Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 28 Arka muncul


__ADS_3


"Kak Noah enggak suka sama perempuan itu ya?" bisik Allen selepas Lisa pergi. Yang di maksud gadis yang masih duduk di bangku SMA kelas 1 ini adalah Tiara.


“Tiara?” tanya Noah. Gadis itu mengangguk. “Sebenarnya bukan enggak suka. Kurang setuju saja, dia yang terus saja menempel pada Aksa.”


“Ya. Kak Aksa sih tetap memperlakukan wanita itu istimewa. Jadinya begitu,” ujar Allen bisa mengerti.


“Ya. Sangat disayangkan Yora dapat pasangan seperti kakakmu.” Allen manggut-manggut. Ia setuju soal itu. “Padahal Yora itu sudah cantik, lembut dan perhatian, tapi entah kenapa Aksa tidak tertarik. Jika saja tidak ada perintah kakek untuk bertunangan dengannya ... ” Pandangan Noah menerawang.


 


Allen mengerjap melihat raut wajah Noah di sampingnya. Ada raut wajah sedih saat mengatakannya.


“Kak Noah ... Menyukai kak Yora?” tanya Allen pelan, tapi mampu membuat Noah bagai tersengat lebah. Pria ini terkejut.


“B-bukan. Jangan menanyakan hal yang tidak ada hubungannya dengan apa yang aku katakan, Allen ...” ujar Noah yang berusaha menyembunyikan kegugupannya. Allen menerima sinyal itu. Ia mengenali adanya kebenaran di sana. Pria itu memang menyukai Yora.


Allen menghela napas. Sungguh mengejutkan menemukan hal ini.


 


 


......................


 


“Lepaskan tanganku,” ujar Aksa setelah mereka berhasil sampai di ruangan yang di pakai untuk istirahat. Lisa melepaskan tangannya. Maya melirik. “Bukannya kamu mau merapikan gaun pestamu? Aku tidak tahu soal itu. Jadi lebih baik aku kembali ke pesta.”


 


“Ah ya. Terima kasih.” Lisa akhirnya melepaskan Aksa. Mereka berdua masuk. Pria itu pun segera lenyap meninggalkan mereka berdua.


 


“Ada apa? Kenapa kamu harus berbohong soal gaunmu?” tanya Maya yang tahu bahwa pakaian Lisa baik-baik saja.

__ADS_1


“Noah mau mengajar Aksa.”


“Hah?! Benarkah?” Maya terkejut. Lisa mengangguk sambil bersandar pada sofa. Bahkan perlahan meringkuk. “Hei ... Ayo bangun. Gaun pesta ini akan benar-benar kusut jika kamu begini.” Maya menarik lengan Lisa untuk tetap duduk dengan tegak.


“Aku lapar,” kata Lisa dengan meringis terpaksa patuh.


 


“Lapar? Kita harus kembali ke pesta kalau ingin makan.”


“Benar, tapi ijinkan aku istirahat sebentar.” Lisa memilih bersandar dengan kepala di atas bahu kursi.


“Ceritakan soal Noah yang mau menghajar Aksa.” Maya tampak antusias.


“Kamu tahu? Noah menyukai Yora.”


“Benarkah?” Bola mata Maya melebar.


“Darimana kamu tahu?” tanya Maya yang belum bisa percaya. Lisa menceritakan soal Sera dengan cerita soal Noah dan Yora itu.


“Jangan sampai Noah membuat kekacauan dan membahayakan posisi Yora. Nyonya Anne tidak akan senang.”


“Ada apa Nyonya?” tanya Maya was-was.


“Perempuan itu. Perempuan itu bisa membuat Yora gagal menjadi menantu Candika.” Mata nyonya Anne terlihat memerah. Tubuhnya gemetaran. Maya langsung mendekat dan memegang lengan nyonya Anne. Lisa langsung berdiri.


“Lebih baik Anda duduk, Nyonya.” Maya membimbing beliau duduk. Lisa mendekat. Tubuhnya tidak lagi lemah karena kelaparan. Ia cukup terkejut dengan reaksi nyonya Anne dengan kemunculan Tiara.


“Lisa. ” Nyonya Anne melihat ke arah Lisa. Lalu memegang kedua tangan gadis ini. “Kamu harus tahu. Perempuan itu harus bisa pergi jauh dari Aksa. Jika tidak, Aksa akan terus bersamanya dan Yora tidak akan pernah punya kesempatan ada di hati Aksa. Putriku tidak akan bisa menjadi menantu keluarga Candika.” Perempuan paruh baya ini begitu panik saat mengatakannya.


“Saya mengerti, Nyonya.” Lisa mengganti posisi tangan nyonya Anne menjadi di bawah telapak tangannya. Kini gantian Lisa memegang kedua tangannya.


“Sebaiknya kembali ke tempat pesta secepatnya. Aku ingin istirahat di sini.” Nyonya Anne memejamkan mata. Maya memberi kode untuk Lisa pergi.


“Ya. Saya akan kesana, Nyonya. Biarkan Maya di sini saja. Saya bisa kesana sendirian.”


......................

__ADS_1


 


Aksa masih berada di lorong. Pria ini belum masuk ke tempat pesta lagi karena melihat seseorang. “Hei,” sapa Aksa saat melihat anak muda berjalan dengan santai di lorong gedung. Anak itu mendongak. “Ternyata kamu muncul hari ini.”


“Lama tidak jumpa, Kakak,” kata Arka dengan nada sopan.


“Jangan panggil aku kakak jika tidak ingin. Aku tidak tersanjung meski kau memanggilku seperti itu dan aku tahu kamu tidak suka.” Aksa menanggapi dengan dingin. Arka hanya tersenyum.


 


“Aku harus memanggilmu seperti itu. Karena jika tidak, mama akan marah.” Arka bicara dengan wajah seakan tidak suka. Namun keadaan membuatnya pasrah. Dia tidak bohong soal itu.


 


“Begitu ternyata. Lakukan saja jika itu yang di harapkan mama" Bola mata Aksa mengamati Arka. "Lebih baik kamu mencari baju yang pantas sebelum kesini, Arka. Karena papa mungkin menyuruhmu bicara di depan banyak orang.” Aksa mengatakan itu dan berlalu.


Arka menghela napas. Sebenarnya ia malas ke pesta perusahaan ini. Menurutnya ini tidak penting. Kakinya berbalik dan beranjak pergi.


"Arka! Mau kemana kamu?!" teriak nyonya Anggita yang mendengar ada Arka di luar.


"Sial. Sepertinya aku ketahuan," gumam Arka seraya mengentikan langkahnya. Lalu membalikkan badan dan langsung memasang senyum. "Halo ibu," sapa Arka.


Sementara itu Lisa yang sudah keluar dari ruang istirahat mengerjapkan mata melihat nyonya Anggita di depan pintu masuk. Beliau terlihat sedang berbicara dengan seorang pemuda.


"Siapa dia? Apakah itu adik Aksa yang mereka bicarakan waktu makan malam?" Lisa bertanya pada dirinya sendiri. Manik matanya memperhatikan. "Kenapa semua orang merasa aku kenal ya ..." Lisa merasa tidak asing dengan cowok itu.


"Ayo ikut mama." Nyonya Anggita mengajak Arka ke tempat lain. Tidak masuk ke dalam ruang pesta. "Kamu harus mengganti pakaianmu dulu." Mereka berjalan lurus di depan dengan membelakangi Lisa. Ini membuat Lisa tidak bisa melihat wajah anak muda itu.


________


TUNANGAN PALSU


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2