
“Kamu sudah dengar soal Aksa, sayang?” tanya Anggita yang masuk ke dalam kamar, saat Adiwangsa tengah membaca buku di atas ranjang.
“Aksa? Apakah dia punya kekasih lagi?” tanya Adi wangsa tanpa menoleh. Dia merasa itu pasti berita tentang putranya menjadi seorang Casanova yang sudah tidak asing lagi. Karena hampir semua berita tentang Aksa, hanya berkisar antara wanita dan kesuksesan dalam menjalankan perusahaan. Dia sadar bahwa kelakuan putranya sangat mirip dengannya dulu.
“Apakah kamu bangga kalau dia juga jadi sepertimu dulu?” tanya Anggita mencemooh.
Adiwangsa mendongak dan menatap istrinya tajam. “Kamu ...” geram Adiwangsa.
“Walaupun Aksa itu anak kamu, tapi aku harap dia tidak menjadi lelaki seperti mu. Bagaimanapun aku tidak mau papa menjadi seperti dulu lagi. Cukup aku sebagai istri terakhir kamu.” Anggita tampak serius saat mengatakannya. Dia yang sempat jadi duri dalam rumah tangga mama Aksa, tahu, kalau karma akan datang padanya jika ia tidak berusaha menjadi ibu yang baik.
“Sudahlah. Jangan bahas soal itu,” ujar Adiwangsa memotong pembicaraan soal dirinya. “Ada apa dengan Aksa?”
“Dia tidak jadi menikah dengan Yora. Hubungan pertunangannya dengan putri Anne itu kandas.”
“Apa Aksa di hukum oleh ayah?” tanya Adi cemas.
“Sepertinya tidak. Karena aku tidak mendengar soal ayah yang marah."
Mendengar ini Adi wangsa langsung mengerutkan keningnya. "Lalu apa yang ingin kamu katakan?" Tampak raut wajahnya kesal.
"Aksa punya seorang kekasih yang menggantikan Yora."
"Apakah itu desainer itu?" tanya Adi yang tahu putranya punya hubungan dengan wanita pemilik butik.
"Ayah tidak akan menyetujui itu," ujar Anggita yakin. Dia tahu itu.
"Jadi siapa?"
"Seorang gadis. Masih SMA seperti Yora."
"SMA? Bukannya dia memutus pertunangan dengan Yora? Lalu kenapa dia dekat lagi dengan gadis SMA? Ayah terus saja menjodohkan putraku dengan gadis ingusan," keluh Adi yang tahu selera Aksa karena sangat mirip dengannya. Anggita menipiskan bibir mendengar itu.
"Bukan ayah yang menjodohkan."
"Lalu siapa?" tanya Adi kembali antusias.
"Hhh ... Sepertinya kamu benar-benar tidak pernah memperhatikan putramu." Anggita menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. "Jika kamu begitu pada Aksa, lalu bagaimana dengan Arka yang hanya anak tiri?" tegur perempuan ini mulai mengkhawatirkan nasib putra kandungnya.
"Mudah sekali mulut kamu berkata bahwa Arka anak tiri. Kamu tidak takut aku akan mengusir Arka yang bukan siapa-siapa itu?" Adiwangsa malah mengancam.
__ADS_1
"Tidak. Karena sekarang ayah mau mengakuinya sebagai cucu meskipun dia bukan darah daging mu," kata Anggita menang.
"Dasar," gerutu Adiwangsa. "Lanjutkan ceritamu soal Aksa. Siapa yang kembali menjodohkan putraku itu?" Adi mengalihkan pembicaraan pada putranya lagi.
"Dia sendiri."
"Dia sendiri? Aksa?" tanya Adiwangsa terkejut.
"Ya. Putramu itu membuang Yora dan memilih dekat dengan gadis lain."
"Siapa dia? Putri dari keluarga konglomerat yang mana?" kejar Adiwangsa. Dalam benaknya, bermunculan keluarga konglomerat yang ada. Dia yakin bahwa salah satu putri mereka adalah kekasih Aksa.
"Bukan putri konglomerat. Dia gadis dari keluarga biasa."
"Keluarga biasa?" Adiwangsa makin heran.
"Ya. Bahkan putramu itu sendiri yang membawa gadis itu," kata Anggita. Adiwangsa. "Sepertinya Aksa sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu." Anggita masuk ke dalam selimut.
Apa Aksa tidak sama denganku? Kalau begitu ia mirip mamanya. Syukurlah. Ayah pasti senang dia bisa berubah.
***
Kakek muncul di ruang kerja Aksa. Ini membuat terkejut pria ini.
"Jadi aku juga harus membuat janji jika harus bertemu denganmu, Aksa?" tanya Kakek dengan mata menyipit.
"Bukan seperti itu, Kek. Tidak mungkin aku begitu pada kakek." Aksa membimbing kakek menuju sofa. "Aku hanya terkejut kakek muncul padahal bisa menemuiku di rumah."
Kakek mulai duduk. Beliau memberi kode pada Pak Aknam untuk ikut duduk.
"Ada apa kakek sengaja mendatangiku di kantor?" tanya Aksa hendak duduk.
"Jangan duduk!" hardik Kakek. Aksa terkejut.
"Tidak boleh duduk?" tanya Aksa mengulang perintah kakek karena ia merasa itu aneh. Tubuhnya setengah duduk dan berdiri.
"Ya. Berdiri saja di sana." Kakek melarang pria ini untuk duduk. "Luruskan tubuhmu." Kakek memberi perintah selanjutnya. Aksa kebingungan. Dia menoleh pada Pak Aknam untuk memberinya penjelasan. Namun pria paruh baya ini hanya diam. Aksa menoleh lagi pada kakeknya.
"Jadi aku tidak boleh duduk?" ulang Aksa ingin dia hanya salah mendengar saja.
__ADS_1
"Apa pendengaran telingamu mulai melemah, hah?!" teriak kakek sedikit membentak. Mendengar ini Aksa langsung berdiri tegak tanpa bertanya apapun lagi. Suasana hati kakek sedang dalam keadaan tidak baik. Aksa tidak tahu apa itu.
Kakek menarik napas panjang.
"Apa yang sudah kamu lakukan bocah?" tanya Kakek geram.
"Aku lakukan? Apa?" tanya Aksa tidak paham.
"Apa yang kamu lakukan di rumah keluarga gadis itu, hah?!" teriak kakek.
"Gadis? Siapa itu? Apa kakek sedang membicarakan Lisa?" tanya Aksa.
Brak! Kakek memukulkan buku bacaan ke atas meja, hingga menimbulkan suara keras. Aksa diam. Kakek marah.
"Gadis mana lagi yang aku bicarakan selain Lisa, hah?!"
Kakek memang sedang membicarakan Lisa rupanya. Namun Aksa masih tidak paham apa yang di maksud kakeknya.
"Sombong sekali kamu datang ke rumah keluarga Lisa dan melamarnya sendirian," kata kakek yang mulai dimengerti oleh Aksa.
"Ya. Aku memang melamarnya kakek. Itu aku lakukan karena aku serius dengan Lisa." Aksa mengaku. Ia tidak ingin berbelit-belit. Pria ini ingin semua keinginannya segera terealisasikan.
"Kamu bodoh. Meskipun keinginanmu begitu besar untuk menikahi Lisa, apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan keluarganya? Sebuah lamaran itu bukan lelucon Aksa."
"Aku tidak sedang bercanda, Kakek."
"Lalu kenapa kamu melamar gadis mu itu dengan tanpa persiapan yang matang? Bahkan kamu belum mengenalkan dengan resmi kekasihmu itu pada keluarga besar mu ini, tapi kamu sudah berani melamar dia pada keluarganya. Apakah kamu bodoh?" tanya Kakek. "Itu sangat tidak sopan, Aksa."
Aksa mengerjapkan mata mendengar kata-kata kakeknya.
"Bagaimana kakek tahu kalau aku melamar Lisa pada keluarganya?" tanya Aksa.
"Tentu saja kakek tahu," ketus Tuan Candika. Aksa melihat ke arah Pak Aknam.
"Tidak. Saya tidak bisa mendapat informasi tentang itu," kata Pak Aknam yang tahu tatapan mata Aksa padanya.
"Jadi kakek sudah mendatangi rumah Lisa?" tanya Aksa dengan kening mengerut terkejut.
"Kakek ini keluargamu. Meskipun kau tidak bilang pada papamu soal gadis ini, seharusnya kamu bilang pada kakek. Memangnya kakek mu ini tidak ada gunanya?" sembur beliau. Seakan cemburu kalau dirinya di kesampingkan. Aksa menghela napas.
__ADS_1
..._____...