Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 116 Keringat Dingin


__ADS_3

Keesokan paginya Reno sudah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu sedang menunggu sahabatnya dengan tidak sabar. Namun yang ditunggu tak merasa bersalah sedikitpun.


Tak lama kemudian Chiko memasuki ruang kerja Reno. Pria itu terlihat lesu seperti semalam saat terakhir Reno melihatnya. Chiko berpikir bayangan rasa bersalahnya pada Chelsea sudah menghilang setelah dipakai tidur semalaman. Namun nyatanya justru dalam mimpinya ia bertemu dengan perempuan itu.


“Ada hal penting apa, Ko? Apa kamu sudah mendapatkan hasil dengan pencarian kamu kemarin?” tanya Reno mengabaikan sikap jutek sahabatnya.


Chiko menghembuskan nafasnya pelan. Rasanya urusan dengan Reno saat ini lebih penting daripada memikirkan perasaannya yang tidak jelas.


“Aku sudah menemukan identitas pria yang hendak menusukmu di bandara saat itu. Aku juga sudah mengetahui siapa orang yang menyuruhnya.” Ucap Chiko.


“Benarkah? Siapa?” tanya Reno penasaran.


Chiko mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan beberapa foto mengenai pelaku penusukan itu. Termasuk foto seseorang yang diduga kuat dalang dari semuanya.


Reno mengernyitkan keningnya bingung. Pasalnya dia sama sekali tidak mengenal pria yang menusuknya. Apalagi dalangnya. Dia berpikir keras, ada hubungan apa pria itu dengannya hingga ingin menghabisi nyawanya.


“Aku benar-benar tidak mengenal dia, Ko.” Ucap Reno lalu memberikan ponselnya pada Chiko.


Chiko membuka folder baru lagi untuk memberitahu siapa pria yang menjadi dalang penusukan itu. Di sana tampak foto seorang pria tua sedang di bandara bersama pria tadi. Reno membelalakkan matanya saat mengetahui siapa pria tua itu.


“Tuan Alteza?”


“Ya. Kamu benar. Dan pria yang sedang bersamanya adalah Keano.” Ucap Chiko dan membuat Reno tidak percaya.


“Dia melakukan operasi wajah untuk menutupi kasus skandal yang sudah ia perbuat akibat ulahmu. Dan Tuan Alteza sudah lama mendengar kabar pernikahan kamu dengan Viana. jadi dia mencari tahu tentang skandal yang dibuat anaknya ternyata ada campur tangan kamu.” Ucap Chiko panjang lebar.

__ADS_1


“Jadi dia mau balas dendam?” tanya Reno dan dijawab anggukan kepala oleh Chiko.


“Musuh kamu bukan orang sembarangan. Ingat, Tuan Alteza pastinya juga tidak terima dengan perbuatan kamu. Apalagi kalian sempat berhubungan baik. Lebih baik sekarang kamu pikirkan caranya untuk melawan Keano ataupun Tuan Alteza.” Ucap Chiko panjang lebar.


Reno memijit keningnya. Baru saja ia merasakan bahagia atas rumah tangganya. Kini sudah datang lagi masalah. Reno sangat mencintai Abi. dia akan melakukan apapun demi menjaga istrinya agar tidak jatuh ke dalam pelukan Keano.


“Ya sudah, terima kasih banyak, Ko. Kamu bisa kembali ke ruanganmu sekarang. aku akan memikirkan caranya untuk menghadapi baj***ang itu.” Ucap Reno kemudian.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa hari persalinan Abi sudah semakin dekat. Wanita yang sebentar lagi akan mendapat julukan Mama muda itu sedang harap-harap cemas menati kelahiran sang buah hati. Antara senang dan juga takut. Karena ini adalah pertama kalinya bagi dia menghadapi persalinan. Terlebih dia menginginkan persalinan normal.


“Rileks, Sayang! Bukankah aku sudah sering membukakan jalan lahir untuk anak kita. Jadi aku sangat yakin kalau dia akan lahir dengan lancar.” Ucap Reno berusaha menenangkan istrinya.


Abi melempar bantal tepat mengenai muka Reno. Bisa-bisanya di saat sedang cemas seperti ini, Reno malah bercanda hal absurd seperti itu. Sedangkan Reno hanya terkekeh pelan.


“Kamu jangan takut, aku akan selalu berada di sisimu. Aku juga akan setia mendampingimu saat proses persalinan nanti.” Ucap Reno dan mampu membuat sudut bibir Abi tertarik ke atas membentuk senyuman.


Beberapa hari kemudian tiba-tiba saja Abi merasakan perutnya sangat kencang. Lalu disusul dengan rasa tak nyaman di perut bagian bawah. Dan kebetulan malam ini dia tidur sendirian, karena suaminya tadi sudah berpamitan akan pulang sedikit larut. Ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.


Semakin lama rasa nyeri itu semakin terasa. Akhirnya Abi memilih keluar kamar dan mendatangi kamar adiknya yang ada di lantai bawah. Sedangkan kamar Mama dan Ayahnya di lantai atas.


“Ada apa, Kak?” tanya Kavi saat baru saja membuka pintu kamarnya.


Kavi terkejut melihat wajah sang kakak sedang menahan sakit sambil sesekali meringis.

__ADS_1


“Kav, tolong panggilin Mama. Perutku sangat sakit.” Ucap Abi sambil menahan sakit.


Kavi segera berlari menaiki tangga untuk membangunkan Mamanya. Tak lama kemudian Sean dan Lidia datang. Mereka berdua cukup tenang menghadapi anaknya yang akan melahirkan. Lidia menanyakan keberadaan Reno, dan Abi menjawab kalau suaminya belum pulang. akhirnya Sean segera membawa Abi pergi ke rumah sakit, karena tidak tega melihat kesakitan Abi.


Beberapa saat kemudian Abi sudah tiba di rumah sakit. Petugas rumah sakit langsung membawanya masuk ke ruang bersalin. Lidia yang pada akhirnya menemani Abi melahirkan, karena sampai saat ini Reno tidak bisa dihubungi.


Sean yang menunggu di luar juga terus menghubungi menantunya. Namun ponsel Reno sedang berada di luar jangkauan. Lalu ia mencoba menghubungi besannya, namun tak mendapat jawaban. Mungkin Tuan Hadiata sedang tidur, mengingat sekarang sudah pukul sepuluh malam.


Di dalam ruangan bersalin sejak tadi Abi mencari keberadaan suaminya. Lidia pun terus meyakinkan kalau semuanya baik-baik saja. dan Reno masih sibuk.


“Ma, aku takut terjadi sesuatu dengan Reno.” Lirihnya.


“Sayang, tenanglah. Sebentar lagi cucu Mama akan lahir. Jadi fokuslah dulu dengannya.” Ucap Lidia, karena saat ini Abi sudah mengalami pembukaan tujuh.


Tak lama kemudian rasa nyeri itu kembali datang. Bahkan rasanya semakin sakit, hingga membuat Abi merintih kesakitan dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2