Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 9 Kebetulan


__ADS_3

"Keluarga Bapak Sapta!" Lisa berdiri.


"Saya putrinya," jawab Lisa. Perawat itu meneliti sebentar.


"Istri bapak Sapta tidak ada? Kami butuh wali dewasa karena ini masalah penting."


"Soal?"


"Bapak Sapta harus di operasi karena ada pendarahan di otak." Lisa menegang. Bapak harus selamat, tapi darimana mendapatkan biaya untuk operasi.


"Sebentar saya menghubungi keluarga dulu."


"Baik. Segera beritahu saya."


"Baik."


Ibu masih tidak bisa di hubungi. Lagi-lagi Sabo dan dua orang temannya hanya menemani dan memantau. Soal ini dia juga mereka tidak bisa ikut campur.


Penanganan Ayah Lisa tertunda sejenak karena wali keluarga hanya seorang anak SMA. Ibu belum datang karena tidak bisa di hubungi. Lisa frustasi. Nero dan Aris inisiatif menjemput Ibu Lisa. Sementara Sabo menemani di rumah sakit.


***


Aksa yang sudah selesai dengan urusannya hendak menuju toilet. Saat itu di lihatnya ada seorang gadis sedang berdiri di depan tikungan menuju toilet pria. Dia berhenti sejenak merasa bahwa dia telah salah tempat. Karena gadis tadi masuk ke dalam toilet.


Kepalanya mendongak ke atas. Ke arah atas pintu dimana keterangan ini adalah toilet untuk pria atau wanita. Ternyata gambar itu menunjukkan bahwa ini adalah toilet pria.

__ADS_1


Tapi Aksa tidak segera masuk ke dalam toilet. Karena gadis tadi tidak juga keluar dari sana. Aksa memiringkan kepala dengan maksud berpikir tentang hal ini.


Ada apa dengan gadis itu? Bukankah sudah jelas ini adalah toilet pria. Apa yang sedang dia lakukan di dalam sana?


Aksa menggelengkan kepala. Berpikir, kenapa dia harus berpikir untuk memikirkan gadis itu. Dia orang lain bukan. Tidak perlu memikirkan terlalu dalam, tidak ada kewajiban untuk itu.


Dua pengawal yang mengikutinya juga melirik. Mereka berpikir kenapa tuan mudanya tidak segera masuk ke toilet. Dia hanya berdiri dan geleng-geleng kepala sendiri di depan pintu.


Aksa akhirnya memutuskan masuk. Di dalam sepi. Namun kemudian dia melihat gadis itu sedang berdiri sambil bersandar dengan menunduk lesu. Merasa ada orang gadis itu berbalik menghadap dinding. Meski tidak jelas wajahnya, Aksa yakin gadis itu adalah gadis yang sedang berdiri di depan toilet tadi.


Tidak ada gadis yang akan masuk toilet pria selain dia. Jelas ini sangat mengusik mata. Bagaimana bisa Aksa akan menyelesaikan urusannya kalau ada seorang gadis sedang berdiri di sana.


Tiba-tiba gadis itu menangis. Walaupun pelan, Aksa mendengarnya.


Lalu Aksa menyodorkan tisu tanpa mengeluarkan suara. Darimana bisa pria ini dapat tisu? Ternyata petugas toilet lupa meletakkan tisu di dalam toilet. Ya, itu tisu toilet. Daripada tidak, bukan. Ada yang meletakkan tisu toilet begitu saja di atas meja yang terbuat dari beton.


Lelaki itu ternyata lemah terhadap air mata wanita. Namun ternyata Aksa bukan tersentuh mendengar isak tangis lirih barusan. Dia merasa harus cepat mengeluarkan gadis ini.


Dia menyerahkan tisu tanpa melihat ke arah gadis itu. Walaupun di tahan, gadis itu masih memperdengarkan isakannya. Dan tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di tembok dengan keras. Aksa tersentak kaget.


"Ini sangat menyebalkan!" jerit gadis itu.


Seorang gadis sedang menangis di toilet laki-laki, sambil memukul dinding. Ini perpaduan kejadian yang janggal. Namun Aksa melihat sendiri bahwa ini tidak tepat. Kenyataannya memang seperti itu.


Gadis itu melihat tisu yang dipegangnya.

__ADS_1


Bukankah ini tisu toilet? Tak apalah.


Di negara ini lumrah memakai tisu toilet untuk segala macam. Bukankah banyak tisu toilet yang terpajang anggun dia meja makan.


"Bisakah kamu berhenti menangis?" tanya Aksa membuat gadis yang masih membelakanginya terusik. Apalagi mendengar suara laki-laki yang terdengar kesal. Dia jadi ikut senewen juga.


"Anda tidak berhak menyuruh saya berhenti menangis. Dan kenapa Anda berada di sini?" tanya gadis itu tanpa menoleh.


"Aku punya hak untuk itu. Dan aku juga punya hak untuk berada disini," jawab Aksa. tertahan.


"Kenapa?" Gadis ini kesal.


"Karena kau sedang menangis di toilet pria. Dan aku harus mengusir mu, karena kamu telah menghalangi kegiatanku," ucap Aksa tidak lagi bisa menahan kesal.


"Oh ya?" tanya Lisa sambil mengedarkan pandangan ke seluruh area toilet. Benar. Matanya tertuju pada bentuk wc yang hanya khusus laki-laki. Bola mata Lisa melebar karena mengalami syok berat.


Lalu beberapa detik kemudian memejamkan mata dan mendesis kesal. Menyadari dirinya begitu bodoh. Karena memikirkan kondisi ayah dan juga biaya rumah sakit, Lisa melamun. Dan akhirnya seperti ini. Dia salah masuk, mengira ini toilet wanita.


"Sa! Kamu di dalam?" teriak Sabo di luar. Nero dan Sabo sudah mencari di toilet dekat lobi, tapi tidak ketemu. Akhirnya sampai di toilet perempuan di sebelah, tapi juga tidak ketemu.


Pada saat melintasi toilet pria yang terletak di balik toilet perempuan itu, Nero mendengar suara Lisa dari di dalam toilet pria ini. Toilet yang agak jauh dari lobi.


Lisa terkesiap. Sebelum Nero dan Sabo masuk ke dalam toilet, Lisa sudah berhasil menghambur keluar dengan menutup sebagian wajahnya. Menerobos melewati Aksa dengan wajah di tutup dengan tangannya. Jadi hanya kelihatan bola matanya saja.


***

__ADS_1


TUNANGAN PALSU


__ADS_2