Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 111 Awasi dia


__ADS_3

Meskipun cemas dengan apa yang akan di lakukan Aksa di tempat kerjanya, Lisa tidak bisa mengawasi pria itu terus menerus. Karena ia harus bekerja.


 


Saat Lisa mulai bekerja, Aksa menunggu di meja sudut menunggu kemunculan pemilik resto ini. Dia memperhatikan Lisa yang sibuk melayani pembeli.


 


“Pria itu mengawasi kamu terus,” bisik Hani saat berpapasan. Lisa melirik.


 


Diamlah. Aku tahu. Makanya aku tidak tenang, batin Lisa. Dia hanya berpura-pura tidak tahu. Dengan keberadaan Aksa di sana, Lisa tidak bisa langsung cuek begitu saja. Berulang kali tangannya yang memegang nampan limbung karen harus mengawasi pria itu.


 


Seorang pria yang sepertinya berumur di atas Aksa muncul dari sebuah ruangan. Pria berwajah baik. Karena itu mengijinkan Lisa bekerja di tempatnya meskipun masih sekolah. Setelah di beritahu oleh pegawainya, pria itu tahu bahwa Aksa adalah penerus pengusaha Candika.


 


"Oh, Tuan." Pria itu menyambut Aksa dengan sangat ramah. "Kenapa hanya minuman saja yang mereka sediakan?" Pria itu ingin memanggil karyawannya. Suguhan yang di berikan pada tuan penolong restonya sangatlah tidak bagus.


 


"Tidak perlu. Aku cukup ini saja," cegah Aksa seraya menunjuk minuman dingin di depannya.


 

__ADS_1


"Oh, begitu? Baiklah. Terima kasih sudah mau berkunjung ke resto kecil kami. Terima kasih juga sudah memilih resto kami untuk menjadi salah satu penyedia makanan di pesta perusahaan Anda saat itu.” Orang ini menunjukkan wajah sangat berterima kasih karena itu


 


"Oh, pesta itu." Aksa jadi ingat pesta itu. Ini adalah resto yang ia pilih karena ada Lisa yang bekerja di sini. Aksa sempat lupa. "Berterima kasihlah pada Lisa. Karena rekomendasinya, aku memilih restoran ini." Aksa menunjuk Lisa. Pria itu menoleh pada Lisa.


 


"Oh, Lisa? Pekerja paruh waktu itu?" Bos ini terkejut.


 


"Ya. Aku akan terus memberi kalian pekerjaan jika Anda menjaga dia baik-baik,” ujar Aksa serius.


 


 


"Bagus. Lalu ... aku minta awasi semua orang yang bicara dengannya." Aksa melihat ke arah Lisa yang melirik ke arahnya.


 


"Awasi? Ke-kenapa begitu?" Bos itu heran. Berulang kali memang, Lisa sengaja melirik ke arah kursi dua orang ini. Dia ingin tahu apa yang di bicarakan mereka karena Aksa tengah memandanginya.


 


"Karena dia kekasihku," kata Aksa. Bos itu terkejut. Berulang kali ia melihat ke Lisa. Mengerjapkan mata. Lalu melihat ke arah Aksa lagi. Sepertinya pemilik resto ini tidak percaya.

__ADS_1


 


“Lisa itu masih SMA meskipun badannya tinggi,” jelas pemilik resto.


 


“Aku tahu,” sergah Aksa karena pemilik menggaruk kepalanya.


 


“Oh, maaf. Saya pikir Anda tidak tahu,” uajr pemilik.


 


“Jadi aku ingin setiap ada orang yang menemuinya, Anda bisa laporkan ke sekretaris ku." Aksa meletakkan kartu nama di atas meja. “Apa kamu setuju?” tanya Aksa.


 


“Oh, baik Tuan. Anda tahu Anda bisa mengandalkan saya." Pemilik resto menepuk dadanya.


 


Apa yang sebenarnya di lakukan Aksa? Apa isi pembicaraannya? Lisa makin tidak tenang. Di kursinya, Aksa tersenyum manis ke arahnya. Lisa langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Agar pria itu tidak tahu sejak tadi ia memandanginya. Namun Aksa sudah tahu bahwa gadis ini memperhatikannya sejak tadi.


... _______...


__ADS_1


__ADS_2