
“Yang kenceng dikit dong, Bi!”
“Aku lelah, Ren!”
“Agak naik dikit, biar enak.”
“Kamu yang enak, aku yang capek.” Keluh Abi saat merasakan tangannya sudah pegal karena sejak tadi diminta untuk memijit punggung Reno. Tidak hanya itu, tadi sebelumnya Abi juga diberi hukuman untuk memasak makan malam. sebenarnya sudah biasa ia memasak untuk Reno, namun kali ini Reno minta dibuatkan makanan yang lain dari pada yang lain. Alhasil Abi kini tinggal merasakan capeknya.
Saat Reno mulai merasa pijatan Abi semakin melemah, pria itu segera berbalik badan. Hingga membuat Abi terkesiap. Dan dengan sekali gerakan, Reno berhasil memindah tubuh Abi berada di atasnya.
“Ren!” ucap Abi gugup.
“Kenapa, hem?” tanyanya sambil menatap intens mata Abi. Sedangkan yang ditatap memilih memalingkan muka.
Berada di atas tubuh Reno yang sedang bertelanjang da-da membuat wajah Abi memanas. pria yang usianya enam belas tahun lebih tua darinya itu mempunyai postur tubuh yang begitu sempurna. Tak ayal Abi juga mengaguminya.
“Bi, lihat mataku!” ucapnya sambil meraih kepala Abi.
“Aku capek, Ren!” balasnya dengan menghindar, lalu mencoba bangun. Namun sayang, Reno lebih cepat menekan tengkuk Abi dan meraup bibir manis Abi.
Mereka berdua saling berpagut, bertukar saliva. Baik Reno maupun Abi sama-sama menikmati kegiatan itu. Ciuman yang awalnya lembut itu berubah menjadi menuntut. Reno menginginkan yang lebih dari sekedar ciuman bibir. Namun lagi-lagi ia berusaha menekan kuat egonya dan mengakhiri kegiatan itu.
Reno merubah posisi Abi menjadi berada di sampingnya. Namun dia masih memeluk erat tubuh Abi dan menciumi wajahnya.
“Tidurlah! Kamu capek, bukan?” ucapnya dengan lembut dan meletakkan kepala Abi di dadanya.
Abi seperti terhipnotis sekaligus rasa kantuknya sudah menyerang, dia hanya bisa diam dan menurut dengan perintah Reno.
Akhirnya malam itu mereka berdua tidur berpelukan di kamar Reno.
__ADS_1
**
Keesokan harinya, sesuai yang sudah dijanjikan oleh Reno, pagi ini Abi sudah bersiap pulang ke rumah orang tuanya. Abi sangat senang sebentar laagi akan bertemu dengan keluarganya.
“Ingat pesanku, Bi?” tanya Reno ingin memastikan bahwa Abi masih ingat dengan pesannya semalam saat nanti menginap di rumah orang tuanya.
“Iya. Aku ingat. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan keluargaku.” Jawab Abi dengan tersenyum.
Tak lama kemudian mereka berdua berangkat. Reno berangkat lebih pagi, karena akan mengantar Abi terlebih dulu. Mengingat perjalanan ke rumah mertuanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh menit. Belum lagi nanti akan terjebak kemacetan.
Sesuai perkiraan, tepat empat puluh menit perjalanan, mobil Reno sudah tiba di di depan gerbang rumah mertuanya. Setelah itu, seorang satpam penjaga membukakan pintu gerbang dan mempersilakan mobil Reno masuk.
Abi segera turun dari mobil dan berjalan lebih dulu memasuki rumah. sedangkan Reno mengikutinya dari belakang.
Rumah terlihat sepi, namun mobil Ayahnya masih tampak di garasi rumah. kalau kedua adik Abi mungkin sudah di sekolahan masing-masing.
Grep
“Viana?” ucap Lidia yang masih tak percaya bahwa yang memeluknya saat ini adalah anak perempuannya.
“Iya, Mama. Ini aku Vian.” Jawab Abi dan kembali memeluk mamanya.
Sedangkan Reno memilih duduk di ruang tengah, sesuai perintah Abi. Pria itu sebenarnya buru-buru pergi ke kantor. namun rasanya tidak pantas jika tidak bertemu dengan mertuanya terlebih dulu.
Reno melihat sekeliling ruangan. Rumah yang sama besarnya dengan rumahnya. Hanya saja Reno bisa merasakan kalau rumah mertuanya terlihat ramai. Berbeda dengan rumahnya yang selalu sepi.
Di sekitar ruangan rumah Sean sama sekali tidak ada foto keluarga yang tertempel di sana. Hanya ada lukisan abstrak yang dipajang di dinding, dan beberapa ornament lainnya.
“Nak Reno!” sapa Sean yang tampak terkejut saat baru saja menuruni tangga.
__ADS_1
Reno mengangguk hormat menyambut Sean. Dan tak lama kemudian Abi datang bersama mamanya dari dapur.
Reno mengatakan maksud kedatangannya karena ingin mengantar Abi pulang dan mengijinkannya tinggal selama dua hari. Reno juga memberikan alasannya kalau tidak bisa ikut tinggal karena pekerjaan.
Sean dan Lidia pun mengerti. Namun, saat Reno akan berpamitan, Sean mengajak pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
Saat ini kedua pria itu sedang duduk saling berhadapan di ruang kerja milik Sean. Sean hanya meminta pada Reno agar menjaga Abi.
Meskipun Sean sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya, namun dia sangat penasaran apa alasan mertuanya meminta dirinya untuk menjaga Abi. Walau Reno tahu kalau sumber masalahnya berasal dari Tuan Alteza.
“Salah satu investor perusahaan menarik sahamnya hanya karena mengetahui Viana sudah menikah.” Ucap Sean.
“Sejak dulu Ayah sudah mengenal akrab dengan Tuan Alteza. Beliau pernah mengatakan kalau ingin menjodohkan Viana dengan putranya. Ayah kira saat itu hanya bercandaan. Namun setelah mengetahui Viana sudah menikah, Tuan Alteza terlihat marah dan menarik sahamnnya kembali.” Lanjut Sean.
Reno tampak murka mendengar itu semua. Walaupun sampai saat ini dia masih meragukan perasaannya sendiri terhadap Abi, namun dia tidak rela jika Abi dimiliki orang lain.
“Ayah tenang saja. Reno akan terus menjaga Viana.” Ucap Rno dengan yakin.
Sean tersenyum bangga mendengar ucapan Reno. Dia semakin yakin kalau Reno adalah suami yang terbaik buat Viana. Tidak seperti Keano yang sangat arogan.
Setelah membicarakan hal penting itu, Reno pun berpamitan untuk berangkat ke kantor. dia juga meminta agar selama Abi tinggal di sini, dilarang pergi kemana-mana.
“Masalah Tian belum selesai, kini ada lagi.” gumam Reno saat sedikit frustasi.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️