
Reno sengaja menggoda Abi dengan ucapan seperti itu agar Abi tak lagi mengingat kejadian semalam. Meskipun sebenarnya Reno ingin mengulanginya lagi.
Sedangkan Abi berlalu begitu saja setelah memberikan cubitan pada perut Reno. Abi melangkah menuju dapur ingin membuat sesuatu yang bisa ia gunakan untuk makan siang.
“Kamu lapar, Bi? Aku pesankan makanan saja.” ucap Reno tanbg ternyata mengikuti Abi pergi ke dapur.
“Nggak usah. Aku akan memasak sendiri.” Jawabnya cuek dengan tangan sibuk mencari bahan makanan.
“Jangan dipaksakan, Bi kalau masih sakit.”
“Cukup, Ren! Lebih baik kamu keluar saja dari dapur.” Usir Abi karena tidak nyaman saat Reno lagi-lagi membahas hal sensitif itu.
“Maaf!” ucap Reno dan memilih diam menunggu Abi memasak.
Beberapa saat kemudian hasil olahan masakan Abi selesai. dia menyajikan makanan itu menjadi dua porsi. Untuk dirinya dan juga Reno. Namun saat makanan itu sudah ada di atas meja, Reno menjadikan dua porsi itu menjadi satu.
“Aku ingin kita makan sepiring berdua.” Ucap Reno tak ingin dibantah.
Abi pun hanya bisa pasarah. Bahkan Reno kini mendekatkan kursi sejajar dengan Abi. Setelah itu dia mulai menyendok makanan dan menyuapi Abi. Lagi-lagi Abi menerima suapan itu dengan pasrah.
Seharian ini Reno sama sekali tidak menyentuh pekerjaannya. Dia sudah menyerahkan tugasnya pada sekretarisnya. Dan beruntungnya juga hari ini tidak ada meeting dengan klien. Hingga Reno memiliki banyak waktu untuk menemani Abi.
Sore ini Abi sedang duduk di balkon. Dia sedang sendiri karena Reno baru saja ijin untuk ke ruang kerjanya sebentar. Lagi pula Abi juga tidak memaksa pria itu untuk terus menempel. Dan Reno juga tidak perlu meminta ijin segala. Tapi dengan sikapnya yang seperti itu, Abi mulai paham bahwa pria itu sebenarnya baik hati dan sangat peduli terhadap orang yang disayanginya.
Sebenarnya Abi hari ini sangat bosan terus berada dalam apartemen. Tapi kalaupun pergi dia juga masih merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Dan juga dia takut jika Reno tidak lagi mengijinkan keluar setelah insiden kemarin.
Akhirnya Abi memilih masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan tak lama kemudian Reno masuk. Sepertinya pria itu juga sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Apa kamu butuh sesuatu, Bi? Katakan saja? mungkin saja kamu ingin keluar untuk jalan-jalan.” Tanya Reno sambil mengusap lembut mahkota Abi yang tergerai indah.
“Apa benar kamu mengijinkan aku untuk keluar lagi?” tanya Abi tak percaya.
__ADS_1
“Aku tidak melarangmu pergi, asal itu denganku dan jangan pernah mempunyai niat untuk meninggalkanku.” Jawab Reno dengan menatap intens mata Abi.
“Memangnya kenapa?” tanya Abi senagaj ingin tahu.
“Benar kamu tidak tahu alasanku meminta kamu untuk tidak pergi meninggalkanku?” tanya Reno dan mendapat jawaban gelengan kepala dari Abi.
“Karena aku tidak mau kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku.”
Jawaban yang cukup membuat hati siapapun berbunga jika mendengarnya. Walaupun tidak secara langsung Reno menyatakan perasaan cintanya pada Abi.
“Aku ingin sekali keluar, tapi aku masih tidak nyaman dengan ini…” ucap Abi dan memelankan suaranya di akhir kalimat.
Reno yang tahu maksudnya, dia segera memeluk perempuan itu dengan erat lalu menciumi kepalanya. Masih ada rasa bersalah yang membekas dalam hati Reno akibat perbuatannya semalam. Dia juga berusaha menebusnya dan ingin menyembuhkan rasa ketidak nyamanan itu.
“Maafkan aku, Sayang!” gumamnya lembut.
Abi mendongak menatap wajah Reno dan ingin memastikan panggilan apa yang baru saja keluar dari mulut Reno.
Cup
Abi gelagapan mendapat kecupan singkat dari Reno. Dan Reno kembali melakukannya. Namun kali ini bukan sekedar kecupan, melainkan lumattan lembut yang berhasil membuat Abi terbuai. Lama-lama ia juga ikut membalasnya.
“Stop, Ren!” ucap Abi dengan sedikit mendorong da-da Reno saat ia hampir kehabisan pasokan oksigen.
“Maaf. Bagaimana kalau kita makan malam keluar, yang tidak jauh dari apartemen ini.” tawar Reno kemudian. Karena dia tidak ingin kelepasan selagi Abi masih belum mengijinkannya lagi.
“Baiklah.” Jawab Abi.
Akhirnya Abi menyetujui ajakan Reno.
Kini mereka berdua sudah berada di sebuah restaurant yang tak jauh dari apartemen. Tak lama kemudian datang seorang pelayan yang membawa buku menu makanan yang ingin dipesan Reno. Setelah memesan makanan, mereka berdua diminta untuk menunggu sebentar.
__ADS_1
“Viana!” panggil seorang pria menghampiri meja Reno dan Abi.
Reno yang melihat lebih dulu pria itu. Pria yang kemarin sempat membuatnya meradang. Ya, dia adalah Xander.
“Om Xander juga di sini?” tanya Abi terkejut.
“Iya. Om baru saja selesai meeting dan kebetulan melihat kamu di sini.” jawab Xander tanpa mempedulikan keberadaan Reno.
Setelah itu Abi mempersilakan Xander untuk bergabung, walau awalnya pria itu menolak dengan alasan akan segera kembali ke hotel.
“Oh iya, Om. Kenalakan dia Reno, suami Viana. Maaf baru mengenalkan pada Om. Ren, kenalkan dia Om Xander.” Ucap Abi.
Reno mengangguk sambil mengulurkan tangannya. tapi sayangnya Xander tak menyambut uluran tangan Reno. Justru memberikan tatapan datar. Akhirnya Reno menarik kembali tangannya dan tidak peduli dengan sikap dingin Xander.
Abi melihat reaksi kedua pria itu hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan. Dia sangat tahu dengan sikap Xander.
“Kamu berapa lama tinggal di sini, Vi?” tanya Xander.
“Lima hari lagi kami akan pulang.” itu bukan jawaban Abi, melainkan Reno.
“Sepertinya Om harus segera kembali. Sampai bertemu lagi, Vi!” pamit Xander lalu memeluk Abi dan lagi-lagi tidak peduli dengan Reno.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1