
Reno pun dengan cepat meraih ponselnya. Bukan ponsel yang ia pakai biasanya, melainkan ponsel khusus untuk meretas cctv. Ya, Reno akan meretas cctv mall untuk mengetahui keberadaan Abi dan Tian. Dia berharap Tian tidak bertemu dengan Abi di dalam sana. Sedangkan dirinya sengaja tetap berada di dalam mobil karena memang belum saatnya menampakkan wajahnya di depan Tian.
Setelah berhasil meretas cctv mall, Reno mencari keberadaan Abi. Dia langsung mencari keberadaan outlet pakaian. Karena Abi pasti ada di sana.
Benar saja, terlihat Abi sedang memilih beberapa pakaian yang sesuai dengan keinginannya. Sesekali ia mencobanya ke ruang ganti. Setelah puas berbelanja pakaian, Abi terlihat berjalan menuju outlet pakaian dalam. Reno menelan ludahnya kasar saat melihat Abi mulai memilih beberapa br_a dan cela_na dal_am. Reno jadi membayangkan Abi memakai dalaman dan berdiri tepat di hadapannya, sambil berpose menggoda.
“Sial!!” lagi-lagi Reno mengumpat sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu Reno mencoba kembali berkonsentrasi.
Tidak butuh waktu lama Abi berbelanja keperluan pribadinya. Setelah itu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Reno.
Reno masih terus memantau Abi yang hendak menuju basement. Meskipun dia lega karena Abi tidak bertemu dengan Tian, namun ia harus tetap memastikannya.
Deg
Jantung Reno berdegup cepat saat melihat Abi yang tiba-tiba saja dipeluk Tian. Reno mengepalkan tangannya kuat sambil menyaksikan rekaman cctv itu.
Meskipun terlihat Abi meronta dan berusaha lepas dari pelukan Tian, namun tetap saja membuat Reno marah. Sedangkan Abi sendiri tampak berlari menjauhi Tian setelah berhasil menginjak kaki pria itu.
Tuk tuk tuk
Abi mengetuk kaca mobil Reno saat Reno tak kunjung membukakannya.
Klik
Setelah terbuka, Abi segera masuk dan meletakkan barang belanjaannya di jog belakang. Reno hanya melirik Abi sekilas dan menunggu perempuan itu bicara. Tapi sayang, Abi yang masih terkejut dengan keberadaan Tian baru saja, membuatnya enggan mengatakan pada Reno.
“Sudah selesai?” tanya Reno berbasa-basi.
“Sudah. Kita langsung pulang?” tanya Abi balik. Namun Reno tak menjawabnya. Dia kecewa dengan Abi yang tidak berkata jujur mengenai pertemuannya dengan Tian. Padahal dia sudah berusaha membuka hatinya untuk perempuan itu.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Abi terlihat ketakutan, karena Reno mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Bahkan wajahnya yang menatap lurus ke depan terlihat auranya sedang marah.
“Ren, aku takut!" Ucap Abi dengan lirih. Namun Reno mengabaikannya.
Reno masih terus mengemudikan mobilnya dengan kencang. Dia ingin memberi pelajaran pada Abi karena tidak terbuka dengan dirinya. Padahal Abi memang tidak ingin membahas tentang Tian, yang menurutnya hanya masa lalu.
“Reno, stop!!!!” Abi terpaksa berteriak. Karena dia benar-benar takut.
Ckiiiiittttttt
Reno seketika menginjak remnya sangat dalam. Dan hal itu sengaja ia lakukan. Untung saja Abi memakai sabuk pengamannya. Kalau tidak, mungkin kepalanya sudah menjadi korban kebrutalan Reno.
Tubuh Abi berkeringat dingin meskipun ac mobil masih menyala. Jantungnya berdegup kencang saat melihat amarah Reno, yang ia sendiri tidak tahu penyebabnya.
“Ap…apa kamu mau membunuhku, Ren?” tanya Abi dengan gugup sambil menahan isakannya.
“Kamu tahu apa alasanku melakukan ini semua?” tanya Reno dan Abi hanya menggeleng.
“Kamu kira aku tidak tahu kalau kamu baru saja bertemu dengan mantan kekasih kamu. Bahkan dia baru saja memelukmu.”
Abi menggelengkan kepalanya lagi. kenapa sikap Reno seperti ini. apakah pria ini benar-benar sudah mencintainya. Dan dia cemburu karena melihat Tian yang memeluknya. Tiba-tiba saja hati Abi menghangat.
“Maaf. Bukan aku tidak mau bicara jujur padamu, Ren. Bagiku Tian hanya masa laluku. Aku juga tidak tahu saat tiba-tiba dia memelukku.” Ucap Abi dengan suara lembut.
“Bukankah kamu juga sudah tau kalau aku tadi menginjak kakinya lalu pergi meninggalkannya?”
Reno tidak bisa menjawab. Dia hanya menelungkupkan kepalanya di atas setir mobil. Rasanya dia sudah keterlaluan hingga membuat Abi ketakutan.
“Sudah ya? Jangan marah lagi! aku minta maaf.” Ucap Abi sambil mengusap lembut kepala Reno.
__ADS_1
“Aku sudah membuatmu ketakutan, Bi. Aku sangat emosi tadi.”
“Nggak apa-apa. Aku paham. Mungkin itu salah satu tanda kalau kamu men-mmphhhh”
Reno segera membungkam mulut Abi dengan bibirnya. ciuman yang selalu membuat Abi terbuai dan sudah menjadi candu bagi Reno. Cukup lama mereka berdua saling memagut dalam kenikmatan. Hingga akhirnya Reno harus menyudahinya.
“Kita pulang ya?” ajaknya kemudian dan Abi mengangguk.
Setelah sampai rumah, Reno berdecak kesal saat melihat mobil Chiko sudah terparkir di halaman rumahnya. Menurut Reno, keberadaan Chiko sangat mengganggu waktunya dengan Abi.
“Hei, Ren! Akhirnya kamu pulang juga. dari tadi aku meneleponmu tapi tidak kamu angkat.” Sapa Chiko, lalu tersenyum pada Abi.
“Ada apa? Aku tidak punya janji denganmu.” Tanya Reno dengan nada sinis.
“Aku hanya ingin mengatakan kalau pemotretan Viana dimajukan besok sore. Jadi besok pagi kita sudah harus berangkat.” Jawab Chiko.
“Ya sudah kalau begitu pulanglah!” usir Reno dan seketika membuat Chiko marah.
***
Sementara itu saat ini terlihat seorang pria sedang duduk di sebuah café. Pria itu sedang menghubungi seseorang untuk memberikan tugas yang sangat penting.
“Besok pagi dia akan melakukan pemotretan. Ikuti terus dan saat lengah, bawa dia kepadaku. Ingat, jangan sampai sedikitpun kamu melukai wanitaku.” Pungkasnya sebelum menutup panggilan itu.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️