Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 122 Repot, Ribet, Rumit


__ADS_3

 


"Bahas apa?" Lisa bertanya dengan malas.


 


"Ya perasaan kamu ke Aksa." Sera geregetan.


 


"Aku enggak mau." Lisa enggan.


 


"Jangan gitu. Ayo bahas." Sera tidak sabar. Matanya melotot. Lisa pun menghela napas.


 


"Mmm ... Saat dia di dekatku sih, aku senang sih. Dia kan kaya. Jadinya aku di traktir makan terus. Hehehe ..." Lisa terkekeh.


 


"Yang serius Sa ..." Sera enggak setuju. Lisa menghentikan senyumannya. Lalu dia menghela napas.


 


"Mungkin aku enggak enak sama Arka. Karena setelah putus dari dia, aku nemplok aja ke kakaknya. Kaya enggak ada yang lain."


 


"Memang enggak ada. Lanjut," kata Sera. Lisa Menipiskan bibir mendengar pendapat Sera yang memotong kalimatnya.


 


"Dan aku merasa bodoh. Jika aku putus dari Arka karena enggak ada kelanjutan dari hubungan kita berdua, kenapa aku justru dekat dengan Aksa. Kalau aku ketakutan karena perbedaan kita, kenapa aku mengulangi hal yang sama? Itu berarti aku bodoh kan?"


 


Sera diam.


 


"Kamu kan memang bodoh, Lis. Enggak pernah tuh dapat ranking," kata Sera santai.


 


"Hei ..." Lisa mau protes tapi memang itulah kenyataannya.


 


"Kamu takut omongan orang lain negatif tentang mu, ya?" tanya Sera paham. Lisa meringis.


 


"Juga masih ada Yora," imbuh Lisa.


 


"Bukannya kamu pernah bilang kalau Yora menyerah soal Aksa." Sera ingat itu.

__ADS_1


 


"Tapi kan enggak langsung pisah, Sera ... Mereka itu tuh sudah bertunangan." Lisa geregetan. "Juga ada kakek yang menjodohkan mereka."


 


"Benar. Semua itu benar. Namun Aksa kan pasti punya rencana soal itu. Apalagi Aksa sengaja melamar langsung ke Bapak. Itu kan bukan main-main. Dia pasti tahu itu. Aku yakin dia punya rencana. Sekarang yakinkan dulu hati kamu."


 


"Emmm ... Memang sedikit nyaman sih sama Aksa. Dia kan dewasa, Ser ... " Lisa tersenyum dengan mata teduh. Sera ikut tersenyum. Dia mengerti itu mata orang jatuh cinta. Seringkali orang yang bersangkutan tidak sadar dengan perasaan itu. Yang menemukan justru orang lain. "Dia juga keren sih, tapi playboy," geram Lisa.


 


“Kamu tahu itu, tapi tetap suka kan?” goda Sera. Lisa tidak bisa jawab karena memang iya. "Kamu itu sedang jatuh cinta, Lis ..." Sera menyimpulkan.


 


"Benarkah?"


 


Sera mengangguk pasti sambil menowel pipi temannya.


 


"Argggh ...," erang Lisa kesal. Lisa menyandarkan kepala ke meja. "Ternyata, jatuh cinta itu enggak hanya indah saja. Ada repot, ribet, ruwet ya ..." Lisa menghela napas.


 


Saat itu ponsel Lisa yang ada di meja berdering. Gadis itu masih diam menerawang jauh. Tidak bergerak untuk mencari tahu siapa yang sedang meneleponnya.


 


 


"Lis, Aksa telfon tuh," kata Sera menunjuk gawai pipih milik temannya.


 


"Hah, Aksa?" Lisa bangkit dari tidurannya terkejut.


 


"Ya."


 


Tangan Lisa terulur untuk mengambil ponsel itu. Namun saat dia menatap layar ponsel dan ada nama Aksa di sana, ia diam. Hanya mengerjapkan mata saja. Sera heran.


 


"Kok enggak di angkat, Lis?" tanya Sera menatap wajah temannya. Lisa yang tadinya menunduk, kini mendongak.


 


"Tiba-tiba ... aku gugup," ujar Lisa mengaku dengan wajah polos.


 

__ADS_1


"Ha? Hahaha ..." Sera tergelak. "Ya ampun, Lis. Aku pikir kenapa ..." Sera masih belum bisa melenyapkan tawanya. "Eh, cepetan di angkat gih."


 


"Enggak. Aku enggak bisa. Gugup." Lisa meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


 


"Halah ... ini aja belum ketemuan sudah gugup. Memangnya ini pertama kali kalian telpon-telponan? Ayo cepat di angkat." Sera gemas.


 


Lisa menggelengkan kepalanya.


 


"Ayo, cepat angkat gih. Aksa bisa marah kalau enggak di angkat." Sera dengan cekatan menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinga Lisa. Namun gadis itu masih menolak.


 


"Enggak."


 


"Ini sudah nyambung sama Aksa, Lis," bisik Sera. Bola mata Lisa mendelik.


 


"Halo Lisa," sapa Aksa di sana.


..._______...



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2