
Sekolah Lisa.
"Sakit?" tanya Arka heran saat Sera membicarakan Lisa. Padahal yang dia tahu, gadis itu sedang menjadi Yora tadi malam. Siang ini trio berandal dan Sera yang sekarang sering bareng mereka, berkumpul di kantin.
"Ya. Ada surat ijin yang datang dari keluarganya. Sepertinya sih adiknya yang nganterin." Sera memberi tahu.
"Kok kamu enggak tahu, Ka? Kan dia cewek kamu." Nero berkata dengan tepat. Arka melihat ke Nero tanpa menjawab. Hanya tersenyum tipis.
"Iya nih. Kok pacar sendiri enggak tahu lagi sakit." Sabo ikutan ngomong. Ini membuat Sera menyodok perut cowok ini pelan. Sabo menoleh cepat. Ingin bertanya, kenapa Sera melakukan itu. Bola mata gadis itu melebar. Membuat kode pada Sabo untuk tutup mulut. Dagu Sera bergerak menunjuk Arka.
Sabo menoleh ke cowok itu. Arka menundukkan pandangan. Ia sedang memikirkan sesuatu.
"Lisa juga enggak kasih tahu aku kok, kalau dia sakit." Sabo meralat kalimatnya. Ia ingin membuat Arka, bukan menjadi satu-satunya orang terdekat yang tidak tahu gadis itu sakit. Arka tersenyum.
“Ponselnya enggak aktif semalam," imbuh Sera.
"Ya. Aku tahu, ponselnya enggak aktif." Arka tahu karena gadis itu sendiri yang memberitahu.
"Pulang sekolah, kita ke rumah Lisa yok," ajak Aris.
"Boleh. Sudah lama kita juga enggak kesana." Nero setuju.
***
Melihat anak-anak berseragam sekolah di depan warung, awalnya Bi Sarah mengira mereka mau makan. Beliau tidak tahu mereka teman Lisa karena belakangan ini saja tinggal di sini. Karena kakak laki-lakinya yang jadi bapak Lisa, dirawat di rumah sakit.
"Lisa ada?" tanya Sera.
"Oohh ... temannya Lisa? Ayo masuk. Anaknya lagi tiduran. Pagi tadi waktu pulang dari rumah sakit, dia bilang kepalanya pusing. Makanya tidak masuk sekolah." Bi Sarah menyuruh anak-anak masuk lewat jalan depan. Karena tempat duduk lesehan di ruang tamu belum ada pembeli.
Tok! Tok!
"Lis ..." Bi Sarah membuka pintu kamar keponakannya pelan. Gadis itu tengah meringkuk di atas kasurnya. "Ada temanmu datang menjenguk."
Lisa mengucek matanya malas.
"Siapa?" tanya Lisa serak. Bahu Bi Sarah terangkat.
"Mereka pakai baju sekolah. Temanmu sekolah pastinya."
Teman sekolah?
Lisa bangun dari tidurnya.
"Bibi tinggal ya."
"Ya, Bi. Terima kasih." Mereka mengatakannya hampir bersamaan.
Tunggu.
__ADS_1
Kaki Lisa yang hendak membuka pintu kamar urung. Mendengar suara anak-anak barusan, ia yakin itu trio berandal. Kepala Lisa mencoba mengintip dari balik pintu.
Tidaaak!!! Ada Arka! Aku lagi jelek nih. Gawat.
"Sst ... Ssst ..." Lisa memanggil Sera dengan kode. Gadis itu menoleh. Tangan Lisa melambai. Sera mendekat. "Bantu tutupin aku. Aku mau cuci muka. Aku malu ketahuan Arka lagi jelek."
"Ha?" Sera melongo. "Ternyata kamu bisa insecure juga saat wajah jelekmu ketahuan Arka ya ..."
"Sudah tutup mulut. Aku enggak mau dia syok lihat kejelekanku diketahui semua orang. Jadi biarkan aku ..."
"Lisa." Arka mendadak mendekat dan muncul di belakang Sera. Bola mata Lisa melebar. Ini bukan inginnya. Ini bukan maunya.
Sera menoleh ke belakang.
"Dia kelihatan pucat ya?" Sera justru melontarkan pertanyaan yang mengundang pembahasan soal wajahnya. Arka menatap Lisa dengan wajah kekhawatirannya.
Sialan.
"Bisa keluar, Lis? Aku cemas, tapi aku enggak bisa mendekatimu. Aku enggak bisa masuk ke sana karena itu area terlarang untukku," kata Arka membuat Lisa mengerjap dan memerah di daun telinganya.
Sera menutup bibirnya tersenyum mendengar kalimat manis itu. Dia tahu sekarang Lisa sedang termleyot-mleyot hanya karena kata-kata itu.
"Bentar lagi Lisa keluar. Dia mau beberes dulu." Sera lumayan mengerti. Arka menatap Lisa dengan kecemasan yang kentara. "Bentar ya, Ka. Sabar. Aku mau masuk." Sera menutup pintu perlahan.
"Eh, Lisa enggak keluar? Sakitnya parah sekali?" tanya Aris yang melihat Arka muncul tanpa gadis itu.
"Emmm ... tahu. Pasti dia malu ketemu kamu dalam keadaan buruk." Sabo berpendapat.
"Masa Lisa mikir yang begituan? Dia kan biasanya juga enggak peduli lagi jelek atau enggak. Pas itu tuh. Main basket sama kita. Dia baru saja bangun tidur. Karena libur, dia cuci muka saja dan langsung berangkat main basket sama kita," kata Nero yang tidak tahu Lisa sudah muncul di belakang mereka.
"Bisa tutup mulut kamu, Ne?" sembur Lisa yang sudah keluar dari kamar dengan wajah geramnya. Dia ingin menendang cowok itu karena sudah mengumbar aibnya di hadapan Arka.
"Eh, Sera bilang kamu sakit? Kenapa bisa marah begitu?" ledek Nero sambil ketawa. Rumah Lisa yang kecil jadi tambah ramai.
Arka mendekat. Mendadak tangan Arka memeriksa kening Lisa. Gadis ini terkejut hingga tidak sempat menghindar. Lainnya otomatis melihat.
"Panasnya sudah turun?" tanya Arka yang tidak menemukan jejak demam di sana.
"Enggak panas, tapi pusing sekali tadi." Lisa memberi penjelasan.
"Sudah makan?" tanya Arka yang menekan bahu Lisa pelan untuk duduk.
"E ... itu."
"Dia sejak tadi tidur terus. Jadi belum makan," kata Bi Sarah yang muncul sembari membawa minuman dingin untuk teman-teman keponakannya.
"Terima kasih, Bi ..."
__ADS_1
Bi Sara tersenyum mendapat ucapan terima kasih.
"Makan dulu, Lis," pinta Arka.
"Aku enggak nafsu makan," kata Lisa jujur. Tidak ada maksud apa-apa. Namun ini membuat Arka membuat kalimat yang mengejutkan.
"Aku suapin, ya?" tawar Arka. Lisa mengedipkan matanya karena malu. Terutama sama anak-anak yang lain. Karena tanpa melihat pun, Lisa tahu tiga cowok itu mencebikkan bibir mereka untuk meledeknya. Dia tahu mereka tersenyum geli di belakangnya.
"Bilang saja iya, Lis. Tinggal bilang iya saja susah," ledek mereka. Dan ledekan tidak berhenti begitu saja saat Arka tersenyum dan bilang,
"Iya. Aku enggak apa-apa kok nyuapin kamu. Malah seneng." Arka membuat anak-anak heboh godain Lisa.
"Enggak. Terima kasih. Aku bisa makan sendiri," sahut Lisa lalu mendelik ke anak-anak yang lain.
***
Giri yang barusan datang langsung mengerahkan teman-teman kakaknya untuk menjadi relawan di warung. Sebenarnya sudah ada satu orang yang membantu bekerja di warung, untuk menemani Bi Sarah saat tidak ada yang bantu sama sekali. Namun karena ramainya, Giri juga mesti bantuin.
Sementara itu Arka bebas dari kewajiban menjadi relawan. Dia duduk di ruang tengah tempat Giri biasa tidur menemani Lisa.
"Kemarin ada masalah apa?" tanya Arka. Seperti tahu bahwa ia sedang gelisah.
"Aksa tahu aku bukan Yora." Lisa mengatakan sejujurnya.
"Tahu? Bagaimana bisa tahu?" tanya Arka terkejut. Lisa menceritakan semua yang terjadi kemarin. "Kamu enggak apa-apa? Aksa tidak melakukan apa-apa ke kamu?" tanya Arka khawatir. Dia melihat diri Lisa menyeluruh.
"Enggak."
Meskipun tidak ada rahasia untuk Arka, Lisa tidak menceritakan soal intimidasi Aksa. Dia tidak mau itu terungkap. Karena bagaimanapun, dia pada posisi salah.
"Benar kamu enggak apa-apa? Apa sakit hari ini karena itu?" tebak Arka tepat.
"Enggak juga. Aku memang kelelahan saat dirumah sakit."
"Berhentilah menjadi Yora. Itu juga menguras tenaga, Lis. Aku akan mengusahakan mendapat uang untuk mengganti posisi kamu sebagai pengganti Yora," kata Arka serius.
"Enggak bisa, Ka.”
"Aku enggak tega jika kamu seperti ini." Wajah Arka benar-benar merasa kasihan pada Lisa. Ia begitu cemas pada kekasihnya.
"Hanya pusing kok. Enggak sampai sakit yang gimana-gimana." Lisa tersenyum ceria. Menunjukkan pada Arka bahwa ia akan baik-baik saja.
"Jangan memasang wajah ceria saat kamu masih merasa sakit," tuduh Arka membuat Lisa menipiskan bibir seraya menggaruk kening. Ia ketahuan. Meski tadi sudah makan. Tanpa disuapin tentunya. Ia masih merasa lemas. "Kalau sakit, ya sakit aja. Enggak perlu bertingkah sehat." Arka kesal sepertinya. Lisa diam. Tiba-tiba Arka menarik kepala Lisa dengan lembut, lalu menyandarkan pada bahunya.
Lisa berdebar.
"Aku cemas," kata Arka lirih.
Maaf, Ka.
_______
__ADS_1