia terganggu dengan itu.


 


Ting!


 


Suara pintu lift terbuka, terdengar. Orang itu membiarkan Aksa jalan lebih dulu, lalu ia masuk kemudian. Aksa setengah menggeram saat melihat orang itu masuk ke dalam lift dengan tetap memakai helm. Mungkin ini yang membuat orang itu bergerak menggeser kakinya perlahan.


 


Pintu lift terbuka. Ada dua orang yang berdiri di depan pintu. Mereka membungkukkan badan saat tahu ada atasan mereka di dalam lift. Lalu masuk ke dalam lift dengan rasa canggung karena ada orang nomor dua dalam urutan tahta perusahaan. Tentunya di bawah kakek Candika.


 


Saat tidak sengaja Aksa menengok ke samping, pengantar makanan itu langsung menoleh ke arah lain. Seakan menghindari tatapan dengannya. Tentu Aksa tidak tahu pasti apakah orang itu melihat ke arahnya atau tidak. Semua itu karena kaca helm yang di pakai berwarna gelap pelangi. Dimana orang di luar tidak akan tahu sisi dalam. Yang pasti, kepala orang itu segera menoleh ke arah lain saat Aksa menengok ke samping.


 


Keanehan orang itu membuat Aksa melirik. Ia jadi memperhatikan orang yang berdiri di sampingnya. Tepat dekat dinding lift yang berseberangan dengannya.


 


Tidak sengaja, karyawan di depan mereka, mundur, dan menyenggol bungkusan yang di bawa pengantar makanan. Dan hampir saja membuat bungkusan itu jatuh ke lantai dan berserakan.


 


"Oh, maaf. Maaf." Dua karyawan itu meminta maaf.


 


"Tidak apa-apa," sahut pengantar makanan itu. Ternyata itu suara seorang perempuan. Mungkin lebih tepatnya seorang gadis.


 


Ting!


 


Pintu lift terbuka lagi. Dua karyawan itu keluar lebih dulu setelah memberi hormat pada Aksa. Sementara pengantar makanan masih berada di dalam.


 


Aksa mengerutkan kening. Entah kenapa, pengantar makanan itu terkejut saat tahu Aksa memperhatikannya. Gerakannya gugup. Bola mata Aksa mengerjap. Dia merasa mengenal siapa yang ada di balik helm. Apalagi suara yang terdengar tadi.


 


Aksa mendekat. Gadis itu justru mundur. Melihat gerakan ini, kemungkinan dia mengenal Aksa. Karena kalau tidak, mungkin perempuan itu akan langsung bertanya kenapa Aksa mendekat padanya.


 


Tak!


 


Dengan gerakan cepat, Aksa memaksa membuka kaca helm itu. Secepat kilat, gadis itu menutup kaca helm kembali. Aksa membuka lagi kaca helm itu dengan cepat. Lagi-lagi gadis itu menutupnya.


 


"Buka helm mu, Lisa," desis Aksa seraya membuka kaca helm itu lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya ia membuka kaca helm milik gadis ini.


 


"Apa-apaan sih?!" sembur Lisa akhirnya dengan kesal. Upaya dia untuk bersembunyi gagal.


 


Benar. Di balik helm dan jaket tebal itu ada sosok Lisa di dalamnya.

__ADS_1


..._____...



__ADS_2