Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 159 Merindukan Sentuhan


__ADS_3

Keesokan harinya keadaan Chelsea sudah pulih. Karena memang dia tidak mengalami luka fisik, melainkan luka psikis akibat perbuatan mantan kekasihnya. Namun sejauh ini, setelah dua hari dirawat di rumah sakit, keadaannya sudah membaik. Namun, ia tak lantas pulang ke rumahnya, melainkan menemani Chiko yang masih membutuhkan perawatan.


Kedua orang tua Chelsea juga tidak bisa mencegah keinginan anaknya. mereka mengijinkan Chelsea menemani Chiko. Kedua orang tua Chelsea tahu kalau Chiko adalah pria baik yang telah menyelamatkan anaknya, sampai rela terluka.


“Harusnya kamu pulang dan beristirahat di rumah saja.” ucap Chiko.


Bagaimana pun juga Chiko masih mengkhawatirkan keadaan Chelsea. Dia teringat jelas bagaimana keadaan kekasihnya itu saat ditemukan dalam kamar apartemen Jo.


“Aku sudah baikan. Om tenang saja. Om juga di sini sendirian tidak ada yang menemani.” Jawab Chelsea dengan tangan yang sibuk mengupas buah jeruk lalu disuapkan pada Chiko.


Semenjak uangkapan perasaan mereka masing-masing, Chelsea sudah tidak canggung lagi pada Chiko. Begitupun dengan Chiko.


“Terima kasih banyak, Chelsea. Aku sungguh beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Maafkan atas semua kesalahanku selama ini. aku seringkali mengucapkan kalimat pedas padamu.”


“Sudahlah, Om. Jangan dibahas lagi.” jawab Chelsea.


Chiko hanya mengangguk. Setelah itu ia meminta tolong pada Chelsea untuk diambilkan minum. Sebelumnya Chelsea membantu Chiko membenahi posisinya yang tadinya berbaring, berganti duduk. Ya, Chiko masih merasakan sedikit pusing jika dipakai bergerak.


Chelsea membantu Chiko untuk duduk dengan cara memeluk tubuh pria itu, lalu membantu mengangkatnya pelan. Otomati jarak mereka berdua sangat dekat. Bahkan posisi yang saling berhadapan seperti itu membuat mereka berdua saling merasakan hembusan nafas masing-masing.


Setelah berhasil mengubah posisi Chiko duduk, Chelsea berniat langsung melepas pelukannya, namun Chiko menahannya, hingga membuat Chelsea mendongakkan kepalanya. Tiba-tiba saja Chelsea merasa bibirnya basah. Setelah itu Chelsea membelalakkan matanya setelah sadar kalau saat ini matanya sedang beradu pandang dengan Chiko. Lalu Chiko mulai menyapu lembut bibir Chelsea yang masih tertutup rapat itu. Dia tidak berani bertindak lebih jauh lagi. cukup dengan Chelsea membiarkan dirinya menciumi bibir manis itu sudah membuat Chiko bahagia.


“Sepertinya aku sudah tidak haus lagi.” ucap Chiko sambil tersenyum tipis setelah melepas ciumannya.


Chelsea yang masih terdiam terpaku seketika sadar, lalu ia menjauhkan wajahnya dengan wajah Chiko. Sungguh dia sangat malu sekali. Bisa-bisanya sempat terbuai dengan ciuman itu. Bahkan Chelsea merutuki kebodohannya saat menginginkan ciuman yang lebih.

__ADS_1


Chelsea segera menuang air ke dalam gelas, setelah itu memberikannya pada Chiko. Dia ingat kalau tadi memang Chiko merasa kehausan.


“Nih Om minumnya!” Chelsea memberikan segelas air putih pada Chiko.


“Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku sudah tidak haus lagi setelah merasakan manis bibir kamu.” Jawab Chiko dengan senyum menggoda.


Tanpa menjawab, Chelsea meletakkan kembali gelas berisi air minum itu dengan wajah cemberut. Ternyata Chiko hanya mengerjainya.


“Maaf, kesinilah!” Chiko menarik tubuh Chelsea hingga terduduk di samping brankar.


“Setelah aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit, secepatnya aku akan melamar kamu. Apa kamu bersedia?”


Wajah Chelsea memerah. Dia tersipu malu sekaligus tersentuh dengan kesungguhan Chiko. Setelah itua ia menjawabnya dengan anggukan kepala.


***


“Ren, apa kamu nggak ke rumah sakit untuk melihat keadaan Om Chiko?” tanya Abi.


“Tidak. Dia sudah ada yang menemani. Aku tidak mau jadi obat nyamuk.” Jawab Reno sambil sibuk menggendong Raffael.


“Ah iya, aku lupa kalau Chelsea pasti yang menemani Om Chiko. So sweet sekali meraka.” Ucap Abi sambil membayangkan keromantisan pasangan baru itu.


“Apa kamu juga ingin berduaan denganku seperti yang Chiko dan Chelsea lakukan saat ini?” tanya Reno menggoda seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.


Bukannya Abi menjawab, dia justru memegangi perutnya sambil meringis seperti kesakitan. Sontak saja Reno terkejut bukan main. Dia sangat panik lalu meletakkan Raffael ke dalam stollernya dan berusaha membantu istrinya.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Reno dengan cemas. Dia juga berteriak memanggil Bu Mira agar membawa Raffael masuk, sedangkan dirinya akan membawa Abi masuk ke dalam kamar.


Reno menggendong Abi dan membawanya masuk ke dalam kamar. dia segera menghubungi dokter untuk memeriksa istrinya. Namun tiba-tiba saja Abi mencegahnya. Lalu ia menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Reno bingung.


Abi menuntun tangan suaminya dan meletakkannya di atas perut. Reno pun semakin bingung. Selain itu wajah istrinya juga tidak lagi merasa kesakitan seperti beberapa menit yang lalu.


“Dia hanya ingin kamu usap begini saja.” Ucap Abi.


Sumpah demi apapun Reno tercengang mendengar kalimat istrinya. Dia juga merasa seperti dikerjai oleh istrinya.


“Sebenarnya kamu atau anak kita yang sedang mengerjai Papanya, hem?” bisik Reno dengan nada kesal dibuat-buat.


“Memang benar, Ren. Aku tidak bohong. Ya sudah kalau kamu nggak maua mengusapnya.” Kini justru Abi yang kesal.


“Baiklah, maafkan aku.” Reno segera berbaring di samping Abi lalu mengusap perut rata istrinya. Abi sebenarnya juga sangat merindukan sentuhan suaminya, namun dia belum boleh melakukan hubungan badan. Alhasil dia mengerjai suaminya. dan bisa-bisanya Reno percaya begitu saja.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2