Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 29 Mereka bertemu


__ADS_3

Arka masuk lagi ke dalam ruang aula pesta. Kali ini memakai setelan jas yang di pilihkan nyonya Anggita.


"Kamu terlihat sangat tampan dengan setelan ini, Arka." Anggita memuji putranya. Arka menarik kerah yang ketat di lehernya. "Jangan melepas kancingnya. Jangan." Anggita melebarkan mata panik melihat tangan Arka tidak tahan untuk menarik kerah ketat itu.


Arka menghela napas sesaat sebelum membuka pintu. Ada rasa berat untuk masuk ke dalam pesta yang dirasanya tidak pantas di datangi olehnya.


Anggita berdiri di sebelahnya. Lalu mereka masuk bersama. Tiba-tiba langkah Arka terhenti. Dia masih belum bisa untuk masuk kedalam pesta para konglomerat.


"Kamu harus bisa ikut acara seperti ini, Arka. Meskipun tidak ingin, usahakan untuk datang. Demi mama." Anggita menoleh ke samping. "Kamu tahu perjuangan mama untuk bisa sampai di sini. Kamu tidak bisa sembunyi hanya karena tidak setuju. Mama lakukan ini untuk kamu. Anak mama satu-satunya." Anggita mengatakan ini dengan nada memohon.


"Jangan perlihatkan wajah sedih seperti itu, Ma. Aku tidak suka. Simpan saja itu untuk mama sendiri." Arka mengatakan itu dengan kesal.


"Jangan bicara tidak sopan pada mama," tegur Anggita seraya tersenyum saat ada orang yang menyapanya. "Lihatlah Aksa. Dia akan bisa menguasai semua harta papa Adiwangsa. Jadi bergeraklah agar separuh, tidak ... semua harta milik Candika akan jatuh padamu."


"Aku tidak ingin harta mereka," tegas Arka.


"Jangan membantah dan diam, Arka," desis Anggita. "Aksa sedang bersama tunangannya. Mendekatlah dan perkenalkan dirimu. Kamu harus bisa berbaur dengan orang-orang seperti mereka."


Terlihat Aksa sedang berbincang dengan Noah dan yang lain. Sepertinya wanita di sebelah Aksa adalah tunangan yang di maksud mama. Ia bergerak mendekat seperti apa yang di katakan mama barusan.

__ADS_1


Keningnya berkerut saat melihat tubuh di samping Aksa makin membuatnya ingin tahu. Ia merasa tidak asing.


"Halo Arka." Noah menyapa. Kaki Arka berhenti berjalan.


Arka menoleh dan menanggapi sapaan Noah. "Halo." Lalu ia mengarahkan bola matanya ke arah Aksa lagi. Ia penasaran dengan wanita yang ada di sebelah Aksa.


"Sudah lama tidak bertemu denganmu." Noah meletakkan telapak tangannya di atas bahu anak muda ini. "Kamu seperti menghilang. Om sampai selalu mencarimu."


"Ya. Aku memang menghilang. Karena tempatku bukan di sini." Kali ini wajah Arka terlihat sendu.


"Hei ... aku tidak pernah menganggap begitu." Noah menepuk lengan Arka.


"Yora. Tunangan Aksa. Kamu selalu tidak muncul saat acara mereka berdua. Jadi belum tahu siapa dia." Noah tersenyum. Arka terus saja memperhatikan. Noah yang tadinya melihat ke depan, kini melihat raut wajah adik tiri Aksa ini. "Mendekat saja ke mereka, kamu bisa sekalian memperkenalkan dirimu. Bukankah gadis itu nantinya akan jadi kakak ipar mu ... "


"Gadis? Dia masih muda?" tanya Arka dengan heran.


"Ya. Gadis SMA sepertimu. Dia putri keluarga Wijaya. Tetanggaku dulu." Lagi-lagi bola mata Noah menerawang. Gadis di sebelah Aksa menoleh ke arah mereka berdua. Bola mata Arka mendelik.


**

__ADS_1


Lisa yang hendak menyapa nyonya Anggita urung. Mama Aksa dan seorang anak muda menjauh dari pintu aula pesta. Ia akhirnya masuk ke dalam aula setelah kedua orang tadi menghilang.


Aksa berbincang dengan Tiara. Pria itu sungguh berani. Lisa menggelengkan kepala.


"Aku melewatkan obrolan." Lisa langsung menyela saat mereka masih bicara. Tentu dengan senyuman menawan di bibirnya. Aksa tampak tidak senang melihat ini. Namun ia tidak bisa mengusir gadis ini. "Kemana Kak Noah?" tanya Lisa melihat pria itu tidak ada.


"Entah." Aksa lebih peduli pada perempuan so depannya daripada gadis ini. Ponsel Tiara berdering.


"Sepertinya aku harus pergi untuk menjawab telepon ini." Tiara meminta ijin.


"Oh, silakan. Kamu bisa bebas pergi kemana saja yang kamu mau." Lisa dengan senang hati mengusir perempuan itu lembut. Aksa menggeram mendengar Lisa dengan santainya mengusir Tiara. Namun perempuan itu segera pergi karena sepertinya itu telepon penting.


"Kamu mengganggu," desis Aksa. Lisa diam berpura-pura tidak dengar. Kepala Lisa menoleh ke kanan dan kiri. Tak sengaja ia melihat ke belakang.


Arka?! Bola mata Lisa mengerjap dan segera memalingkan wajah. Tidak. Kenapa ada Arka? Kenapa ada dia? Apa aku salah melihat? Mungkin saja. Tidak mungkin Arka ada di sini.


______


TUNANGAN PALSU

__ADS_1


__ADS_2