Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 110 Terserah


__ADS_3

Lisa mendorong tubuh Aksa Lalu segera berdiri. Aksa tidak melepaskan tubuh itu.


 


"Aku akan buktikan kalau aku tidak pura-pura," kata Aksa sungguh-sungguh. Lisa menatap mata pria ini beberapa detik.


 


"Berusahalah supaya apa yang kamu janjikan itu benar, playboy. Sekarang antar aku pulang. Aku mau bekerja. Sepertinya aku akan terlambat." Lisa melihat ke arah arloji di tangannya. Ini sudah sore.


 


"Oke." Aksa setuju. Dia bergegas ke meja kerja untuk mencari kunci mobilnya. Kemudian mengejar Lisa yang sudah berjalan keluar lebih dulu.


 


Semua orang di perusahaan sempat heran melihat Lisa yang berjalan dengan Aksa. Karena tadi, mereka melihat Noah sedang berjalan dengan gadis yang mirip. Namun kenapa pakaian yang mereka pakai tidak sama?


 


Sepertinya mereka melihat kemiripan pada dua gadis ini.


 


Di dalam mobil, Lisa diam saja. Aksa melihat ke samping.


 


"Sedang memikirkan apa?" tanya Aksa. Lisa menoleh sebentar, lalu kembali melihat jalanan dari samping jendela.


 


"Enggak ada."


 


"Ada yang membuat kamu resah?"


 


"Tentu. Dan itu kamu," tuding Lisa.


 

__ADS_1


"Aku merasa tersanjung dengan itu."


 


"Kenapa tersanjung? Itu hal yang tidak baik, Aksa." Lisa menggelengkan kepalanya.


 


"Itu berarti kamu sedang memikirkan aku." Aksa tersenyum menawan. Ya. Aksa tidak salah. Lisa sedang kebingungan sendiri kenapa dia dengan mudah berganti tertarik dengan Aksa setelah putus dengan Arka.


 


Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Terserah. Lisa menggelengkan kepala. Memilih tidak resah karena hal itu.


...***...


 


Mobil Aksa sudah sampai di tempat kerja sambilan gadis ini. Lisa turun lebih dulu dari Aksa. Pria itu turun kemudian.


 


"Terima kasih sudah mengantar,” ucap Lisa.


 


 


"Itu tidak mungkin. Karena aku harus bekerja supaya dapat uang jajan lebih," kata Lisa tegas.


 


"Kamu memang suka bekerja keras. Selamat bekerja ya?" Tangan Aksa terulur untuk mengusap kepala gadis ini. Di sini dada Lisa berdesir. Elusan kepala ini memang begitu menenangkan. Dia terhanyut sebentar barusan. Menjadikan gadis ini hanya mengangguk saja dan terlihat patuh.


 


Di dalam orang-orang heboh melihat Lisa di antar seorang pria dewasa dengan mobil bagus. Tak ayal lagi mereka berebut ingin melihat pria ini.


 


"I-tu kalau enggak salah. Orang penting di perusahaan yang order catering itu," kata Hani yang kala itu ikut dalam pesta perusahaan milik Aksa, menjadi petugas catering resto ini. Semua makin fokus melihat ke arah Lisa dan Aksa.


 

__ADS_1


"Sudahlah. Cepat pulang. Aku sepertinya terlambat," keluh Lisa melepaskan tangan Aksa. Selain tidak mau orang-orang akan menemukan Aksa, Lisa juga tidak mau jantungnya kelelahan terus saja berdetak kencang.


 


"Oh, ya? Kalau begitu, ayo. Aku antar kamu masuk ke dalam."


 


"Ha? Ngapain?" Lisa panik. Aksa tersenyum dan menarik tangan Lisa untuk masuk ke dalam resto. "Aku lewat pintu belakang. Bukan lewat sini." Lisa menunjuk pintu belakang. Namun Aksa tidak menggubrisnya. Dia tetap menarik lengan Lisa untuk masuk ke dalam resto lewat pintu depan.


 


Orang-orang yang tadinya heboh melihat ke arah Lisa dan pria ini, makin tegang menyaksikan kedua orang ini muncul di depan mereka.


 


"Selamat sore," sapa Aksa.


 


"Sore," jawab mereka hampir bersamaan dengan gugup. Lisa menipiskan bibir. Hani memberi kode pertanyaan untuk gadis ini. Lisa hanya melebarkan mata saja.


 


"Bisa saya bertemu dengan atasan di sini?" tanya Aksa.


 


"Y-ya," jawab Hani gugup.


 


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Lisa was-was.


 


"Tidak ada. Hanya beberapa kalimat," jawab Aksa.


 


"Segera kembali ke kantor dan urusi perusahaan mu. Jangan membuat onar di sini," bisik Lisa. Aksa hanya tersenyum misterius.


...______...

__ADS_1



 


__ADS_2