
“Yora ...,” cegah Noah. Dia tidak ingin gadis ini meneruskan kalimatnya. Kepala Yora menggeleng. Beranggapan kalau semua pasti baik-baik saja.
"Menggantikan Kak Yora?" tanya Allen terkejut. “Kenapa harus menggantikan?” Rasa penasaran Allen makin besar.
"Aku yang tidak bisa terima Kak Aksa menolak rasa suka ku waktu itu, membuat aku melakukan hal bodoh. Aku bunuh diri," ungkap Yora yang membuat semuanya tertegun. Karena ini pertama kalinya mereka tahu kebenaran dari semua cerita ini.
"Cukup Yora. Cukup," pinta Noah yang menyadari gadis ini mulai lepas kendali. “Allen! Jangan bertanya lagi pada Yora!” tegur Noah. Allen menutupi bibirnya dengan tangan. Dia tidak mendengarkan Noah bicara karena tertegun dengan kalimat Yora.
"Tidak. Aku harus mengatakan semua agar semua tahu, Kak Noah," kata Yora dengan wajah menahan tangis. Noah tidak bisa bicara lagi karena dari mata Yora, dia sedang bertekad untuk bicara. Dia ingin mengungkap semua.
“Aksa ...,” lirih Lisa yang ingin Aksa menghentikan gadis itu bicara.
“Kamu tidak perlu mengatakan itu untuk membuat Allen percaya. Cukup.” Aksa juga paham ini. Dia segera memberi ultimatum.
“Kak Aksa juga perlu mendengar hal ini.” Yora memaksa. Semua terdiam. "Itu membuat mama bersikeras menyatukan aku dan Kak Aksa lewat sebuah ikatan. Hingga mama mencari orang yang mirip denganku dan melakukan perjanjian. Karena tidak ingin pertunangan ku dengan Kak Aksa gagal. Kemudian Lisa muncul dan mau menggantikan ku hingga aku bangun dari koma," bongkar Yora melanjutkan kisahnya dengan air mata mulai turun membasahi pipinya.
Suasana langsung hening dan suram. Noah langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
...******...
Noah membawa Yora menepi ke pinggir balkon untuk menenangkan diri. Sementara itu Allen panik.
"Bagaimana ini Kak Aksa? Aku sudah membuat Kak Yora emosional. Aku takut ini akan membuat Kak Yora melakukan hal yang sama. Kak Yora pasti membenciku. Aku takut dia bunuh diri lagi." Dengan wajah kebingungan, Allen mengatakan pada Aksa.
"Tidak mungkin. Yora sepertinya bukan gadis yang seperti itu," sangkal Aksa. Meskipun tidak mencintai gadis itu, Aksa yakin Yora tidak mudah untuk membenci orang lain.
"Benarkah?" Allen masih ragu.
"Aku hanya berpendapat, tapi tetap tenang. Yora sudah di tenangkan oleh Noah." Aksa menunjuk ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Tapi Allen tetap cemas."
"Yora itu semakin kuat. Dia tidak akan dengan mudahnya bunuh diri hanya karena semua terbongkar. Jika memang ia berpikir kesana, kita tidak akan bertemu dia di resto ini, tapi di rumah sakit. Karena waktu itu adalah hari paling menyakitkan untuknya. Saat Aksa mengatakan memilihku daripada dirinya," kata Lisa yang sejak tadi diam merasa ikut bersalah. "Namun dia masih bisa terlihat dalam keadaan baik di depan kita."
Allen menoleh pada gadis ini. Begitu pun Aksa. Ia menarik tubuhnya untuk mendekat ke Lisa.
"Jangan merasa bersalah. Jika di salahkan, akulah yang patut di salahkan." Aksa memeluk Lisa dari samping. Ikut menenangkan. Lisa mencibir, tapi akhirnya tersenyum sedih.
"Jadi Kak Lisa ini ... adalah orang yang sama saat menemaniku ke lapangan basket untuk nonton pertandingan Kak Arka?" tanya Allen mulai memahami situasi Lisa dalam cerita. Kepala Lisa mengangguk setelah Aksa melepas pelukannya. "Padahal aku selalu ingin bertemu dengan Kak Lisa. Ternyata ... selama ini aku sudah kenal sama Kak Lisa ya ... "
Allen menyadari bahwa ia sempat menyukai gaya Yora saat di lapangan basket. Menurutnya itu keren. Ia berpikir Kak Yora berubah. Ternyata itu salah. Semua itu karena gadis yang bersamanya adalah Lisa.
"Maaf, jika aku membohongimu." Lisa tulus saat mengatakannya. Allen hanya tersenyum. Saat itu Yora sudah tampak lebih baik. Noah mendekat kembali ke tempat semuanya.
...******...
Ting! Suara lift terbuka terdengar. Noah dan Yora keluar lebih dulu dari Lift lebih dulu. Kemudian Allen, dan yang terakhir Aksa dan Lisa.
Duk!
"Aduh!" keluh Allen yang tepat berada di belakang Yora. Tiba-tiba saja Yora berhenti. Hingga Allen yang sedang melihat ke sekitar tidak menyangka kalau orang di depannya berhenti tiba-tiba. "Aduh, Kak Yora. Kenapa berhenti tiba-tiba sih?"
"Diamlah," kata Aksa yang langsung memegang pundak adiknya. Kemudian berjalan ke depan untuk berdiri di samping Yora.
Allen mendongak. Dia melihat ada Nyonya Anne. Allen langsung menoleh pada Lisa. Gadis ini menunduk. Pasti ingin bersembunyi dari mama Yora yang pernah membayarnya menjadi pengganti gadis itu.
Makanya Aksa langsung maju ke depan. Sepertinya pria itu sengaja berdiri di samping Yora agar terlihat wajar. Noah juga melakukan hal yang sama. Mereka mengapit Yora untuk menutupi keberadaan Lisa.
Tubuh Allen langsung memunggungi mereka seraya membalikkan tubuh Lisa dengan segera. Lisa mengerjap bingung melihat tindakan Allen.
__ADS_1
"Aku bantu sembunyi," bisik Allen. Lisa menyadari bahwa Allen tahu kalau ada nyonya Anne. Tanpa suara Lisa mengucap terima kasih.
"Lho, Yora dan Aksa. Kalian makan malam di sini?" tanya Nyonya Anne yang langsung menyapa mereka.
"Iya, Ma," sahut Yora. Aksa tersenyum sopan. Noah ikut mengangguk sopan. Mereka sempat bertemu saat Noah menjemput Yora dengan Allen.
"Kalau tahu kalian makan malam di sini, kita bisa barengan tadi." Nyonya Anne menyentuh lengan putrinya. "Allen kemana? Tadi Yora berangkat sama Allen kan?" tanya Nyonya Anne.
Gadis itu terkejut mendengar namanya di sebut. Begitu juga Lisa yang sedang bersama Allen. Jika Nyonya Anne menghampiri Allen, itu berarti beliau akan melihat Lisa.
"Ya! Saya di sini!" seru Allen yang langsung berbalik. Ia langsung berjalan ke depan guna mengalihkan pandangan dari sosok Lisa di belakang. Aksa melirik mencemaskan gadis itu. Namun ia harus tetap di samping Yora. "Halo Tante," sapa Allen.
"Iya halo." Meskipun Allen sudah berjalan ke depan, tapi pandangan Nyonya Anne masih terpaut pada sosok di belakang mereka. Beliau masih melihat ke arah Lisa yang tetap memunggungi mereka.
Semua cemas. Apalagi saat Nyonya Anne bertanya, "Kamu sama siapa Allen?" Beliau ternyata menyadari bahwa ada orang di samping gadis ini.
"Oh, dia?" tunjuk Allen ke arah Lisa.
"Ya. Dia siapa?" tanya Nyonya Anne. Semua tegang mendengarnya.
"Itu teman Allen sekolah. Tadi ketemu. Anaknya pemalu," jelas Allen sambil tersenyum. Nyonya Anne mengangguk lambat. Seakan ragu karena merasa mengenal siapa di balik tubuh itu.
"Mama mau kemana? Kita sudah mau pulang," kata Yora mengalihkan perhatian mamanya pada Lisa.
"Oh, iya. Mama mau ..."
Suara nyonya Anne menjadi tidak jelas di telinga Lisa. Sejak tadi. Sejak pertama bola matanya melihat perempuan paruh baya yang masih cantik ini, ia sudah dilanda kegelisahan dan ketegangan.
...______________...
__ADS_1