
Usai makan malam itu Reno mengajak Chiko masuk ke ruang kerjanya. Reno juga membiarkan Abi untuk melanjutkan makannya yang sempat terjeda tadi.
“Bagaimana keadaan kantor?” tanya Reno.
“Semuanya aman terkendali. Minggu depan akan ada jadwal pemotretan untuk Viana. Melanjutkan pemotretan yang dulu tertunda. Tapi pemotretan itu dilakukan di luar kota dengan view yang berbeda.”
Reno terdiam mendengarkan penjelasan Chiko. Jika pemotretan dilakukan di luar kota, otomatis mereka akan menginap. Dan itu juga bukan ide buruk, meski Reno sedikit tidak rela melihat lekuk tubuh Abi disorot kamera.
“Baiklah. Atur saja semuanya. Besok aku juga sudah mulai ke kantor.”
“Apa kamu sudah baikan? Lalu bagaimana dengan Viana?”
“Maksud kamu apa?” tanya Reno dengan nada naik satu oktaf.
“Sensistif sekali kamu, Ren. Selama ini bukannya Viana kamu mintain bantuan untuk mengerjakan pekerjaan kantor. jika kamu besok masuk, apa dia juga ikut datang ke kantor?”
“Tidak. Dia akan tetap di rumah. tapi aku tetap mengirimkan tugas untuknya.” Jawab Reno. Karena selain Reno masih belum siap membawa Abi ke kantor, dia juga tidak ingin mengenalkan Abi pada semua karyawannya yang pastinya sangat penasaran.
Chiko mengangguk paham. Dia juga bernafas lega. Setidaknya jika Abi tidak ikut ke kantor, perempuan itu cukup aman dari berbagai macam pertanyaan atau ancaman bahaya. Entahlah sepertinya Chiko juga mempunyai firasat tidak baik.
Setelah itu Chiko menyampaikan beberapa hal mengenai hasil meetingnya dengan beberapa klien Reno. Reno pun sangat berterima kasih pada sahabatnya itu yang sudah banyak membantunya selama ia beristirahat di rumah.
“Ren, beberapa hari yang lalu Gavin datang mencarimu.” Ucap Chiko tiba-tiba.
“Oh iya. Dia sudah mengirim pesan padaku. dan aku bilang kalau aku sedang tidak enak badan.”
“Apa dia datang kesini?” tanya Chiko penasaran.
“Nggak mungkin lah. Dia tidak tahu alamat rumahku meskipun kita sudah lama kenal. Dan apa kamu lupa kalau tak seorang pun yang aku ijinkan datang kesini kecuali kamu dan Yoga.”
__ADS_1
“Termasuk Viana juga kan?” sahut Chiko sambil mengerlingkan mata.
Reno hanya mendengus kesal walau kenyataannya memang benar. Kemudian Chiko menanyakan hubungan pertemanan Reno dengan Gavin. Chiko juga sudah mencium gelagat aneh dari pria itu, walau sampai saat ini dia sendiri masih belum menemukan bukti yang pernah diceritakan oleh Abi dulu.
“Aku dan Gavin berteman hanya sebatas rekan kerja. Ya walau sedikit akrab dibandingkan dengan rekan kerjaku yang lainnya. Memangnya kenapa?”
“Oh begitu. Nggak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja.”
Reno hanya diam. Dia juga tidak mau membahas banyak tentang Gavin yang hanya sebatas rekan kerja.
Cukup lama Reno dan Chiko berada di ruang kerja, tanpa terasa waktu sudah menujukkan pukul sepuluh malam. akhirnya Chiko berpaamitan pulang.
Setelah mengantar Chiko pulang sampai depan pintu, Reno kembali masuk dan bersiap menaiki tangga yang menuju kamarnya. Sekilas Reno melihat pintu kamar Abi yang tertutup. Apakah perempuan itu sudah tidur atau belum. Entah kenapa Reno rasanya ingin sekali menyambangi kamar Abi dan ingin tahu apa yang dilakukan di jam seperti ini.
Tanpa sadar kaki Reno bergerak mendekat ke kamar Abi. Setelah sampai di depan pintu, Reno terkejut dengan ulahnya sendiri. Bisa-bisanya dia berada di sini. apa jadinya jika Abi tiba-tiba saja membuka pintu kamar. akhirnya Reno berbalik badan kembali masuk ke kamarnya sebelum Abi membuka pintu kamarnya.
“Astaga!”
Kedua insan itu sama-sama terkejut. Abi baru saja masuk setelah beberapa saat yang lalu berdiam diri di taman belakang rumah. dan dia sangat terkejut saat melihat Reno sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Dan saat Abi hendak bertanya, justru Reno berbalik badan, hingga keduanya sama-sama terkejut.
“Kamu buat orang keget saja!” ucap Reno dengan datar.
“Maaf! Apa Tuan membutuhkan sesuatu?” tanya Abi.
“Iya. Aku butuh kamu menemani tidurku.” Tentu saja itu ucapan Reno dalam hati.
“Aku hanya ingin mengatakan kalau minggu depan ada pemotretan di luar kota. Persiapkan dirimu!” jawab Reno dan segera berlalu meninggalkan Abi.
Sementara Abi tampak semakin bingung melihat sikap aneh Reno yang tidak biasanya mendatangi kamarnya. Bahkan hanya untuk alasan seperti tadi. seperti tidak ada hari lain saja untuk menyampaikan acar pemotretan itu.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Reno sudah bersiap pergi ke kantor. dan sekarang dia sedang duduk di ruang makan sambil menunggu Abi selesai menyiapkan makanan untuknya.
Menurut Abi ini masih terlalu pagi untuk jam sarapan. Karena selain masakannya belum selesai, dia juga tidak nyaman jika sedang memasak ditunggui seperti ini oleh majikannya. Abi juga merutuki kebodohannya karena bangun kesiangan, hingga ia baru bisa memasak setelah menyiapkan kebutuhan pribadi Reno.
Sedangkan Reno yang posisi duduknya saat ini menghadap langsung ke Abi, sejak tadi dia terus memperhatikan perempuan itu yang sedang sibuk dengan alat masaknya. Ya, walaupun tangannya berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Aww
Antara buru-buru dan salah tingkah karena merasa diperhatikan Reno, Abi sampai tidak sadar tangannya terkena tumpahan kuah sup yang masih panas.
Reno pun bergerak cepat menghampiri Abi. Dia bisa melihat langsung pergelangan tangan Abi yang tampak memerah.
“Kamu ini ceroboh sekali! Duduklah!” gerutu Reno sambil membimbing Abi agar duduk.
Reno segera mencari obat luka bakar untuk dioleskan ke permukaan kulit Abi yang terbakar tadi. setelah mendapatkan obat itu, Reno segera mengoleskannya.
Dalam jarak yang begitu dekat, tanpa sadar Abi mengagumi wajah tampan Reno.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1