Bukan Sugar Daddy

Bukan Sugar Daddy
Ch 31 Sangat Nyaman


__ADS_3

Reno segera melepas pagutannya saat menyadari bahwa perbuatannya salah. Bukan dia tidak berselera dengan Abi, namun lagi-lagi dia masih meragukan perasaannya sendiri.


Reno mengusap sisa saliva yang menempel di bibir Abi. Dia juga melihat deru nafas Abi yang tak beraturan.


“Menurutlah padaku! dan jangan pernah pergi dariku!” ucapnya dengan nada lembut dan Abi mengangguk.


Kini Abi sudah kembali ke posisi semula. Wajahnya masih memerah. Dia masih canggung untuk berdekatan dengan Reno lagi. sedangkan Reno yang mengerti apa yang dirasakan oleh Abi hanya diam menahan senyumnya.


Akhirnya Reno tidak membawa Abi pulang. melainkan membawa Abi pergi ke suatu tempat. Abi yang tahu itu bukan arah jalan pulang ke rumah Reno, dia hanya menurut saja dan tidak mau banyak bertanya.


Reno membawa Abi pergi jauh dari keramaian kota. Tepatnya ke pesisir pantai yang cukup sepi di jam kerja seperti ini.


Setelah mobil Reno berhenti, pria itu melepas kancing lengan kemejanya lalu menggulungnya sampai siku. Duh Abi yang melihat tampang cool Reno menjadi salah tingkah.


“Ayo!” ajak Reno saat melihat Abi masih duduk manis di jog mobil.


Abi pun segera turun dan mengikuti langkah kaki Reno yang berjalan bertelanjang kaki. Entah sejak kapan Reno melepas sepatunya. Yang pasti sepatu pria itu ditinggal di mobil. Abi pun ikut melepas sandalnya.


Di sisi pantai itu ada beberapa rumah bambu yang memang disediakan untuk wisatawan beristirahat. Dan Reno memilih duduk di sana. Karena dia tidak mungkin mengajak Abi duduk di tepi pantai di saat perempuan itu sedang kurang fit.


“Apa kamu lelah?” tanya Reno.


“Tidak, Tuan.”


Tak lama kemudian datang seseorang dengan membawa naampan yang berisi dua buah kelapa muda yang sudah dibuka. Tadi Reno sudah memesan pada penjual es kelapa mud aitu, namun dia memesannya tidak memakai es batu.


“Minumlah! Itu sangat baik buat tubuh kamu.” Ucap Reno.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan.”


Setelah sama-sama meminum air kelapa muda itu, keduanya saling diam dengan tatapan lurus ke hamparan pasir putih yang sangat luas. Abi sendiri bingung mau bicara apa, karena takut jika salah berbicara dan membuat Reno marah.


“Apakah kamu selalu begitu kalau sakit?” Reno lebih dulu membuka obrolan.


“Begitu? Maksudnya gimana, Tuan?’


“Selalu memanggil ayah kamu dan memeluknya.” Jawab Reno yang tanpa sadar menjawab pertanyaan Abi yang tadi pagi sempat dibuat terkejut saat tidur dengan memeluk Reno.


“Ehm, iya. Sewaktu masih kecil dulu kalau saya sedang sakit, Ayah selalu memeluk saya, Tuan.”


“Lalu semalam aku ini kamu anggap Ayah kamu?” tanya Reno dengan kesal.


Dia tidak terima jika semalam penuh Abi tidur memeluknya dan menganggap dirinya adalah ayah Abi.


Mereka berdua kembali berbincang-bincang. Namun lebih didominasi oleh Reno yang memberikan banyak pertanyaan mengenai keluarga Abi. Abi pun menjawab semuanya. Menceritakan tentang keluarganya, dimana dia adalah satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara. Reno pun mengangguk paham. Pantas saja saat sakit semalam Abi terlihat lebih manja.


“Lalu kenapa kamu memilih untuk menjadi model? Sedangkan Ayah kamu seorang pengusaha besar dan sukses.” Tanya Reno.


“Sejak dulu saya memang sudah tertarik dengan dunia modelling, Tuan. Awalnya Ayah dan Mama juga tidak setuju, namun akhirnya mereka menyetujui itu.”


“Kamu masih lebih baik, bisa memiliki keluarga yang utuh dan juga saling menyayangi.” Ucap Reno tiba-tiba dengan dengan suara yang sangat berbeda, dan terkesan sendu.


“Memangnya kemana kedua orang tua, Tuan Reno?” Abi memberanikan diri bertanya.


“Mommy sudah tiada sejak aku masih kecil. Tinggal Daddy saja yang sekarang tinggal di luar negeri. Aku tidak memiliki saudara”

__ADS_1


“Apakah Tuan tidak merindukan Daddy Tuan yang tinggal berjauhan seperti ini?”


“Ada sesuatu hal yang membuatku sampai saat ini belum lagi bertemu dengan Daddy. Sudahlah, itu juga tidak penting untuk kamu ketahui.”


Abi pun mengangguk tanpa ingin bertanya lebih jauh mengenai kehidupan Reno. Seperti sekarang saja Abi bersyukur karena Reno perlahan mulai membuka diri. Entahlah, rasanya Abi juga merasa sangat nyaman dengan kedekatan ini. namun ia juga tidak berani berharap lebih pada sosok pria matang yang sedang duduk di sebelahnya itu.


Setelah keduanya terdiam, tiba-tiba saja Reno menoleh ke arah Abi. Abi menjadi gelagapan saat menatap mata Reno. Lalu ia segera memalingkan muka.


“Apakah badan kamu masih sakit?” tanya Reno sambil memegang kening Abi.


“Tidak, Tuan. Saya sudah sembuh.” jawabnya dengan gugup.


“Tapi wajah kamu merah. Apakah kamu gugup berada di sampingku seperti sekarang ini?” tanya Reno to do poin.


“Tuan, lebih baik kita pulang saja. apakah Tuan Reno tidak ke kantor hari ini?” tanya Abi sambil bergegas berdiri menghindari tatapan Reno.


Abi berjalan menjauhi Reno. Sedangkan Reno hanya tesenyum melihat tingkah lucu Abi. Sebenarnya Reno juga sangat nyaman dengan kedekatan ini. dan selama Abi masih berada dalam genggamannya, dia tidak akan membiarkan Abi pergi darinya.


“Vibi, tunggu!” Reno mempercepat langkahnya mengejar Abi yang sudah berjalan menjauh.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2