
Sejak tadi Anggita mencoba menelepon Arka. Namun kemudian ia hentikan itu karena takut Arka akan panik karena di telepon saat berkendara. Tentu saja dia tidak ingin putranya dalam bahaya.
Anggita mengirimkan alamat tempat Arka akan bertemu dengan putri pengusaha yang di jodohkan dengannya. Dia berharap putranya akan datang meskipun tidak setuju.
Arka memarkir motor besarnya di depan cafe yang sudah di sebutkan dalam pesan yang di kirim Anggita. Setelah mesin motor mati, ia tidak langsung turun. Hanya membuka helm dan meletakkannya di badan motor bagian depan.
Bola matanya melihat ke sekitar. Helaan napas kasar terdengar. Arka masih tidak setuju. Namun jika dia tidak memenuhi keinginan mamanya, itu akan membuat papa marah. Dia dilema.
Masih dengan memakai kaos yang tadi sore ia pakai, Arka masuk ke dalam cafe. Ia bertekad untuk tetap menemui orang yang akan di jodohkan dengannya dengan pakaian itu. Rasanya sia-sia Anggita menyiapkan pakaian untuk Arka. Karena cowok ini memilih tampil seenaknya sendiri.
Di meja yang di sebutkan, Arka melihat punggung seorang perempuan. Duduk membelakangi Arka yang berjalan perlahan menuju ke meja itu. Ia menyeret kakinya dengan paksa.
Rasanya bibir Arka terkunci untuk menegur lebih dulu. Namun ternyata perempuan di depan itu lebih dulu menengok ke belakang. Dia seorang gadis. Mungkin seumuran dengannya. Bola mata itu mengerjap. Arka sampai ikut tertegun karena gadis itu tidak segera menyapanya. Ia hanya menatapnya.
"Hai Arka," sapa gadis itu akhirnya. Sapaan itu membuat Arka lega. Karena akhirnya dia tidak mengeluarkan suara untuk terpaksa menyapa. Dia langsung duduk di kursi yang berada tepat di depan gadis itu. Kepala gadis itu ikut memutar mengikuti gerakan Arka. "Sepertinya datang ke kencan ini bukanlah tujuanmu sebenarnya," kata gadis itu saat melihat Arka hanya memakai kaos dan celana pendek.
"Aku hanya mampir ke sini," sahut Arka asal. Dia tidak peduli. Namun, di luar dugaan, gadis ini tersenyum geli. Arka mengalihkan pandangan dari samping dinding kaca ke arah gadis ini. "Kenapa menertawaiku?" tanya Arka dengan wajah kaku.
"Oh, tidak." Gadis itu menggelengkan kepala. "Mau makan apa?" tanya gadis itu bersikap terbuka.
"Aku ke sini bukan untuk makan," kata Arka ingin pertemuan yang di sebut kencan buta ini segera berakhir. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Dia ingin segera pulang.
"Oh, begitu ... Lalu kamu hanya mau bertemu denganku?" tanya gadis itu seraya tersenyum. Itu sangat menjengkelkan di mata Arka. Bagaimana tidak? Saat ini hati Arka sedang dongkol di paksa datang ke acara kencan buta yang di atur keluarganya, sementara gadis ini terlihat biasa saja. Bahkan menikmatinya. Dan pertanyaan yang ia lontarkan juga sama menjengkelkannya dengan orangnya. Arka gusar.
"Jangan main-main," desis Arka geram.
"Oh, maaf kalau membuatmu marah, tapi yang mana dari kalimatku membuatmu jengkel? Aku tadi hanya bertanya, apa kamu ke sini hanya untuk menemuiku? Hanya itu. Jawab saja.” Gadis ini bukan tipe yang mudah di hancurkan rupanya. Gadis tangguh.
__ADS_1
"Aku tidak sedang ingin makan atau bahkan datang untuk menemuimu," sahut Arka jujur. Gadis ini mengerjapkan mata. Lalu ia menarik tubuhnya untuk bersandar pada badan kursi.
"Jadi ... kamu datang untuk mengatakan hal ini padaku? Jika kemungkinan kamu tidak menyetujui perjodohan ini?" tanya dia menegaskan.
Arka menghela napas. Dia ingin bilang tidak karena itu akan membuat mamanya bahagia, tapi kata hatinya ingin ia jujur kalau memang tidak ingin si jodohkan.
"Ya," sahut Arka yakin. Ia memilih untuk tidak mengabulkan keinginan mamanya.
"Oh, wow. Kamu cowok yang sangat jujur. Aku suka itu. Ups ...," kata gadis itu seraya menutup mulutnya merasa salah bicara. Arka mengerjapkan mata heran.
Ada yang aneh. Sejak tadi Arka selalu mengatakan apa yang ada di dalam hatinya tanpa menutup-nutupi, tapi gadis ini bukan marah. Justru menikmati pembicaraan yang terkesan asal dan kacau.
"Kamu sakit, ya?" tanya Arka bermaksud mencemooh.
Arka menipiskan bibir. Dia bahkan tidak perlu tahu siapa nama gadis ini.
"Aku Lilian," kata gadis itu seraya mengulurkan tangan. Seakan-akan mereka baru saja bertemu. Padahal sejak tadi mereka duduk dan bicara. Bahkan gadis itu menghabiskan banyak kata. "Oke. Sepertinya kamu menolak berjabat tangan denganku." Gadis ini tahu diri. Dia menarik tangannya sendiri.
Dering ponsel milik gadis itu mengejutkan.
"Ya, Ma. Aku sudah bertemu Arka. Ya, kita masih berbincang. Jangan khawatir." Lilian menutup teleponnya.
***
Lisa mendekatkan ponselnya pada telinga. Dia sedang menelepon Arka, tapi sejak tadi cowok itu tidak mengangkat ponselnya.
__ADS_1
"Kemana si Arka? Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?" Lisa menatap ponselnya dengan kening mengerut.
Saat itu terdengar ada deru mobil mendekat. Lisa menengok dengan kesal karena lampu mobil itu menyorotinya. Setelah lampu mobil di matikan, muncullah Aksa.
"Kenapa jadi dia yang muncul di sini?" keluh Lisa kecewa. Dia pikir akan bertemu dengan Arka, tapi ternyata tidak. Justru ia bertemu dengan pria ini.
"Kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Aksa yang sudah turun dari mobilnya. Ia langsung bertanya pada Lisa karena gadis itu berdiri tepat di depan warung.
"Kenapa kesini? Ada perlu apa?" tanya Lisa ketus.
"Tidak ada. Mungkin kamu sedang butuh seseorang?" Aksa malah menawarkan diri.
"Hei ... apa-apaan sih?!" Lisa yang kesal karena Arka tidak bisa di telepon, kini makin kesal dengan kemunculan pria ini. Lisa membiarkan Aksa yang mulai ikut berdiri di sampingnya. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel ARka lagi. "Kenapa dia ya?" Lisa bergumam seraya berwajah cemas.
Aksa melirik. Dia yakin gadis ini sedang menelepon adiknya. Namun bocah itu tidak akan muncul karena sedang menghadiri kencan buta yang di usulkan papa. Sedikit mengherankan Arka tidak langsung mengangkat telepon dari Lisa. Apa memang ada sesuatu dengannya?
“Aduh ... Aku harus ke rumah sakit nih.” Lisa berpikir hendak memindah tangannya dari aplikasi chat, ke aplikasi ojek, tapi tangan Aksa menahannya. Kepala Lisa menoleh.
“Aku bisa mengantarmu,” ujar Aksa. Rupanya pria itu mengintai apa yang di lakukan tangan Lisa.
“Aku tidak mau,” tolak Lisa.
“Aku memaksa. Ayo,” ajak Aksa menarik tangan gadis ini mendekat ke mobilnya.
“Hei! Arka bisa marah kalau dia datang, tapi aku pergi denganmu,” kata Lisa tetap menolak.
“Arka tidak akan datang,” kata Aksa tanpa menoleh pada Lisa. Dia tidak tahu Lisa sedang tertegun sekarang.
______
__ADS_1