
Mereka berdua kembali bertempur dalam kenikmatan. Rasanya tidak ada kata bosan bagi keduanya untuk terus mengulang kegiatan panas itu. Abi yang di awal pernikahannya dulu sangat pasif, kini dia semakin pintar dalam menyeimbangi permainan suaminya.
“Mau kemana?” Nafas Abi tersengal saat tiba-tiba tubuhnya seperti melayang.
Reno hanya mengulas senyum tipis sebagai jawaban. Dia menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Abi mengira kalau percintaannya akan selesai dan Reno mengajaknya mandi bersama. Ternyata pikirannya salah. Reno mulai menyalakan kran shower hingga keduanya basah kuyup. Keadaan mereka berdua juga masih sama-sama polos.
Reno kembali memberikan sentuhan pada seluruh tubuh istrinya tanpa ada yang tertinggal. Apalagi di bagian dua aset berharga Abi yang menjadi tempat favorit Reno. Pasalnya dua buah itu semakin membesar semenjak Raffael kembali minum ASI.
Abi lagi-lagi tidak bisa menolak sentuhan lembut suaminya. dia menerimanya dengan pasrah dan senang hati. Bahkan dia juga menurut dengan instruksi dari suaminya untuk saling memuaskan.
Decapan, desahann, dan lenguhan panjang yang keluar dari bibir mereka berdua beriringan dengan suara gemericik air shower. Setelah sama-sama mencapai puncak, Abi meminta suaminya mandi terlebih dulu setelah itu keluar dari kamar mandi. dia khawatir jika Raffael bangun tidak ada yang menolongnya. Dan jika mereka berdua mandi bersama, Abi tidak yakin kalau akan lebih cepat selesai.
Benar saja, saat Abi baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat Raffael sedang menangis dalam gendongan Papanya. Bahkan tidak biasanya bayi itu terus menangis meskipun sudah digendong Papanya. Mungkinkah Raffael sedang merajuk karena jatah ASInya dihabiskan oleh Papanya?.
“Sayang, maafkan Mama, ya Nak!” Abi mengambil alih Raffael dari gendongan Reno.
“Apa dia menangis sejak tadi, Ren?” tanyanya sambil membuka kimononya untuk menyusui Raffael.
“Baru saja. tumben-tumbenan juga dia menangis meskipun sudah aku gendong.”
Beberapa saat kemudian tangis Raffael reda. Justru dia terlihat sangat semangat meminum susu dari sumbernya. Reno yang melihatnya hanya terkekeh. Menurutnya Raffael memang tadi sedang merajuk karena jatah ASInya ia habiskan.
*
__ADS_1
Kini hari keberangkatan Reno tiba. Semua barang-barang bawaan mereka sudah dipersiapkan Abi sejak kemarin. Bu Mira, baby sitter Raffael juga turut diajak oleh Reno, karena ia tidak ingin membuat istrinya kelelahan mengurus Raffael di sana. Reno juga akan memberikan kejutan bulan madu pada istrinya, jadi peran Bu Mira nanti yang menjaga Raffael.
Mereka pergi menuju bandara dengan diantar oleh Chiko. Walaupun sebenarnya Reno biasa pergi mengendarai mobilnya sendiri.
“Hati-hati kalian di sana. Salam buat Daddy!” pesan Chiko sebelum sahabatnya berangkat.
“Kamu tenang saja. aku titip kantor selama kepergianku. Maaf, selalu merepotkanmu, Ko!”
“Kamu ini bilang apa sih, Ren? Sudah, cepat sana nanti kalian ketinggalan pesawat!”
Chiko menyempatkan diri untuk mencium keponakannya yang sangat menggemaskan itu. Rasanya dia sudah merindukan Raffael, padahal berangkat saja belum.
“Aku tunggu kabar baiknya, Om Chiko!” bisik Abi sebelum berlalu meninggalkan Chiko.
Chiko tampak bingung dengan kalimat Abi. namun ia tidak begitu mempedulikannya.
Rupanya liburan Reno di luar negeri lama. Hal itu disampaikan oleh Reno pada Chiko melalui panggilan telepan dua hari yang lalu. Alasannya karena Daddy-nya yang meminta Reno dan anak istrinya agar lebih lama di sana. Chiko juga tidak keberatan, selama pekerjaan kantor masih bisa ia tangani. Walau selama dua hari ini ia sangat sibuk, dan sering lembur.
Hari ini Chiko kembali lembur. Ia melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menujukkan pukul sembilan malam. sedangkan Yoga sudah ia suru pulang sejak jam tujuh tadi.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Chiko segera keluar kantor. kali ini ia tidak pulang ke apartemen. Melainkan ke Club. Sepertinya memang pria yang berstatus duda itu butuh hiburan, karena sudah lama juga ia tidak mendatangi tempat hiburan itu.
Beberapa saat berkendara, Chiko sudah sampai Club langganannya dulu bersama Reno. Namun kali ini ia datang sendiri.
Chiko berjalan menuju meja bartender lalu memesan minuman favoritnya. Dia sengaja tidak memesan tempat khusus. Mungkin nanti jika dia akan mengambil salah satu wanita untuk menemaninya menghabiskan malam panjangnya.
__ADS_1
satu gelas, dua gela, tiga gelas minuman berkadar alkohol sedang itu telah Chiko tenggak. Kepalanya sudah mulai sedikit pusing, namun kesadarannya belum hilang.
Saat Chiko meminta bartender untuk menuangkan minuman lagi, tiba-tiba mata Chiko menangkap sosok perempuan yang selama ini singgah di hatinya.
“Tidak mungkin Chelsea datang ke tempat seperti ini.” gumamnya lalu menenggak minuman itu dengan sekali tegukan.
Chiko mengucek matanya, dan memang benar kalau perempuan itu adalah Chelsea. Chelsea juga terlihat seperti sedang mengendap-endap. Tapi buru-buru Chiko menepis dugaan buruk itu, dan menyangkal kalau perempuan itu bukan Chelsea.
Karena kepalanya semakin pusing dan tidak ingin jatuh di tempat ini karena mabuk, Chiko segera mendatangi manager Club untuk memesan kamar khusus sekaligus wanita yang akan menemaninya malam ini.
“Kasih kuncinya padaku! aku tunggu pesananku. Kepalaku sudah sangat pusing.” ucap Chiko dan bergegas menuju kamar yang sudah ia pesan.
Sesampainya di kamar, Chiko tidak langsung tidur. Dia masih berusaha kuat sambil menunggu pesannya datang.
Bruk
Tiba-tiba saja terdengar suara keras dari balik pintu kamarnya. Chiko mengira kalau wanita pesannya sengaja mengetuk pintu dengan cara mendobrak. Tanpa berpikir panjang, Chiko membukanya lalu menarik wanita itu ke dalam dan mulai melanjutkan aksinya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Othor selipin kisah Chiko Chelsea ygy,..
Happy Reading‼️