
Arka sengaja menyusul ke rumah sakit, saat mendengar kabar kalau bapak mau pulang dari Giri. Setelah menolak ajakan kencan Liliana, cowok ini langsung melesat menuju rumah sakit. Namun sungguh mengejutkan saat ia melihat Aksa memegang tangan Lisa.
"Lepaskan tangan Lisa, Aksa!" sergah Arka yang muncul di lorong. Kedua orang ini menoleh secara bersamaan.
"Arka," kata Lisa terkejut. Setelah menoleh pada Arka, kini Aksa menatap Lisa. "Lepaskan aku Aksa." Gadis ini berontak. Perlahan Aksa merenggangkan pegangannya. Lisa merasakan pegangan Aksa tidak lagi ketat seperti tadi. Hingga perlahan akhirnya terlepas.
"Ada apa ini?" tanya Arka geram.
"Tidak ada apa-apa," sahut Lisa cepat. Aksa diam. Dia bukan merasa bersalah karena tertangkap basah. Pria ini sedang menahan diri untuk tidak meluapkan rasa kesal karena kemunculan adik tirinya.
"Tidak ada apa-apa? Lalu apa yang aku lihat?" tanya Arka mendesak ingin penjelasan yang jelas.
"Kamu sedang melihat aku memegang tangan Lisa. Itu yang kamu maksud ada apa, bukan?" tanya Aksa.
"Aku tidak bertanya padamu," desis Arka. Lisa menatap Aksa yang ikut bicara. Menurutnya saat ini lebih baik pria itu diam. Aksa mengangkat bahu. Menerima komplain Lisa atas keikutsertaannya menjawab pertanyaan Arka. "Jawab Lisa."
"Darimana kamu tahu aku di rumah sakit? Giri?" tanya Lisa.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Lis." Arka menurunkan nada bicaranya. Lisa diam. Kemudian menghela napas lebih dulu sebelum bicara.
"Sebaiknya kita putus, Ka." Tiba-tiba saja Lisa mengambil keputusan yang tidak terduga. Arka melebarkan mata. Sementara Aksa menatap Lisa yang berdiri dekat dengannya. Cemas dan gelisah.
"Apa yang kamu bicarakan, Lisa?" tanya Arka lambat karena terperangah.
"Seperti yang kamu dengar. Aku minta putus.Itu yang aku bicarakan sekarang."
"Ini karena Liliana?"
"Bukan"
"Lalu apa? Karena Aksa?" Arka menatap tajam Aksa. Dalam hati Aksa berteriak kalau Lisa sepertinya tidak punya perasaan spesial padanya.
"Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin,” tepis Lisa. Aksa melirik.
"Lalu apa?" desak Arka. Lisa diam. "Setelah aku menunggumu untuk menyelesaikan misi mu menjadi tunangan palsu Aksa, kini ... saat semuanya berakhir justru kamu ingin pergi? Yang benar saja, Lis. Kamu egois."
"Aku memang egois," sahut Lisa mencoba tenang. "Kamu harus dengan Liliana, Ka. Dengan begitu kamu dan mamamu akan tenang dan bahagia."
"Apa yang kamu bicarakan? Mama? Aku tidak mengerti, Lis. Coba jelaskan apa maksud kamu?"
"Mama cemas akan posisimu di keluarga Candika. Jadi mama berencana memastikan pertunangan mu secara resmi dengan segera. Bahkan ada rencana pernikahan kedepannya," kata Aksa yang langsung mengungkap semua. Karena dia tahu Lisa tidak akan bicara.
__ADS_1
Lisa berdecih pelan saat Aksa mengambil alih.
"Jadi kamu lebih tahu alasan Lisa minta putus daripada aku?” dengus Arka dengan penuh sindiran.
"Aku ada di sini saat papa dan mama membicarakanmu. Jadi wajar aku tahu," ujar Aksa memberi penjelasan. Sebenarnya Aksa bisa membiarkan begitu saja. Namun ia tidak tega melihat Lisa diam seribu bahasa, sementara Arka mendesaknya bicara.
"Jadi kalian menguping." Arka menggelengkan kepala menertawakan mereka berdua.
"Namun jika yang bicara itu mama kamu, bukankah itu artinya serius?" Lisa akhirnya bicara. Arka diam. "Apa mungkin mama kamu sedang bercanda? Aku rasa tidak."
"Lalu ini yang ingin kamu lakukan? Ingin putus denganku?" ulang Arka.
"Semua demi kamu bahagia, Ka," kata Lisa klise. Dia tahu itu, tapi tidak ada kata lain lagi. Arka mendengus mendengar itu. Dia menatap Lisa yang diam sambil tetap menatapnya. Tatapan mata Lisa tidak berubah. Gadis ini sangat serius dengan kalimatnya.
"Sialan," umpat Arka tertahan. Dia meninju udara dengan marah. Aksa melihat keduanya. Dia bukan tersangka yang membuat keduanya putus, meskipun memang karena dia memegang tangan Lisa, Arka jadi marah. Namun dia menjadi was-was setelahnya.
"Baik. Jika kamu memang menginginkan aku bahagia, aku akan bahagia, Lisa. Jadi berdoa saja kamu juga bahagia. Karena kamu akan tersakiti saat aku bahagia, tapi kamu tidak," kata Arka membuat pernyataan. Lisa mengangguk perlahan.
Arka segera beranjak pergi dari mereka berdua. Padahal dia datang dengan niat ingin bersenang-senang dengan Lisa. Namun hari ini bukan hari baik untuknya. Tanpa dia perkirakan, Lisa meminta putus. Dan sungguh tidak masuk akal alasannya karena dia ingin Arka bahagia.
Selepas Arka pergi, Lisa menghela napas berat. Lalu berjalan menuju kamar bapak. Aksa mengikutinya tanpa bicara apa-apa. Meski diam, mungkin Lisa juga sedih.
...***...
"Terima kasih," kata Lisa datar.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aksa cemas.
"Ya," jawab Lisa singkat. "Bisa kita tidak bertemu lagi setelah ini?" tanya Lisa mengejutkan. Telepon Aksa terus berdering. Namun dia tidak peduli karena dia masih bicara dengan Lisa.
"Masuklah. Udara makin dingin," kata Aksa mengabaikan pertanyaan Lisa. Aksa tidak bisa meneruskan bertanya soal perasaan Lisa padanya lagi. Keputusan Lisa meminta putus dari membuat keadaan menjadi tegang dan beku. Apalagi permintaan Lisa untuk tidak bertemu.
Ponsel Aksa berbunyi. Itu sebuah notifikasi.
"Maaf mengganggumu Kak Aksa. Aku hanya ingin bertanya soal pesta di perusahaan kamu. Apakah itu benar seminggu lagi?"
Aksa menghela napas. Itu Yora.
"Ya."
"Ah, ya. Terima kasih."
__ADS_1
Setelah pesan tadi dibaca, tidak ada lagi pesan lagi dari gadis itu. Gadis itu memang takut padanya. Jadi suasana kadang menjadi membosankan saat bersama. Lagipula, meskipun Yora tidak kikuk, Aksa memang tidak pernah menaruh rasa spesial untuk gadis ini.
Ponselnya berdering lagi. Itu Noah.
"Ya, Noah." Aksa mendekatkan ponsel di telinganya.
"Ada waktu malam ini?" tanya Noah.
"Waktu? Kamu sedang galau?" tebak Aksa.
...***...
Aksa langsung melaju ke bar yang di tunjuk Noah. Pria itu duduk sendirian di sana. Aksa muncul dan menepuk punggung Noah sebelum akhirnya duduk di kursi samping.
"Ada apa?"
"Aku bertemu Yora."
"Kalian bertemu?" tanya Aksa terkejut. Bukan cemburu, tapi itu dikarenakan baru saja ia di kirimi pesan oleh gadis itu. Noah menoleh aneh karena Aksa sangat terkejut.
"Ya. Ada apa dengan ekspresi mu? Kamu tidak setuju aku menemuinya?"
"Tidak mungkin Noah." Aksa tergelak. "Kalau bisa, aku bahkan akan memberikan dirinya padamu," kata Aksa jujur. Noah mendengus.
"Dia masih cantik seperti yang aku kenal," kata Noah membuat Aksa menganggukkan kepala. Bukan setuju. Hanya ingin menanggapi saja.
"Kamu bisa merebut Yora dariku, Noah."
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Noah heran.
"Hati manusia bisa berubah-ubah. Termasuk Yora,” kata Aksa benar.
“Apa kamu masih bertemu dengan Lisa?”
“Ya.”
“Bagaimana kabarnya?”
“Tidak begitu baik malam ini.” Kini Aksa yang menghela napas berat. Ia ingat kalimat yang Lisa katakan sebelum dia pergi dari rumah gadis itu.
...____...
__ADS_1