
Setelah diperiksa oleh dokter anak, baik Abi maupun Reno tampak lega karena Raffael hanya demam biasa. Demam yang wajar dialami balita seusia Raffael yang sedang dalam masa pertumbuhan. Apalagi Raffael kini semakin aktif belajar berdiri, yang menyebabkan dia sering jatuh.
Dokter memberikan beberap obat penghilang rasa sakit dan penurun demam. Setelah itu pamit undur diri.
Abi sama sekali tidak bisa meninggalkan anaknya, walau sekarang Raffael sedang tidur pulas. Sedangkan Reno sejak tadi mencoba menghubungi Chiko untuk menanyakan keberadaaannya, namun panggilannya tak kunjung dijawab.
“Sayang, aku keluar dulu. Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal sebentar?” pamit Reno sebelum pergi.
“Kemana?”
“Aku mau ke apartemen Chiko. Apa kamu ingin sesuatu, nanti sekalian aku belikan?”
Abi mengangguk mengijinkan. Namun untuk penawaran suaminya, dia masih diam karena memang tidak menginginkan sesuatu. Apalagi Raffael sedang sakit seperti ini.
“Nanti saja akan aku hubungi jika menginginkan sesuatu.” Jawab Abi.
Reno mengecup kening istrinya lalu turun ke perut rata Abi sebelum pergi. Tak lupa juga mencium pipi Raffael.
***
Chelsea yang tadi baru bertemu Abi, dia tidak langsung pulang. dia cukup lama berdiam diri di dalam mobil sedang memikirkan idenya yang ingin pergi jauh. Hingga akhirnya terdengar suara deringan ponselnya. Perempuan itu tampak heran saat melihat id pemanggilnya adalah sang Papa. Karena khawatir ada hal buruk, dia pun segera menjawabnya.
“Iya, Pa?”
“…..”
“Memangnya ada apa sih, Pa?”
“….”
“Baiklah. Chelsea pulang sekarang.”
__ADS_1
Entah di rumah sedang ada apa, hingga menyebabkan Papanya menyuruhnya cepat pulang. Chelsea sudah menanyakan, tapi Papanya tidak mau memberitahunya.
Chelsea menyalakan mesin mobilnya, lalu memacunya dengan kecepatan sedang menuju rumah. tak lama kemudian ia sampai rumah. betapa terkejutnya saat ia melihat mobil Jo sudah terparkir di sana. Dengan langkah cepat Chelsea mamasuki rumahnya. Dan semakin dekat, ia mendengar suara ramai orang yang sedang berbicara. Tapi itu bukan suara Jo saja.
“Nah, ini yang ditunggu sejak tadi.” Ucap Mama Chelsea menyambut kedatangannya.
Di ruang tamu itu tampak Jo bersama kedua orang tuanya. Bahkan Jo menyambut kedatangannya sambil tersenyum manis ke arahnya. Bahkan kedua orang tua Jo dan orang tuanya tampak akrab. Bukankah sejak dulu kedua orang tuanya tidak suka dengan Jo. Ada apa ini?
“Sayang, kemana saja? aku sejak tadi menunggumu loh.” Seloroh Jo tanpa beban.
Kedua orang tua Jo juga tersenyum hangat pada Chelsea. Karena memang sejak dulu orang tua Jo memang sangat baik terhadapnya. Akhirnya untuk menghormatinya, Chelsea mencium tangan kedua orang tua Jo dengan takzim.
“Bagaimana kabar, Nak Chelsea?” tanya Mama Jo berbasa-basi.
“Baik, Tante.” Jawab Chelsea cukup sopan.
Tak lama kemudian Papa Jo mengambil alih pembicaraan dan mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Chelsea. Dalam hati Chelsea sudah tidak tenang dan sepertinya ada firasat tidak baik.
Deg
Benar dugaan Chelsea. Firasat buruk itu benar adanya. Dia meremat kuat bajunya dengan tatapan tertuju pada Jo yang sama sekali tidak merasa bersalah.
“Saya tergantung mereka saja. lagi pula hubungan mereka berdua juga sudah lama. Memang tidak baik menunda-nunda hal baik.” Jawab Papa Chelsea.
“Ada apa ini? kenapa dengan mudahnya Papa menjawab seperti itu.” Batin Chelsea terus berperang. Mau membantah juga sepertinya bukan waktu yang tepat. Justru akan semakin melukai perasaan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Jo. Apa sebaiknya dia juga berpura-pura menerima lamaran itu? Setelah itu baru akan mencari cara untuk membuka kebusukan Jo di depan kedua orang tuanya.
“Chelsea ngikut saja dengan keputusan Papa.” Jawab Chelsea cukup tenang dan tersenyum sinis menatap Jo.
Kedua pasang orang tua itu juga terlihat sangat senang dan lega mendengar jawaban Chelsea. Setelah itu Jo membuka kotak bludru berisi cincin indah bertahtakan berlian. Kemudian menyematkannya di jari manis Chelsea.
***
__ADS_1
Di waktu yang sama di tempat berbeda, tampak dua orang pria yang sejak tadi saling diam. Reno tidak akan menyerah untuk membuat Chiko bicara mengenai siapa orang yang telah memukul wajahnya sampai babak belur seperti itu. Reno tidak percaya karena jawaban Chiko kalau ia dipukul preman saat sedang menolong orang kecopetan.
“Lebih baik kamu pulang saja, Ren! Bukannya Raffael sedang sakit?” usir Chiko.
“Aku tidak akan pulang sebelum kamu menceritakan semuanya padaku, Ko!” tolak Reno.
“Apa ini semua ada hubungannya dengan Chelsea?” lanjut Reno mencoba menebak.
Chiko tidak menjawab. Dia sangat lelah dan ingin istirahat, karena pukulan yang diberikan Jo membuat tulang di wajahnya nyeri.
“Berengsek!! Sepertinya baj***an harus diberi balasan yang setimpal.” Umpat Reno.
“Jangan lakukan apa-apa, Ren! Lagipula Chelsea juga sudah menolakku.” Jawab Chiko akhirnya. Pria itu menceritakan risalah hatinya pada Reno mengenai penolakan Chelsea.
“Kamu sudah tahu bukan, kalau aku lah yang menyuruh orang untuk membuka kebusukan baj***an itu dan menunjukkan pada Chelsea. Harusnya ini peluang besar buat kamu untuk mendekatinya. Lalu apa alasan Chelsea menolak kamu, Ko?”
Chiko tampak semakin frustasi. Dia mengacak rambutnya dengan kasar. Apa mungkin ia menceritakan kejadian buruk itu pada sahabatnya? kalau tidak, bagaimana dia mencari solusi dari masalah itu.
“Aku… aku telah merenggut mahkotanya tanpa sengaja.” Jawab Chiko terbata.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1