
Dalam perjalanan pulang, Aksa menggeram di di belakang kemudinya. Ia masih marah. Dipandanginya jas yang sudah di lempar Lisa ke tanah.
"Sial," umpat Aksa. "Bocah itu ... Apa yang dia ketahui soal jas ini. Bocah tidak tahu diri itu ...." Aksa mempercepat laju mobilnya. Menerobos jalanan yang mulai padat.
**
Arka bersiap di depan teras menunggu Arka menjemput. Sekitar jam 7 malam lebih sedikit, cowok itu muncul. Lisa tahu jam berapa tepatnya cowok itu muncul, karena sebelumnya ia berniat meneleponnya karena belum datang.
Senyum Lisa mengembang.
"Sebentar." Setelah mengatakan itu, ia masuk lalu pamit pada bibi Sarah. Tangannya meraih helm dan di kejutkan oleh Arka yang ternyata turun dari motornya. "Eh, kenapa turun?"
"Aku lihat ada bibi Sarah, jadi sebaiknya aku pamit dulu," kata Arka membuat bibi Sarah yang ada di dalam rumah melongok keluar.
"Siapa?" tanya bi Sarah. Lisa geser dari pintu untuk mempersilakan cowok ini masuk.
"Saya Arka," kata Arka mengenalkan dirinya. Meskipun pernah ke rumah Lisa dan bertemu dengan Bi Sarah, Arka belum mengenalkan dirinya dengan benar.
"Oh, ya ..." Bibi Sarah menaikkan alisnya menggoda Lisa. Dia mengerti kalau cowok ini pacar keponakannya.
"Saya mau mengajak Lisa keluar," ijin Arka.
"Ya. Jangan lupa, pulang sebelum malam," pesan Bi Sarah.
***
Motor Arka melaju dengan kecepatan standar. Mungkin dari sekian hari, dimana Lisa bersama Arka, inilah waktu yang menunjukkan kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih. Karena seringkali Lisa justru keluar dengan Aksa daripada kekasihnya sendiri.
"Mau kemana?" tanya Arka. "Jangan bilang mau main basket."
"Eh, aku belum bilang apa-apa," kata Lisa yang sebenarnya terkejut karena Arka sudah tahu apa yang akan ia katakan barusan.
"Aku menyukai basket, tapi jika kencan aku ingin melakukan hal lain," kata Arka. Lisa memilih main ke pusat permainan. Dan Arka setuju. Motor di belokkan ke arah mall yang menjadi saingan keluarga Candika.
Setelah memarkir motor di area parkir, mereka berjalan menuju area city walk. Dimana, jalan kanan dan kiri terdapat berbagai macam outlet makanan dan minuman.
__ADS_1
"Mau makan sekarang?" tawar Arka karena Lisa tampak sangat tertarik pada makanan.
"Oh, tidak. Kita harus main dulu, baru makan kemudian," kata Lisa menggelengkan kepala. Walaupun bicara seperti itu, kepala Lisa tetap melihat ke arah yang sama.
"Benar?" tanya Arka. Kepala Lisa menengok pada Arka dan tersenyum.
"Satu eskrim boleh?" pinta Lisa seraya meringis. Memamerkan deretan giginya. Arka tergelak.
"Oke. Di mana?"
"Di sana," tunjuk Lisa dengan wajah ceria.
"Ayo."
Langkah mereka berdua menuju ke outlet itu. Dari neon box di atas, outlet ini terlihat begitu menggiurkan. Apalagi pas masuk ke dalam. Berbagai macam es krim terpajang di sana. Lisa membasahi bibirnya merasa sangat ingin segera mencicipi es krim dengan banyak varian itu.
Lisa mencoba menahan diri saat Arka memintanya memilih varian rasa. Dia takut kalap karena begitu menginginkan semuanya. Hanya tidak rasa yang ia pilih. Cokelat, alpukat, dan, kacang hijau.
"Makan di sini apa di bawa jalan?" tawar Arka setelah memesan apa yang di tunjuk Lisa.
"Kita makan sambil jalan aja. Kalau duduk disini, nanti enggak bisa cepat sampai di game center," kata Lisa.
Duk!
Tepat di depan pintu, saat mereka hendak keluar dari outlet itu, seorang gadis masuk membuka pintu seraya mengobrol dengan temannya. Karena tidak fokus melihat ke depan, gadis itu menabrak Arka dan menumpahkan es krim milik cowok ini.
Beberapa gadis yang berdiri di belakang ikut berseru terkejut, melihat es krim yang tumpah itu. Beberapa orang yang duduk menikmati es krim juga menoleh melihat kejadian ini.
Lisa ikut melongok ke kaos Arka. Lalu dia berjalan ke belakang meminta tisu pada karyawan outlet.
"Ah, maaf. Maafkan aku. Karena meleng, aku jadi tidak melihat ada orang di balik pintu. Padahal ini pintu kaca. Seharusnya aku sudah tahu dari luar. Maafkan aku." Gadis itu merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Itu tidak di sengaja," kata Arka datar. Lisa muncul membawa tisu.
"Lebih baik kita ke kamar mandi. Kamu bisa bersihkan ini memakai air. Aku bawa tisu." Lisa memberi usulan.
"Ya." Karena sibuk mendengarkan Lisa, Arka tidak lagi mempedulikan gadis itu. Lisa dan Arka pergi tanpa menoleh pada gadis itu lagi. Namun gadis ini masih menoleh ke arah mereka berdua, hingga tubuh mereka lenyap tidak terlihat.
__ADS_1
**
Lisa menunggu di luar toilet pria. Agak jauh karena ia masih harus menjilati es krimnya. Sementara Arka membersihkan kaosnya dari tumpahan eskrim di dalam.
Saat itu terlihat seseorang yang tidak asing dari kejauhan. Awalnya ia ragu tentang siapa orang itu. Namun saat sudah ada di jarak pandang yang bisa terlihat jelas, Lisa terkejut.
Allen, pekik Lisa di dalam hati.
Dia langsung memutar tubuhnya menghadap ke tembok. Ia tidak ingin ketahuan oleh gadis itu. Karena kencan ini sangat berharga. Dia tidak ingin kencan yang sudah di rencanakan hancur berantakan.
Namun takdir mengatakan lain. Seseorang tidak sengaja menyenggol lengannya dan membuat ponsel yang di genggamnya terjatuh. Ini membuat Lisa membungkuk dan lupa bahwa ia sedang bersembunyi.
"Kak Yora. Kak Yora, kan?" tanya Allen seraya menyentuh lengan Lisa dengan setengah membungkuk. Memastikan sendiri bahwa gadis yang ada di depannya adalah calon kakak iparnya.
Sial, keluh Lisa di dalam hati.
"Emmm ..." Saat masih berpikir apakah harus menjawab iya atau tidak, dia melihat Aksa. Pria itu ternyata muncul juga. Tatapan mereka beradu. Jadi mereka sedang berdua? Sepertinya hubungan mereka mulai lebih hangat. "Ah, ya ..." Lisa tergelak. Allen mengikuti tubuh Lisa yang mulai tegak.
"Hampir saja aku tidak mengenali kakak, barusan," kata Allen sambil tertawa ringan. Lisa ikut tertawa ringan sambil memasang wajah tegang kemudian. "Kenapa kakak ada disini? Kak Aksa bilang kakak sedang istirahat?" tanya Allen sesekali melihat ke Aksa.
Sepertinya pria itu terpaksa mendekat karena mengikuti Allen.
"Ya? Istirahat?" kata Lisa berusaha mempelajari maksud kata-kata Allen. Dia melirik sesekali ke Aksa yang sejak tadi diam.
"Iya. Kak Aksa mau keluar buat ambil laundry jas yang di belikan mama kandung Allen dulu. Aku sekalian ikut dan ingin mengajak kak Yora. Namun kata Kak Aksa, kakak enggak bisa di ganggu soalnya istirahat," jelas Allen membuat Lisa paham.
Jadi jas kemarin di belikan oleh mendiang mama Aksa? Karena itu, dia benar-benar marah dan tidak ingin menghubungiku yah? Makanya sejak tadi aku terbebas dari panggilan teleponnya. Lisa merasa bersalah sudah membuang jas berharga milik Aksa.
"Oh, begitu. Ya ... awalnya aku ingin istirahat karena capek, tapi ... tiba-tiba aku ingin keluar." Lisa membuat kalimat yang membenarkan kalimat Aksa. Pria itu hanya diam saja meskipun ketahuan berbohong.
"Kakak sama siapa?" tanya Allen yang tidak melihat siapa-siapa di sekitar gadis ini. Lisa tampak berpikir keras.
"Sama teman," sahut Lisa.
"Emmm ... padahal aku pikir bisa mengajak kak Yora ikut dengan kita berdua," kata Allen kecewa.
"Sebaiknya kita segera pergi. Biarkan dia bersama temannya. Kita punya acara sendiri," kata Aksa tiba-tiba berinisiatif. Allen menatap Lisa, dengan sedih. Ia masih ingin mengajak kakak iparnya itu pergi bersama.
__ADS_1
_____