
“Hai Ren, sendirian aja nih? Sampai kapan kamu betah menyendiri?”
“Tenang saja. kalau aku sudah membawa pasangan, pastinya akan membuatmu menangis. Maksudku membuat kaum adam menangis.” Sahut Reno dengan senyum sinis.
Sedangkan Keano hany berdecak kesal. Entah apa yang Reno ucapkan baru saja agak membuatnya tidak nyaman. Namun dia tidak mengerti dengan maksud ucapan itu tadi.
Setelah cukup berbasa-basi, Reno memilih menjauh dari Keano. Dia sangat malas jika harus berlama-lama melihat wajah sombong Keano.
Reno sedang berpikir bagaimana caranya agar Keano tak semakin berulah untuk mendapatkan Abi. Mengingat pria itu merupakan salah satu putra orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis. Mungkin akan sedikit sulit untuk memberikan peringatan pada Keano agar tidak berani mendekati Abi. Tapi, melihat saat ini Keano sedang bersama wanita yang cantik, yang entah itu kekasih sungguhan atau hanya sekedar teman kencan, rasanya Reno harus menggunakan wanita itu untuk menyingkirkan Keano atau membuat pria itu pergi jauh dari negara ini dan memastikannya tidak bisa kembali lagi.
Setelah mendapatkan ide untuk menyingkirkan Keano, Reno segera pergi dari acara pesta itu. Dia tidak berpamitan pada si pemilik acara, karena Reno masih dibuat kesal dengan tindakan Tuan Alteza yang semena-mena terhadap mertuanya.
Ya, itulah Reno yang dasarnya memiliki sifat pendendam. Meskipun dalam hal ini yang banyak dirugikan adalah Sean, tapi dia ikut menaruh dendam pada Tuan Alteza, khususnya Keano yang berusaha mendapatkan Vibi-nya.
*
Setelah keluar dari hotel dimana pesta tadi diadakan, Reno tak lantas mengemudikan mobilnya ke rumah. rasanya waktu masih sore jika berada di rumah di jam seperti ini. apalagi Abi tadi mengatakan ingin istirahat. Jadi Reno tidak mau mengganggu perempuan itu.
Reno menghentikan mobilnya di tepi jalan yang tidak terlalu ramai. Dia menatap kosong pada jalanan. Pikirannya berkecamuk. Terlebih dengan masalah hatinya yang tak pernah usai. Sebenarnya sangat simple, jika Reno mau melupakan masa lalunya. Lebih tepatnya orang masa lalunya yang belum pasti ia temui. Tidak hanya itu, Reno juga masih belum puas jika dendamnya belum terbalaskan. Setidaknya membuat orang itu juga merasakan kehilangan seperti apa yang dulu ia rasakan.
Reno tidak menyadari dengan sikapnya seperti itu, telah membuat hati Abi sakit. Dia seolah memberikan harapan besar pada hubungan rumah tangganya yang masih semu itu. Bahkan Reno sendiri yang mengatakan berusaha membuka hatinya untuk Abi, dengan tidak lagi menganggapnya sebagai pelayan seperti dulu. Namun ia juga tak kunjung mengungkapkan perasaannya yng sesungguhnya. jika memang benar-benar hatinya tidak bisa buat Abi miliki, kenapa tidak dilepaskan saja.
“Tidak!!” Reno berteriak frustasi lalu menelungkupkan kepalanya pada setir mobil.
__ADS_1
Dia tidak bisa melepaskan Abi. Sampai kapanpun tidak akan pernah. Apalagi begitu banyak pria di luaran sana yang sangat menginginkan perempuan itu. Lalu apa salahnya jika mulai dari sekarang mencoba untuk fokus dengan Abi. Memberikan perhatian kecil yang bisa membuat dia bahagia. Tidak lagi memberikan harapan palsu.
Reno teringat dengan ucapan Chiko tadi siang. Tidak mau kehilangan Abi, tapi masih ada orang lain yang ada dalam hatinya.
“Maafkan aku, Va! Mungkin perlahan aku akan melupakan kamu. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Vibi daripada terus memikirkan kamu.” Gumam Reno.
Setelah hatinya cukup tenang, Reno kembali menyalakan mesin mobilnya. Mulai hari ini ia akan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Abi. Walau tidak bisa secara langsung melupakan orang masa lalunya.
Sesampainya di rumah, Reno masuk ke dalam kamarnya. Dia berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya dulu sebelum tidur. Namun tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Dia lupa kalau tadi melewatkan makan malamnya. Sedangkan di pesat, dia tidak makan apa pun.
Akhirnya Reno turun ke lantai bawah. Mungkin saja masih ada makanan di sana, setidaknya bisa mengganjal perutnya.
Ternyata harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Mungkin Abi tadi tidak memasak atau dia memasak cukup untuk dirinya sendiri karena tahu si Tuan rumah akan pergi.
“Kamu belum tidur, Bi? Ini sudah malam loh.” Tanya Reno mengalihkan pertanyaan Abi.
“Aku terbangun karena tiba-tiba perutku lapar.” Jawab Abi sambil berlalu dan membuka lemari es.
“Jadi kamu juga lapar? Ah maksudku kamu sejak tadi belum makan malam?” tanya Reno tapi Abi hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban.
Reno pun akhirnya duduk. Dia melihat apa yang akan dilakukan oleh Abi. Karenha memang tidak ada makanan apapun di atas meja makan.
“Kamu baru pulang? lalu cari apa? Katakan saja apa yang kamu butuhkan?” tanya Abi sambil sibuk dengan beberapa bahan makanan.
__ADS_1
Sedangkan Reno melihat gaya bicara Abi seperti itu membuatnya tidak nyaman. Abi seolah sedang berbicara dengan orang lain saja. sudah tidak begitu peduli seperti biasanya. Apakah perempuan itu benar-benar menghindarinya dan mencoba melupakan sesuatu yang pernah terjalin sebelumnya.
“Iya. Aku baru pulang. kamu buat apa sih, Bi?” tanya Reno berusaha mendekatkan diri.
“Aku hanya buat nasi goreng saja.” jawabnya singkat.
“Kalau kamu nggak keberatan, tambahin porsinya buat aku, Bi!”
Setelah mengucapkan itu, Abi sama sekali tak menyahut. Dia masih sibuk dnegan penggorengan dan beberapa bumbu masakan. Sedangkan Reno hanya diam melihat Abi sibuk.
Harum aroma nasi goreng buatan Abi membuat perut Reno semakin keroncongan. Dan tak lama kemudian Abi menyiapkan dua piring di atas meja, yang Reno yakini itu buat Abi dan dirinya.
“Cukup satu piring berdua saja, Bi!” ucap Reno lalu menyingkirkan piring yang satunya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1