Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 102 Keras Kepala


__ADS_3

Reno kini sudah tiba di sebuah pemakaman. Pemakaman elit yang ada di kota itu. Melihat pemakaman itu Reno sangat yakin kalau sahabat Daddy-nya bukan orang sembarangan. Terlepas dari masa lalunya yang sangat rumit.


Sebelum menuju dimana makam itu berada, ia mengabarkan dulu pada Daddy-nya dan mengatakan kalau sahabatnya sudah lama meninggal. Terdengar suara sedih dari Tuan Hadiata saat tahu kalau sahabatnya sudah meninggal. Setelah itu barulah Reno menanyakan keberadaan makam itu pada penjaga makam.


“Tuan berjalan lurus saja. dan makam itu berada paling pojok dengan disekelilinya banyak ditumbuhi taman bunga lily. Baru saja kalau nggak salah anak dari beliau berkunjung.” Ucap penjaga makam itu.


Deg


Ada rasa aneh dalam hati Reno. Namun dia sulit mengartikan. Kalau anak dari sahabat Daddy-nya berkunjung ke sini itu tandanya mereka tinggal di kota ini juga. namun kenapa tadi dia mendapat informasi kalau keluarga itu tinggal di kota J.


“Apakah benar yang anda katakan, Pak? Apa Bapak tahu tentang keluarga beliau?” tanya Reno memastikan.


“Maaf. Sepertinya tidak, Tuan. Saya juga baru melihat wanita hamil tadi datang kesini. Dulu pernah juga anaknya yang laki-laki. Tapi sudah lama tidak pernah datang lagi.” jawab pria itu.


“Wanita hamil” Gumam Reno. Dengan mengetahui fakta itu Reno sedikit lega. Setidaknya posisinya aman kalau anak sahabat Daddy-nya sudah berkeluarga. Meskipun Daddy-nya sudah mengatakan tidak akan menjodohkannya lagi.


Kemudian Reno berjalan menuju makam itu. Melihat nama lengkap yang terukir di batu nisan itu membuat Reno sangat janggal. Namun dia juga tidak bisa menemukan sesuatu. Entah karena saking banyaknya pikiran, ditambah dengan tubuhnya yang sangat lelah karena kurang beristirahat.


Reno duduk sejenak dan berdoa di samping makam itu. Pria itu berdoa sebentar untuk kebaikan mendiang sahabat Daddy-nya, meski dia tidak mengenalnya sama sekali.


**


Setelah lelah dengan pencariannya. Kini Reno sudah kembali ke kota J. badannya benar-benar lelah. Dia ingin istirahat terlebih dulu sebelum mendatangi rumah keluarga itu.


Bertepatan itu Chiko datang ke rumahnya. Pria itu sangat prihatin melihat wajah lelah sahabatnya.

__ADS_1


“Ren, apa kamu baik-baik saja?” tanya Chiko khawatir melihat wajah pucat Reno.


Entah memang karena kelelahan atau hal lain, Reno merasakan tubuhnya sangat lemah. Saat dia hendak berdiri mengambilkan minum untuk Chiko, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk.


“Ren!” pekik Chiko terkejut.


Chiko mengangkat Reno yang sudah pingsan. Dia meminta bantuan satpam rumah untuk membopong Reno ke mobil. Chiko harus membawa Reno ke rumah sakit, karena keadaan sahabatnya itu benar-benar mengenaskan.


***


Abi saat ini tengah berada di dalam kamarnya. Dia baru saja bangun dari tidur siangnya. Tiba-tiba dia merasakan dadanya sesak dengan degupan jantung yang tak beraturan. Seketika itu keringat dingin juga muncul.


“Kenapa tubuhku tiba-tiba bereaksi seperti ini.” gumamnya khawatir.


Abi mengusap peruntnya yang sudah membesar. Dia berdoa agar tidak terjadi dengan kandungannya. Setelah itu dia meminum segelas air putih yang ada di atas nakas.


Hingga sampai sore hari perasaan Abi masih diselimuti rasa cemas yang tak berujung. Dia juga sudah menghubungi dokter kandungannya. Dan rasa sesak yang dia rasakan itu adalah hal wajar bagi ibu hamil di saat usia kandungannya sudah tua. Akhirnya rasa cemas itu sedikit berkurang.


Tak lama kemudian ada notif pesan dari Mamanya. Pesan yang berisi sebuah foto. Karena penasaran, Abi membuka foto itu.


Deg


Air mata Abi mengalir begitu saja saat melihat foto wajah seseorang yang telah menyakiti hatinya. Bukan teringat akan kesalahan orang itu yang membuat Abi menangis. Tapi melihat keadaan pria itu lah yang membuat hati Abi sangat nyeri.


Ya, foto itu adalah foto dimana Reno sedang terbaring di atas brankar rumah sakit. Bahkan awalnya ia sulit untuk mengenali wajah itu. Pasalnya tubuh Reno terlihat begitu kurus. Sangat jauh berbeda sebelum mereka berpisah dulu.

__ADS_1


“Reno!” gumamnya dalam isakan.


Tak lama kemudian Mamanya meneleponnya. Buru-buru Abi menghapus air matanya dan menyembunyikan kesedihannya.


“Ya, Ma?”


“…..”


“Viana sudah melihatnya.”


“…..”


“Meskipun keadaannya seperti itu, masih tidak bisa menghilangkan rasa sakit hati ini, Ma”


Ucap Abi dan langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak. Nyatanya hati dan mulut Abi tidak sinkron. Hatinya iba melihat keadaan Reno seperti itu, namun mulutnya masih belum bisa memaafkan. Apakah dirinya sangat jahat. Abi kembali menangis tergugu. Apakah semudah itu dia akan memaafkan kesalahan Reno.


Sementara Lidia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak menyangka kalau anak perempuannya itu sangat keras kepala. Dirinya saja ikut sakit melihat foto Reno yang dikirim oleh seseorang beberapa waktu yang lalu.


“Semoga kamu baik-baik saja, Nak Reno!” gumam Lidia sembari mengusap sudut matanya yang berair.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2