
Malam ini baik Reno maupun Abi hanya ingin tidur saling berpelukan saja untuk melepas rindu. Tidak ada kegiatan yang lainnya, karena memang Abi masih dalam masa nifas.
Tidak menunggu lama, akhirnya mereka tidur terlelap menuju mimpi yang indah bersama-sama. Begitu juga dengan Raffael. Bayi yang belum genap satu bulan itu tampak nyenyak sekali dalam mimpinya.
Keesokan paginya Abi terbangun dari tidurnya saat merasa di sampingnya tidak ada Raffael. Wanita yang mendapat julukan Mama muda itu shock. Dia takut jika Raffael jatuh atau ada seseorang yang sengaja mengambilnya. Namun keterkejutan itu berangsur hilang saat melihat pintu balkon yang sudah terbuka dimana ada seorang pria bertelanjang dada sedang menggendong bayi mungil itu.
Abi tersenyum hangat melihat suaminya tampak menikmati menggendong Raffael. Dan kali ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan dimana suaminya telah kembali ke pelukannya.
Waktu masih sangat pagi. bahkan sinar matahari belum sepenuhnya keluar dari peraduannya. Namun Reno sudah semangat untuk menjemur Raffael.
“Masih terlalu pagi untuk menjemur Raffael. Yang ada dia kedinginan.” Ucap Abi menghampiri suaminya.
“Pagi, Sayang! Bagaimana tidur kamu semalam?” jawab Reno mengalihkan pembicaraan.
“Nyenyak. Sangat nyenyak seperti malam-malam sebelumnya dimana ada maling yang nekat masuk kamar untuk memelukku.” Jawab Abi menyindir suaminya.
Reno hanya terkekeh. Memang benar beberapa hari setelah kabar kematian palsunya, ia nekat menyambangi kamar istrinya untuk ikut tidur dan memeluknya. Karena Reno tahu kalau Abi benar-benar terpuruk dengan kabar itu. Jadi ia berusaha menenangkannya dengan cara seperti itu walaupun dianggap istrinya hanya mimpi.
“Maaf!” hanya itu yang diucapkan Reno.
Abi mengambil Raffael dari gendongan suaminya. karena dia khawatir bayinya akan kedinginan. Meskipun dalam pelukan Papanya bayi itu sudah merasakan kehangatan.
“Maafkan aku! Setelah ini dan selamanya, aku akan selalu berada di sisi kalian berdua. Hanya kalian berdualah tujuan hidupku.” Ucap Reno sambil memeluk Abi yang tengah menggendong Raffael.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berada di balkon, akhirnya mereka berdua kembali masuk ke kamar. Abi akan membuatkan Raffael susu, karena sepertinya dia sudah haus. Sedangkan Reno menemani sang buah hati yang baru saja diletakkan di atas tempat tidur.
“Sayang, apa Raffael tidak minum ASI?” tanya Reno.
Abi menghentikan kegiatannya yang sedang menuang air ke dalam botol susu Raffael. Ada rasa bersalah dalam dirinya sebagai seorang ibu yang tidak bisa memberikan ASI terhadap bayinya. Namun semua itu beralasan. Karena keadaannya yang tertekan dan stress lah yang membuat ASI-nya terhambat.
“Maaf. Semenjak kejadian itu aku tidak lagi bisa memberikannya ASI. Karena keadaanku yang tertekan dan stress hingga membuat ASI-ku terhambat.” Jawab Abi dengan raut sedih.
Seketika Reno menghampiri istrinya. Memeluknya dengan erat. Dia merasa bersalah atas pertanyaan yang terlontar baru saja. tidak hanya itu, bahkan penyebab Raffael tidak bisa minum ASI adalah karena dirinya.
“Maafkan aku, Sayang. Semua ini memang gara-gara aku. aku tidak mempermasalahkannya lagi, asal anak kita tumbuh dengan sehat.” Ucap Reno menenangkan istrinya.
Abi mengangguk lalu mengurai pelukannya. Dia segera menyelesaikan membuat susu lalu memberikannya pada Raffael. Benar saja, bayi itu sepertinya memang sedang kehausan. Terlihat dari cara minumnya saja sangat semangat.
“Apapun yang kamu lakukan, aku selalu mendukungmu. Nanti aku temani pergi ke dokter untuk berkonsultasi.” Timpal Reno.
**
Kini Reno dan Abi sudah keluar dari kamar mereka. Raffael juga sudah terlihat segar dengan bau khas bayi yang sangat membuat siapa saja ingin menciumnya.
Mereka bersiap untuk melakukan sarapan bersama. Tuan Hadiata juga baru saja keluar dari kamarnya. Pria itu tampak lebih baik setelah melihat anak dan menantunya berkumpul bersama seperti sekarang ini. apalagi sudah ada malaikat kecil yang hadir di tengah-tengah mereka.
“Dad, ayo kita makan dulu!” ajak Abi sambil menyiapkan menu makanan yang baru saja datang. Karena Abi memesan melalui aplikasi online.
__ADS_1
Tuan Hadiata hanya mengangguk. Setelah itu pandangannya tertuju pada anaknya, yaitu Reno yang sedang sibuk dengan Raffael. Tuan Hadiata ikut bahagia melihat anaknya yang pada akhirnya hidup bahagia dengan wanita pilihannya.
Setelah semuanya siap, Reno meletakkan Raffael ke dalam stoller, lalu ia segera sarapan bersama istri dan Daddy-nya.
“Apa Daddy benar-benar akan pulang ke luar negeri?” tanya Abi tiba-tiba, karena ia ingat dengan ucapan mertuanya semalam sebelum mengetahui drama yang dibuat Reno.
“Iya. Tapi nanti, Daddy masih ingin menikmati kebersamaan Daddy bersama cucu Daddy yang tampan ini.”
“Kenapa nggak tinggal di sini saja, Dad?” kali ini Reno yang bertanya.
“Kamu tahu sendiri kan, Ren kalau Daddy tidak bisa meninggalkan rumah. kalian saja yang sering-sering datang ke sana nanti jika Daddy sudah memutuskan untuk pulang.”
Reno hanya mengangguk karena ia juga tidak bisa memaksakan kehendak Daddy-nya. Atau mungkin semua orang tua selalu seperti itu, yang tidak bisa jauh dengan rumahnya sendiri. Walaupun istrinya sudah lama meninggal, tetap saja merasa bahwa istrinya selalu berada di rumah itu.
“Minggu depan Daddy akan tinggal beberapa hari di rumah Alex. Sekalian Daddy juga ingin berziarah ke makam sahabat Daddy sekaligus mertua kamu.” Lanjutnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️